Pilihan +INDEKS
Gunung Karang 1778 MDPL; Atap Banten yang Garang dan Dikeramatkan
Dibandingkan gunung yang lain, Gunung Karang termasuk rendah; 1778 mdpl. Tapi jangan salah, begitu dijalani, gunung ini memberikan sensasi lebih, bukan karena ketinggiannya, tapi karena bentuk dan banyaknya petilasan yang dikeramatkan kepadanya.
Laporan: Kunni Masrohanti, Banten
PERJALANAN ke Gunung Karang yang terletak di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, memang tidak terencana sejak awal. Apalagi hari-hari terasa melelahkan karena padatnya kegiatan saat mengikuti rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2026 yang dipusatkan di Kota Serang. Tapi, gunung yang terlihat jelas dari kolam renang Hotel Aston, tempat kegiatan HPN dipusatkan itu, terasa memanggil-manggil dari jauh. Jiwa petualang pun muncul.
Tanpa banyak cerita, tim Sunting.co.id menggali informasi tentang terkait Gunung Karang, baik dari teman-teman di sekitar Kota Serang, maupun dari media digital lainnya. Usai acara puncak HPN 9 Februari 2026, perjalanan ke Gunung Karang dimulai dengan menggunakan sepedamotor hasil pinjaman sahabat, Abah Ochim.
Sekitar 40 menit, perjalanan sampai di beskem Sukarena atau pendakian Gunung Karang via Kampung Guha, Desa Sukarena, Kecamatan Ciomas, Kota Serang. Meski gunung ini berada di Kabupaten Pandeglang, tapi bisa via Kota Serang atau jalur Sukarena.
Beskem Dengan Sarana Lengkap
Sesampainya di beskem Sukarena sekitar pukul 16.00 WIB, teman-teman yang dihubungi sebelumnya sudah menunggu. Ada Rian, Habib, Yahya alias Koyon, Madi, dan beberapa kawan lainnya, termasuk gadis-gadis Sukarena yang memang setiap hari berkumpul di beskem. Mereka semua tergabung dalam kelompok pemuda setempat.
Beskem Sukarena cukup lengkap. Ada dua pondok bersantai terbuat dari bambu dan kayu, salah satunya bertingkat. Registrasi para pendaki selalu dilakukan di tempat ini. Di sebelahnya lagi ada bangunan batu memanjang, tanpa pintu, tanpa tembok di bagian depan. Bangunan ini disiapkan khusus untuk istirahat para pendaki yang bermalam sebelum pendakian dimulai pada pagi harinya, atau setelah turun dari pendakian. Di sebelahnya lagi ada dua kamar mandi yang bersih dengan air yang jernih.
‘’Atap bangunan tempat istirahat yang itu rusak karena tertimpa durian, belum sempat diperbaiki,’’ kata Rian mengawali cerita malam itu sambil menunjuk ke arah bangunan dimaksud.
Memang, satu pohon durian yang besar berada di antara bangunan-bangunan tadi. Nampak atap bangunan yang ditunjuk Rian compel di bagian depannya. Maklum, musim durian baru saja berlalu. Untuk menghindari binatang masuk dalam bangunan itu, Rian dan pemuda setempat memagarinya dengan bambu.
Persis di bagian depan bangunan kayu terdapat tulisan Base Camp Sukarena serta beberapa info lain, termasuk nama-nama tokoh atau waliyullah yang dipercayai memiliki petilasan di Gunung Karang tersebut. Antara lain, Wali Daham Liang Guha, Syekh Sanghiyang Dora, Nyi Ratu Siti Badariah, Raden Panji Sanghiyang Dora, Raden Wijaya Kusuma Sumur 7, Ratu Dita Pasir Ipis dan masih banyak lainnya.
‘’Beskem ini dikelilingi petilasan para waliyullah, termasuk Wali Daham Liang Guha. Makanya kampung ini dinamakan Kampung Guha. Guha artinya goa, karena memang ada goanya di sini,’’ sambung Rian.
Pendakian via Sukarena tidak mahal. Pendaki hanya dikenakan simaksi Rp25 ribu per orang dan parkir Rp10 ribu. Pendaki menginap gratis, toilet sepuasnya gratis. Bahkan guide pun tidak ditetapkan biayanya. Meski begitu, pelayanan berjalan baik. Pengelola juga ramah dan tidak pelit informasi. Setiap rombongan yang naik juga dibekali HT untuk komunikasi selama pendakian.
Ziarah ke Liang Guha
Menjelang magrib, Habib dan Yahya atau yang akrab disapa Koyon mengajak tim Sunting.co.id ziarah ke Liang Guha; gua yang berada di ujung kampung atau searah jalan ke puncak. Tidak terlalu jauh, atau sekitar 25 menit perjalanan, tim tiba di lokasi setelah melewati jalan setapak dan terus naik ke atas bukit.
Goa yang basah. Air menetes dari tebingnya, tepat di pintu masuk. Goa horizontal dengan kedalaman sekitar 10 meter ini hanya besar di bagian depan. Makin ke dalam makin menyempit. Air jernih juga mengalir dari tengahnya. Ya, sumber air yang dimanfaatkan sehari-hari oleh masyarakat kampung berasal dari sini.
Ada dua aliran air yang terbuat dari pipa dan bambu. Satu aliran mengarah ke bawah atau terus ke kampung. Satu aliran lagi, yang berbentuk pancuran, khusus mengalir ke kolam kecil yang dibuat dari semen. Ada bak yang siap menampung. Ada gayung juga yang siap digunakan oleh para peziarah. Selain untuk berwuduk, di kolam ini peziarah juga bisa mandi atau bersuci.
Dua langkah setelah pintu masuk, atau di samping kolam buatan itu, ada dua petilasan yang ditutup dengan kain putih. Di depan petilasan ini, Habib langsung memimpin doa dan tahlil. ‘’Peziarah juga ada yang bertapa di goa ini,’’ jelas Habib.
Setelah Subuh di Jalur Kebun Cengkeh
Saat ziarah ke Liang Guha, yang terlihat di sepanjang kanan kiri jalur merupakan kebun cengkeh dan melinjo. Hal ini juga terlihat saat pendakian di jalur menuju pos 1 hingga pos 2. Di awal pendakian tidak terlihat karena dimulai setelah subuh. Makin siang, hamparan kebun cengkeh makin terlihat jelas.
Cengkeh tumbuh subur di kawasan ini. Ada yang kecil, sedang, ada juga yang besar dan rimbun. Hijau cengkeh menjadi pesona yang tak biasa. Sayangnya tidak lagi musim buah sehingga aroma rempah kurang terasa.
Selain cengkeh, melinjo juga tumbuh subur. Ada pula pala dan buah-buahan lain. Di sebagian kebun, ada jagung, kunyit, bahkan vanila. Tapi tidak banyak. Jalur tanah yang cukup licin, tetap terasa asyik karena aneka tanaman rempah yang bisa dilihat.
Nama Pos yang Unik, Petilasan di Tengah Jalur hingga Pendakian Ekstrem
Salah satu keunikan Gunung Karang adalah nama-nama yang disematkan pada setiap pos. Selain itu petilasan di tengah jalur, dan jalur pendakian yang ekstrem.
Mendaki ke puncak Gunung Karang serasa menyelesaikan pendidikan dari tingkat dasar hingga sarjana. Pos 1 diberi nama TK alias Tanaman Kontrak. Kata Koyon, seluruh tanaman yang ada di pos 1 hingga pos 2 yang terdiri dari cengkeh dan melinjo, merupakan tanaman kontrak yang boleh diambil hasilnya oleh masyarakat dan dibagi dengan pengelolannya. Tanaman ini hanya ada hingga pos 2 saja.
Pos 2 di ketinggian 1125 mdpl diberi nama SD alias Sanghiyang Dora. Pos 2 merupakan camp area. Lapang dan luas. Bentuk lokasi kempingnya bertingkat. Ada juga pondok atau warung. Dari pos 2 ini, pendaki bisa melihat hamparan awan dan juga perkampungan di bawah, tapi hanya dari sisi selatan gunung saja.
Tidak jauh dari pos 2, pendaki akan bertemu dengan plank nama-nama waliyullah dan dua petilasan, persis di tengah jalur. Di bagian atas plank ada tulisan Keramat, lalu di bawahnya ada nama-nama. Antara lain, Sanghiyang Dora, Seh Bayakut, Raden Wijaya Kusuma, Ratu Nyi Siti Badariah, TB Aria Dillah, Raden Panji, Ratu Nun Kencana, Ki Jubleg, Nyi Jubleg dan Ki Sancang. Di bagian paling bawah ada tulisan Wajib Jarah alias wajib ziarah. Seperti di Liang Guha, petilasan di sini pun ditutupi dengan kain putih.
Pos 3 diberi nama SMP I alias Simpang Pasir Ipis dengan ketinggian 1295 mdpl. Dari pos 2 ke pos 3, jalur semakin mendaki dan curam. Begitu juga dari pos 3 ke pos 4, jalur semakin curam, berakar, dan basah. Kondisi gunung yang basah ini, menjadi rumah bagi makhluk melata seperti pacet.
Pos 4 di ketinggian 1545 mdpl diberi nama SMA alias Selamat Menikmati Alam. Lanjut ke pos 5 dengan ketinggian 1715 mdpl yang diberi nama SI atau Sejati. Menuju pos 5, jalur tidak seterjal dari pos 3 ke pos 4. Tapi lebih basah, melipir di tepi jurang dan banyak jalur sempit, termasuk melintasi pohon tumbang.
Puncak Sumur Tujuh
Dari pos 5 menuju puncak, jalur langsung menurun terjal, sempit seperti dalam parit yang merupakan jalur air. Kemudian naik lagi dan sampailah ke puncak yang dikenal dengan Sumur Tujuh. Ada sumur dengan 7 lubang atau lekukan yang mengitari sekelilingnya.
Sumur ini juga dipagar dengan bambu yang ditutup sekelilingnya dengan kain putih. Hanya beberapa meter di bawah puncak dan Sumur Tujuh, ada musala dan petilasan lain yang diberi atap dan juga dikelilingi kain putih.
Sesampainya di puncak yang basah dan penuh tutupan pohon, tim banyak bertemu dengan pendaki lain, terutama dari jalur Kaduengang, Kabupaten Pandeglang. Kebanyakan ustaz dan para santri. Selain berdoa di atas puncak, mereka juga membawa pulang air Sumur Tujuh di dalam botol atau tempat-tempat khusus lainnya.
‘’Sebetulnya kalau di sini pendaki lebih disebut peziarah, bukan pendaki. Karena yang ke puncak rata-rata memang untuk ziarah,’’ jelas Koyon lagi.
Hujan di sepanjang jalur selama turun, membuat perjalanan sehari itu semakin lambat. Selain mengikuti jalur air yang deras, juga licin, terutama dari pos 2 hingga beskem. Perjalanan yang dimulai 05.30 WIB itu, berakhir kembali di beskem pada pukul 16.30 WIB***
[ Ikuti Sunting.co.id ]
Berita Lainnya +INDEKS
Serunya Festival Hammock 2025 Bersama Laskar Penggiat Ekowisata Riau
KAMPAR (Sunting.co.id) - Sabtu dan Minggu, tepatnya 13 dan 14 Desember 2025, pul.
Banyak Manfaat, Masyarakat Rimbang Baling Minta Program ITHCP Dilanjutkan
KAMPAR (Sunting.co.id) - Masyarakat yang tinggal di kawasan Suaka Margasat.
Air Terjun Lubuk Batang, Hidden Gem yang Mulai Ditinggalkan
PANGKALAN (Sunting.co.id) - Sempat viral di tahun 2018 dan banyak didatangi wisa.
Tim Ekobudpar Kerajaan Rantau Kampar Kiri Gali Potensi Sumber Air Panas di Gunung Sahilan
KAMPAR (Sunting.co.id) - Tim Ekonomi, Budaya dan Pariwisata (ekobudpar) Kerajaan.







