<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Latest Posts</title><link>https://sunting.co.id/</link><description>Latest posts of our site.</description><atom:link href="https://sunting.co.id/rss" rel="self" type="application/rss+xml" /><item><title>PPI Persembahkan ‘’Sebait Puisi untuk Kartini’’, Dihadiri Penyair Antar Negara</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1424/ppi-persembahkan-‘’sebait-puisi-untuk-kartini’’-dihadiri-penyair-antar-negara</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (&lt;/strong&gt;&lt;span style=&quot;color:var(&#45;&#45;WDS&#45;content&#45;external&#45;link);&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sunting.co.id&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;)&lt;/strong&gt; – Penyair Perempuan Indonesia (PPI) menggelar kegiatan dengan judul ‘’Sebait Puisi untuk Kartini’’, Senin (21/4/2026). Kegiatan ini dilaksanakan melalui Zoom Meeting sempena peringatan Hari Kartini tahun 2026. Selain penyair yang bergabung di PPI, kegiatan ini juga terbuka untuk umum. Bahkan PPI menghadirkan penyair antar negara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemantik antar negara tersebut yakni, Sosonjan A Khan dari Brunei Darussalam, Rohaidah Yon dari Malaysia, Heti Palestina Yunani dari Indonesia, Hartinah Ahmad dari Singapura dan Karensa D dari Australia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua PPI, Kunni Masrohanti, menyebutkan, kegiatan tersebut selain sebagai upaya silaturahmi penyair antar negara, juga sebagai refleksi diri bagi para perempuan khususnya penyair perempuan dalam mengisi dan meneruskan perjuangan dan cita&#45;cita Kartini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Masing&#45;masing orang memiliki cara untuk berjuang, memiliki upaya yang berbeda untuk mengisi kemerdekaan atau melanjutkan perjuangan Kartini agar tidak sia&#45;saia, maka inilah salah satu upaya yang dilakukan PPI. ‘’Sebait Puisi untuk Kartini’’ sebagai simbol keutuhan Indonesia dalam satu nafas perjuangan Kartini yang harus terus dilanjutkan,’’ kata Kunni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemantik, selain menyampaikan pemikiran dan gagasan&#45;gagasan tentang giat para Kartini hari ini, juga membacakan puisi. Diskusi dipandu oleh PPI Ayu Yulia Djohan. Dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh penyair perempuan Indonesia dari Sabang sampai Merauke sebagai pertanda akhir dari kegiatan,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para penyair perempuan yang turut membacakan puisi antara lain, Chie Setiawati (Kuningan), Hening Wicara (Riau), Retno Indarsih Soerono (Bekasi), Resti Nurfaidah (Bandung), Mintarsih (Lampung), Jauza Imani (Lampung), Sriningsih Hutomo (Kaltim), Dewi Ningsih (Riau), Rissa Churria (Bekasi), Ule Ceni (Sumbawa), Zuliana Ibrahim (Aceh), Darmawati Mustaqim (Sulsel) dan Devie Matahari (Aceh). (*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/76021515811-whatsapp_image_2026-04-21_at_21.jpeg"/><pubDate>Tue, 21 Apr 2026 14:45:24 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1424/ppi-persembahkan-‘’sebait-puisi-untuk-kartini’’-dihadiri-penyair-antar-negara</guid></item><item><title>Akhmad Munir Soroti Pentingnya Keadilan Informasi bagi Masyarakat Adat di Rakernas AJMAN</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1423/akhmad-munir-soroti-pentingnya-keadilan-informasi-bagi-masyarakat-adat-di-rakernas-ajman</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;BOGOR (Sunting.co.id) &lt;/strong&gt;— Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Akhmad Munir, menekankan pentingnya membangun ekosistem informasi yang lebih adil dan inklusif bagi masyarakat adat di Indonesia. Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Asosiasi Jurnalis Masyarakat Adat Nusantara (AJMAN) yang berlangsung di Imah Gede, Lembur Nusantara, Kota Bogor, Jawa Barat, pada 29–30 April 2026.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam paparannya bertajuk “Jurnalisme Masyarakat Adat: Dari Representasi Menuju Kedaulatan Informasi di Era Platform Digital,” Akhmad Munir menjelaskan bahwa tantangan utama bukan hanya minimnya pemberitaan tentang masyarakat adat, tetapi adanya ketimpangan kuasa dalam proses produksi pengetahuan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurutnya, selama ini media arus utama masih kerap menempatkan masyarakat adat sebagai objek pemberitaan, bukan sebagai subjek yang menyampaikan cerita dan realitasnya sendiri. Hal ini berdampak pada munculnya informasi yang tidak utuh, bahkan cenderung menyederhanakan kompleksitas kehidupan masyarakat adat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Selama ini, persoalan utama bukan sekadar minimnya pemberitaan tentang masyarakat adat, tetapi ketimpangan kuasa dalam produksi pengetahuan,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menambahkan bahwa di era transformasi digital, persoalan tersebut tidak serta&#45;merta hilang. Justru, dinamika baru muncul karena ruang digital bekerja berdasarkan logika platform yang digerakkan oleh algoritma, tingkat keterlibatan (engagement), dan ekonomi perhatian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ruang digital bukan ruang netral, melainkan ruang yang dikendalikan oleh logika platform. Ini membuat tantangan jurnalisme masyarakat adat menjadi semakin kompleks,” jelasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akhmad Munir kemudian menegaskan pentingnya memahami kedaulatan informasi secara lebih utuh, tidak hanya sebatas akses atau produksi informasi semata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kedaulatan informasi adalah hak kolektif masyarakat adat untuk menentukan bagaimana informasi diproduksi, disebarkan, dan dimaknai sesuai nilai dan kepentingan mereka sendiri. Ini tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan mengakses atau memproduksi informasi saja,” paparnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menjelaskan bahwa kedaulatan informasi mencakup tiga lapis utama. Pertama, kedaulatan produksi, yakni siapa yang membuat cerita dan dari perspektif siapa cerita itu disampaikan. Dalam hal ini, masyarakat adat harus menjadi produsen narasi yang berpijak pada pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedua, kedaulatan distribusi, yaitu sejauh mana konten yang dihasilkan komunitas dapat menjangkau publik yang lebih luas. Ketiga, kedaulatan makna atau interpretasi, yakni siapa yang menentukan makna dari sebuah peristiwa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Tanpa ketiganya, masyarakat adat tetap berada dalam posisi subordinat, meskipun aktif di media digital. Cerita akan tetap dibuat oleh pihak luar dengan perspektif dan kepentingan mereka,” tegasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam penutupnya, Akhmad Munir mengajak semua pihak untuk melakukan reposisi cara pandang terhadap masyarakat adat dalam lanskap media dan informasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kita perlu menggeser cara pandang: dari masyarakat adat sebagai objek liputan menjadi subjek produksi pengetahuan. Dari sekadar akses informasi menuju kedaulatan informasi, dari partisipasi digital menjadi penguasaan ruang digital,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menegaskan bahwa jurnalisme masyarakat adat bukan sekadar praktik komunikasi, melainkan bagian dari perjuangan yang lebih luas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Jurnalisme masyarakat adat adalah bagian dari perjuangan mempertahankan ruang hidup, identitas, dan masa depan komunitas. Informasi adalah kekuatan. Kedaulatan informasi adalah masa depan. Biarkan narasi tumbuh dari tanah mereka sendiri,” pungkas Akhmad Munir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rakernas I AJMAN menjadi ruang strategis untuk memperkuat posisi jurnalis masyarakat adat dalam lanskap media nasional, sekaligus mendorong transformasi menuju kedaulatan informasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa Kementerian Komunikasi dan Digital Molly Prabawaty, Sekjen AMAN Rukka Sombolinggi, Ketua Umum AJI Nany Afrida, wartawan senior Kompas Ahmad Arif, serta perwakilan jurnalis masyarakat adat Nees Makuba.&lt;strong&gt;(rls/*)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/67692817457-whatsapp_image_2026-04-29_at_15.jpeg"/><pubDate>Wed, 29 Apr 2026 16:00:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1423/akhmad-munir-soroti-pentingnya-keadilan-informasi-bagi-masyarakat-adat-di-rakernas-ajman</guid></item><item><title>Beginilah Kondisi Gajah&#45;Gajah di Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1422/beginilah-kondisi-gajahgajah-di-flying-squad-taman-nasional-tesso-nilo</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PELALAWAN (&lt;/strong&gt;&lt;span style=&quot;color:var(&#45;&#45;WDS&#45;content&#45;external&#45;link);&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sunting.co.id&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;)&lt;/strong&gt; – &lt;i&gt;Flying Squad &lt;/i&gt;Taman Nasional (TN) Tesso Nilo merupakan pusat berkumpulnya gajah&#45;gajah terlatih beserta pawang&#45;pawangnya &lt;i&gt;(mahout).&lt;/i&gt; Lokasi ini berada di SPTN Wilayah I, Resort Air Hitam/Bagan Limau, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Sesuai pantauan &lt;span style=&quot;color:var(&#45;&#45;WDS&#45;content&#45;external&#45;link);&quot;&gt;&lt;i&gt;Sunting.co.id&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;, Selasa (17/3/2026), saat ini ada 7 gajah yang menghuni tempat tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gajah&#45;gajah tersebut terlihat dijaga dan dirawat oleh &lt;i&gt;mahout&#45;mahout&lt;/i&gt; yang sudah terlatih pula. Sejak awal tempat ini memang difungsikan untuk gajah&#45;gajah patroli sebagai upaya pencegahan konflik satwa, terutama menggiring gajah liar yang keluar dari kawasan hutan TN Tesso Nilo agar kembali masuk ke dalam hutan. Ada 7 gajah yang menghuni tempat ini sekarang. Gajah&#45;gajah itu bernama Indro, Lisa, Ria, Imbo, Tesso, Harmoni dan Domang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelumnya ada Rahman yang kemudian ditemukan mati karena diracun dengan kondisi gading hilang sebelah. Ada Indro. Ada juga lisa dengan anak&#45;anaknya yakni Imbo, Nela, Rimbani, Riu, dan Tari. Tapi, dari 5 anak Lisa ini, hanya tinggal Imbo yang masih hidup. Selebihnya mati karena sakit. Ada juga Ria dengan anak&#45;anaknya, yakni Tesso, Harmoni, Domang dan Tino. Tapi Tino kemudian juga mati karena sakit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Sebetulnya lumayan banyak gajah di &lt;i&gt;Flying Squad &lt;/i&gt;ini, tapi kemudian banyak yang mati. Terutama anak Lisa. Sering melahirkan tapi anaknya yang hidup hanya satu, Imbo,’’ kata Erwin Daulay, &lt;i&gt;mahout&lt;/i&gt; senior di &lt;i&gt;Flying Squad&lt;/i&gt; tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tujuh gajah tersebut saat ini dijaga oleh 13 &lt;i&gt;mahout&lt;/i&gt; dan 1 dokter hewan. Mereka menjalankan tugasnya masing&#45;masing. Mulai menjaga gajah, memandikan, memberi makan dan mendampingi pengunjung bertemu gajah saat ada pengunjung yang berwisata ke sana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;Flying Squad &lt;/i&gt;bukan hanya tempat yang berfungsi untuk gajah&#45;gajah patroli saja, tapi sudah menjadi tempat wisata dan edukasi konservasi gajah bagi masyarakat luas. Maka tempat ini juga disebut dengan &lt;i&gt;Camp Flying Squag&lt;/i&gt;. Di sini, wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan gajah jinak, ikut memandikan gajah di sungai, memberi makan, dan mempelajari peran gajah dalam ekosistem.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pengunjung juga bisa mendapatkan edukasi tentang hutan di sekitar &lt;i&gt;Flying Squad &lt;/i&gt;Tesso Nilo. Mulai dari mengenali jenis&#45;jenis pephonan menggunakan sistem bar&lt;i&gt;code&lt;/i&gt; yang dipasang di pepohonan, mengenali jenis&#45;jenis hewan dan banyak hal yang berkaitan dengan hutan.(*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Nama&#45;Nama Gajah di TN Tesso Nilo:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. Indro (48)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. Lisa (45)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;3. Imbo (Anaknya Lisa, 15)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4. Ria (55)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;5. Tesso (Anak Ria, 18)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;6. Harmoni (Anak Ria, 8)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;7. Domang (Anak Ria, 4)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Nama&#45;Nama &lt;/strong&gt;&lt;i&gt;&lt;strong&gt;Mahout&lt;/strong&gt;&lt;/i&gt;&lt;strong&gt; di TN Tesso Nilo:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. Erwin Daulay&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. Junjung Daulay&lt;/p&gt;&lt;p&gt;3. Tengku Asril&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4. Eko Pramuji&lt;/p&gt;&lt;p&gt;5. Rozi Nurbit&lt;/p&gt;&lt;p&gt;6. Bagus Prayudi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;7. Herianto Saragih&lt;/p&gt;&lt;p&gt;8. Pikri Pohan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;9. Zuhri&lt;/p&gt;&lt;p&gt;10. Saritua Marbun&lt;/p&gt;&lt;p&gt;11. Kus Indra Permana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;12. Windekomar&lt;/p&gt;&lt;p&gt;13. Safira&lt;/p&gt;&lt;p&gt;14. Teguh Iman Notonegoro (drh)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/68133924272-whatsapp_image_2026-03-18_at_20.jpeg"/><pubDate>Tue, 17 Mar 2026 17:00:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1422/beginilah-kondisi-gajahgajah-di-flying-squad-taman-nasional-tesso-nilo</guid></item><item><title>Sumatera Kehilangan 21 Kantong Gajah, Menhut Sebut Inpres Sebagai Solusi</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1421/sumatera-kehilangan-21-kantong-gajah-menhut-sebut-inpres-sebagai-solusi</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PELALAWAN (&lt;/strong&gt;&lt;span style=&quot;color:var(&#45;&#45;WDS&#45;content&#45;external&#45;link);&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sunting.co.id&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;) &lt;/strong&gt;– Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni M.A, Ph.D, menyebutkan, Sumatera kehilangan 21 kantong gajah. Dari 42 kantong gajah hanya tinggal 21 yang tersisa. Hal ini disampaikan Menhut di depan Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Heriyadi S.E atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo, dan segenap Forkopimda saat berkunjung ke Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Selasa (17/3/2026).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada kesempatan itu, Raja Juli juga menyinggung Instruksi Presiden (Inpres) tentang Penyelamatan Populasi dan Habitat Gajah Sumatera dan Gajah Borneo yang menjadi tonggak penting dalam upaya konservasi gajah Sumatera.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Dulu ada 42 kantong gajah di Sumatera, sekarang tinggal 21 kantong. Sebagaimana telah Saya sampaikan tentang Inpres Penyelamatan Populasi dan Habitat Gajah Sumatera dan Gajah Borneo. Inpres ini mewajibkan kami berkerja keras untuk merekoneksi antar kantong dengan menggunakan area reservasi baik HGU yang ditanami sawit atau HTI atau hak lainnya. Fregmentasi di dalam kantong juga akan dikoneksikan sehingga akan baik bagi gajah sebagai salah satu satwa yang terancam punah,’’ tegasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Raja Juli juga mengakui bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan PKH untuk mewujudkan rehabilitasi di kawasan TNTN tersebut. PKH sendiri telah berkerja melakukan penertiban di TNTN sejak beberapa bulan lalu sehingga saat ini sudah ada 1000 hektare lahan yang ditumbangkan sawit&#45;sawitnya, dan 411 KK sudah dikeluarkan dari kawasan secara damai.(*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/89025538162-whatsapp_image_2026-03-18_at_12.jpeg"/><pubDate>Wed, 18 Mar 2026 09:30:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1421/sumatera-kehilangan-21-kantong-gajah-menhut-sebut-inpres-sebagai-solusi</guid></item><item><title>Ketua Komisi IV DPR RI, Kapolri dan Menhut Kunjungi TNTN, Minta Semua Pihak Dukung Upaya Rehabilitasi</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1420/ketua-komisi-iv-dpr-ri-kapolri-dan-menhut-kunjungi-tntn-minta-semua-pihak-dukung-upaya-rehabilitasi</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PELALAWAN (&lt;/strong&gt;&lt;span style=&quot;color:var(&#45;&#45;WDS&#45;content&#45;external&#45;link);&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sunting.co.id&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;)&lt;/strong&gt; – Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Heriyadi S.E atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, mengunjungi Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), tepatnya di Flying Squad, Kabupaten Pelalawan, Selasa (17/3/2026). Titiek hadir Bersama Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni M.A, Ph.D dan segenap Forkopimda Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Titiek hadir bersama rombongan menggunakan tiga helikopter sekaligus dan mendarat di helipad yang ada di TNTN sekitar pukul 14.55 WIB. Titiek langsung disambut oleh Kepala Balai TNTN Heru Sukmantoro S.Hut, M.M dan tim lainnya. Di aula berukuran sedang, Heru memaparkan kondisi TNTN saat ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Selamat Datang Ketua Komisi IV DPR RI, Kapolri, Menhut beserta rombongan di TNTN. Kondisi TNTN saat ini perlu perhatian kita bersama. Terimakasih sudah berkunjung ke TNTN dan ini menjadi semangat bagi kita bersama,’’ kata Heru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Usai mendengarkan paparan Kepala Balai TNTN, Titik dan rombongan disambut oleh Gajah Ria dengan pengalungan bunga. Dilanjutkan dengan melihat lebih dekat 7 ekor gajah. Di sini, Titiek, Kapolri, Menhut dan rombongan memberi makan gajah. Suasana karib dan riang terlihat jelas saat itu. Usai foto bersama gajah&#45;gajah, rombongan menuju ke Lokasi penanaman pohon yang ada di sebelah luar gapura kedatangan TNTN.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Usai penanaman, rombongan menuju gerbang masuk TNTN. Di sini, Titiek, Kapolri dan Menhut menyampaikan keterangan kepada wartawan tentang tujuan, harapan dan apa yang mereka dapatkan usai melakukan kunjungan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Kondisi gajah Sumatera saat ini sudah mendekati kepunahan. Karena kepedulian yang tinggi dari Presiden Prabowo, maka TNTN harus dikembalikan kepada fungsinya sebagai taman nasional terutama untuk habitat gajah yang harus dilindungi. Ini perlu dukungan kita bersama. TNTN ini luasnya 81.000 hektare, sedangkan petugas hanya 23 orang. Bagaimana bisa melakukan pengawasan. Mungkin bisa minta bantuan Kapolri melalui Kapolda untuk pelestarian taman nasional ini,’’ kata Titiek.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada kesempatan itu, Titiek juga menyampaikan Instruksi Presiden (Inpres) tentang Penyelamatan Populasi dan Habitat Gajah Sumatera dan Gajah Borneo sebagai wujud kepedualian terhadap gajah sebagai hewan yang dilindungi. Bahkan Presiden menyerahkan 90.000 ha lahan di Aceh untuk dijadikan kawasan konservasi gajah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo menyambut baik harapan Ketua Komisi IV DPR RI dengan akan terus berkerja keras melakukan perlindungan terhadap gajah. Salah satunya dengan mengungkap kasus pembunuhan gajah beberapa waktu lalu yang telah diungkap tuntas oleh Kapolda Riau dan timnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Terimakasih Kapolda yang beberapa waktu lalu telah melakukan penegakan hukum terhadap pembunuhan salah satu populasi gajah. Kasus ini sudah diusut tuntas. Saya ucapkan apresiasi dan tolong lakukan tindakan tegas sehingga populasi yang tinggal sedikit ini bisa berkembang dengan baik,’’ harapnya pula.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, Menhut Raja Juli Antoni menyebutkan bahwa Komisi IV DPR RI merupakan patner untuk mewujudkan rehabilitasi TNTN. Begitu juga dengan Kapolri yang telah memberikan sinyal untuk terus berkerjasama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Persoalan TNTN bukan persoalan kemarin sore, minggu lalu, tahun lalu, tapi sudah menahun. Di bawah kepemimpinan Presdien Prabowo mulai dilakukan penertiban TNTN. Kami sudah menebang sawit illegal 1000 hektar, mengeluarkan 411 KK dari Kawasan TNTN yang dilakukan secara damai. Sekitar 4000 KK juga menyatakan bersedia keluar dari TNTN. Dengan dukungan semua pihak, TNTN akan kembali fungsinya sebagai rumah habitat gajah yang dilindungi,’’ kata Raja Juli.(*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/59934349904-whatsapp_image_2026-03-18_at_12.jpeg"/><pubDate>Wed, 18 Mar 2026 09:00:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1420/ketua-komisi-iv-dpr-ri-kapolri-dan-menhut-kunjungi-tntn-minta-semua-pihak-dukung-upaya-rehabilitasi</guid></item><item><title>Semarakkan Ramadan, Rumah Sunting Laksanakan Tadarus Puisi, Santuni Anak Yatim dan Berbuka Bersama</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1419/semarakkan-ramadan-rumah-sunting-laksanakan-tadarus-puisi-santuni-anak-yatim-dan-berbuka-bersama</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (&lt;/strong&gt;&lt;span style=&quot;color:var(&#45;&#45;WDS&#45;content&#45;external&#45;link);&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sunting.co.id&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;)&lt;/strong&gt; – Setiap Ramadan tiba, selalu disambut dengan suka cita. Agar Ramadan tahun ini lebih semarak, Komunitas Seni Budaya (KSB) Rumah Sunting Pekanbaru melaksanakan berbagai kegiatan, Jumat (6/3/2026). Ada Tadarus Puisi yang dirangkaikan dengan kegiatan Santunan Anak Yatim dan Berbuka Bersama. Semua kegiatan ini dibungkus dalam satu tema, &apos;Petuah, Kata dan Cinta&apos;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beskem Rumah Sunting yang terletak di Jalan Tigasari, Tangkerang Selatan, Bukitraya, Kota Pekanbaru ini pun berubah ramai. Apalagi kegiatan sudah terlebih dulu diawali dengan Nongkah (Nongkrong Bertuah), yakni &lt;i&gt;poadcast&lt;/i&gt;nya ala Rumah Sunting sejak pukul 14.00 WIB.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hadir Tadarus Puisi, Santunan Anak Yatim dan Berbuka Bersama ini keluarga anak yatim dari keluarga seniman dan pegiat seni di Riau. Hadir juga para donatur, di antaranya, Kepala Balai Bahasa Riau Umi Kalsum S.S, M.Hum, Walhi Riau dan Dr Bambang Kariyawan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hadir pula para peserta Literasi Konservasi Kampung Bandar, peserta Literasi Konservasi Tangkerang Selatan, peserta Literasi Konservasi Malako Kociak Rimbang Baling, Koordinator LPE Riau Muhammad Aprianda, Muhammad Asqalani EnEste, Mulyati Umar, tokoh masyarakat setempat dan keluarga besar Rumah Sunting. Bersama anak&#45;anak dan seluruh hadirin mereka duduk bersila di teras.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;Founder&lt;/i&gt; KSB Rumah Sunting, Kunni Masrohanti, menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun di Bulan Ramadan, kecuali santunan anak yatim yang baru dilaksanakan tahun 2025 dan 2026.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’&lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;, kami bisa melaksanakan kegiatan ini setiap tahun. Khusus santunan anak yatim dari keluarga seniman dan pegiat seni, ini tahun kedua. Kami sangat berterimakasih kepada para donatur dan membuka hatinya untuk bersama&#45;sama berbagi kebahagiaan dengan anak&#45;anak yatim ini. Mereka juga anak&#45;anak kita. Tanpa donatur, sulit bagi kami untuk melaksanakan ini. Semoga kami bersama para donator bisa melaksanakan ini kembali di tahun&#45;tahun berikutnya. Sungguh, kami hanya sebagai penggerak dan pembuka jalan,. Terimakasih semuanya,’’ kata Kunni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala Balai Bahasa Riau, Umi Kulsum, S.S, M.Hum, yang juga salah satu donatur mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan Rumah Sunting tersebut. Ia berharap kegiatan ini akan terus dilaksanakan karena sebagai upaya dalam ikut serta memajukan keasastraan dan memperluas dampak khususnya bagi generasi penerus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Kami sangat bangga karena kegiatan berangkai&#45;rangkai. Ada Nongkah yang sebelumnya Saya juga hadir sebagai pembicara, lanjut Tadaraus Puisi, Santunan Anak Yatim dan Berbuka Bersama. Rumah Sunting menjalankan caranya sendiri untuk menyebarkan dampak sastra dengan lebih luas kepada orang lain, terutama anak&#45;anak. Ada juga anak&#45;anak dari kegiatan Literasi Konservasi dan hampir semua membaca puisi dalan Tadarus Puisi ini. Mari bergerak terus dan terus berkolaborasi,’’ kata Umi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tua Muda Membaca Puisi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tadarus Puisi merupakan program tahunan Rumah Sunting sejak tahun 2015. Kata Kunni, setiap tahun Rumah Sunting melaksanakan kegiatan ini. Tidak hanya di Beskem Rumah Sunting, tapi juga di kampus dan di kampung, kampung bahkan kerap kali dilaksanakan di ruang terbuka seperi di Danau PLTA, Tepian Sungai Subayang, Danau Tanjung Putus Buluhcina, dan masih banyak lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sore itu, Tadarus Puisi dan kegiatan lainnya dilaksanakan di teras Beskem Rumah Sunting. Sederhana saja. Mereka duduk melantai dengan panggung kosong hanya berlatar belakang spanduk ukuran 2x2 meter, pembacaan puisi dilaksanakan secara bergantian. Tua muda, semuanya membaca puisi. Ada Muhammad Asqalani EnEste, Dr Bambang Kariyawan, Ahlul Fadli Walhi Riau, Kepala Balai Bahasa Riau, bahkan anak&#45;anak yang hadir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerima Santunan dan Donatur&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rumah Sunting berhasil mengumpulkan 18 nama anak&#45;anak yatim dari keluarga seniman dan pegiat seni. Selain di Pekanbaru sebagiannya dari Kabupaten Kampar. Selain uang tunai, mereka juga menerima bingkisan. Dari 18 anak yatim ini, di antaranya ada yang tidak bisa hadir karena berhalangan dan ada yang dating sesudah magrib. Bagi yang tidak hadir, Rumah Sunting akan segera mengirimkan titipan dari para donatur itu sesegara mungkin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anak&#45;anak tersebut yakni, ada anak dari almarhum Adepura Indra, seniman teater Riau asal Inhu. Mereka adalah, Prakacita Adwitiya, Al Qusnah dan Khalid Biru Fatindra. Ada Abidah Binti almarhum Sunardi atau Edy koreografer founder Sanggar Sri Melayu (berhalangan hadir), Joe Arkin Bin almarhum Rorry Hendra Saidina atau Itoy pemusik (berhalangan hadir). Ada anak&#45;anak dari almarhum Kasmono, seniman teater (Kampar Kiri). Mereka yakni, Zizi, Geo dan Altaf Ada Ardiansyah Nur Bin Ardesnur, Qiara Nur Hafiza Binti almarhum Ardesnur, Nopal dan Ripal Bin almarhum Burhan (Kampar), serta Vina dan Radit yang juga berhalangan hadir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&apos;&apos;Mereka juga anak&#45;anak kita. Sekali lagi terimakasih para donatur yang berhati mulia. Semoga anak&#45;anak ini menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, rajin belajar dan menuntut ilmu, mengabdi bagi bangsa dan negara serta cinta tanah kelahirannya,&apos;&apos; kata Kunni yang akrab disapa Mak Kunni saat menyampaikan sambutan dengan suara parau, terbata&#45;bata dan sesekali terdengar suara isaknya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Suasana seketika menjadi hening. Tidak ada yang berbiacara. Semua menundukkan kepala. Tenang, &amp;nbsp;Hanya suara Mak Kunni yang terdengar. Panggung yang semula riuh oleh puisi dan cerita itu, menjadi hening.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&apos;Adapun donatur yang turut berbagi santunan ini yakni, Boy Even Sembiring, Eko Yunanda, Dewi Fianna Sari, Umi Kulsum S.S, M.Hum dan Balai Bahasa Provinsi Riau, Bambang Kariyawan, Supriyadi, Indra SE MBA, Nofrita Delly dan Walhi Riau. Santunan diserahkan oleh Kepala Balai Bahasa Riau didampingi Kunni Masrohanti. Rangkaian kegiatan diakahiri dengan foto dan &amp;nbsp;Berbuka Bersama. (*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/2537062937-whatsapp_image_2026-03-07_at_21.jpeg"/><pubDate>Sat, 07 Mar 2026 12:00:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1419/semarakkan-ramadan-rumah-sunting-laksanakan-tadarus-puisi-santuni-anak-yatim-dan-berbuka-bersama</guid></item><item><title>Kunjungi Rumah Sunting, Ketua Komisi III DPR RI Berharap Komunitas Terus Bergerak untuk Maysrakat</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1418/kunjungi-rumah-sunting-ketua-komisi-iii-dpr-ri-berharap-komunitas-terus-bergerak-untuk-maysrakat</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (&lt;/strong&gt;&lt;span style=&quot;color:var(&#45;&#45;WDS&#45;content&#45;external&#45;link);&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sunting.co.id&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;) &lt;/strong&gt;– Ketua Komisi III DPR RI yang juga politikus Indonesia dari Partai Nasdem, Willy Aditya, mengunjungi Beskem Komunitas Seni Budaya (KSB) Rumah Sunting, Senin pagi (2/3/2026) di Jalan Tigasari, Tangkerang Selatan, Kecamatan Bukitraya, Kota Pekanbaru..&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Willy yang juga Ketua DPW Partai Nasdem Riau itu didampingi pengurus DPW Dedi Harianto Lubis, anggota DPRD Kampar Firdaus SE dan beberapa lainnya. Willy dan rombongan disambut &lt;i&gt;Founder &lt;/i&gt;Rumah Sunting Kunni Masrohanti dan pengurus, Ketua RW setempat yang juga Ketua Forum RT/RW Tangkerang Selatan Bero S, pimpinan komunitas Teratak Literasi yang juga Komisioner KPU Riau Nugroho Noto Susanto, Wakil Laskar Penggiat Ekowisata (LPE) Riau Yanda Rahmanto, dan beberapa lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak ada pembicaraan khusus atas kedatangan Willy pagi itu. Kedatangannya ke Rumah Sunting untuk bersilaturahmi mengingat komunitas ini sebagai salah satu komunitas seni dan budaya di Riau yang terlibat aktif dan turut berkontribusi dalam iven&#45;iven kebudayaan yang dilaksanakan DPW Partai Nasdem selama ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitu masuk ke Beskem Rumah Sunting, Willy langsung melihat kerajinan tangan karya masyarakat Kampar Kiri Hulu tepatnya desa&#45;desa yang menjadi dampingan Rumah Sunting dalam Kegiatan Literasi Konservasi dan Literasi Seni Budaya sebelumnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Wah, karya&#45;karya masyarakat ini harus terus diapresiasi. Poles sedikit, ini bisa dibawa ke pameran&#45;pemeran,’’ kata Willy&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Beberapa kali pameran dan bazar kami ikut, cuma ya, susah menjualnya karena memang masyarakat harus dilatih dengan baik lagi. Mereka sudah mau berkarya, &lt;i&gt;alhamdulillah&lt;/i&gt;. Tinggal penghalusan dan pelatihan. Semoga ke depan kami bisa memfasilitasi,’’ kata Kunni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dialog dan perbincangan pun semakin terbuka, termasuk dengan tokoh masyarakat setempat. Willy terlihat begitu akrab dan ramah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Terus bergerak bersama masyarakat. Perbanyak ruang&#45;ruang kebudayaan, ruang ekspresi dan hidupkan seni budaya bersama masyarakat,’’ pesan Willy.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada kesempatan itu, Kunni juga menyampaikan berbagai kegiatan yang dilaksanakan Rumah Sunting dan masyarakat di sekitar beskem, termasuk mimpi Rumah Sunting bersama masyarakat yang berniat memural tembok di sepanjang gang di samping beskem Rumah Sunting. Hal itu langsung direspon Willy. Bahkan ia meninjau langsung tembok dan gang yang dimaksud. Ia juga meninjau kebun sebelah gang yang dikelola masyarakat setempat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Dua tahun terakhir, DPW Parrtai Nasdem Riau menyelenggarakan iven kebudayaan seperti lomba ataupun panggung kebudayaan yang mereka beri nama Panggung Restorasi. Sebagai orang yang bergiat di bidang seni dan budaya, Saya sangat bangga. Kita harus bangga, karena sangat jarang ada partai politik yang melaksanakan iven kebudayaan, membuat panggung pertunjukan, menghadirkan para seniman lintas suku dalam satu panggung, setiap minggu, berturut&#45;turut. Pelaksanaanya sesudah Pilkada lagi,’’ kata Kunni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kunni juga menegaskan apa yang dilakukan DPW Partai Nasdem itu sebagai upaya turut ambil bagian dalam upaya pemajuan kebudayaan di Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Bahkan setahu Saya hanya Nasdem yang melaksanakan panggung kebudayaan tersebut. Ini harus dilanjutkan karena bukan hanya bentuk apresiasi partai kepada seniman dan budayaan dengan karya&#45;karyanya tapi turut membuka dan memperbanyak ruang ekspresi kebudayaan serta turut ambil bagian dalam upaya pelestarian, pengembangan, pemdokumentasian dan pemajuan kebudayaan di Riau dan Indonesia,’’ kata Kunni.(*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/37107306222-whatsapp_image_2026-03-02_at_11.jpeg"/><pubDate>Mon, 02 Mar 2026 14:00:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1418/kunjungi-rumah-sunting-ketua-komisi-iii-dpr-ri-berharap-komunitas-terus-bergerak-untuk-maysrakat</guid></item><item><title>Pererat Silaturahmi, DPW Partai Nasdem Riau Gelar Buka Bersama dan Santuni Anak Yatim</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1417/pererat-silaturahmi-dpw-partai-nasdem-riau-gelar-buka-bersama-dan-santuni-anak-yatim</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (&lt;/strong&gt;&lt;span style=&quot;color:var(&#45;&#45;WDS&#45;content&#45;external&#45;link);&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sunting.co.id&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;) &lt;/strong&gt;– DPW Partai Nasdem Riau menggelar buka bersama dan santuni puluhan anak yatim, Sabtu (28/2/2026) di Kantor DPW Partai Nasdem di Jalan Diponegoro Pekanbaru. Kegiatan ini dihadiri segenap kader partai Nasdem Riau dan masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua DPW Partai Nasdem Riau, Willy Aditya, mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan setiap Ramadan sebagai upaya mewujudkan dan meningkatkan rasa solidaritas serta silaturahmi dengan seluruh kader Partai Nasdem serta masyarakat Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’&lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;, buka bersama tahun ini kita berjumpa dan berkumpul lagi sebagai jalan silaturahmi dan meningkatkan solidaritas kepada sesama. Semoga kita mampu memetik hikmah Ramadan dan keberkahannya bagi seluruh kader, masyarakat dan anak&#45;anak yatim yang juga anak&#45;anak kita,’’ ungkap Willy.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Disebutkan Willy lebih lanjut, Partai Nasdem bukan hanya partai yang hadir di tengah masyarakat saat musim Pilkada, tapi hadir untuk memberikan pelayanan serta bersama&#45;sama masyarakat membangun negeri dan bangsa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Tugas kita sebagai partai melayani masyarakat, bersama dan membersamai masyarakat. Silaturahmi seperti ini harus sering dilaksanakan,’’ sambungnya lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa yang disampaikan Willy di podium itu disampaikannya kembali saat bertemu secara khusus dengan pimpinan paguyuban dan komunitas yang hadir di dalam ruangannya setelah berbuka puasa bersama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Jadikan kantor DPW Nasdem ini, rumah ini, seperti rumah Bapak sendiri. Datang saja ke sini. Apapun sukunya, datang saja ke sini. Kita berada di tanah yang sama. Kita sama&#45;sama merah putih. Pererat silaturahmi,’’ harap Willy.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hadir dalam buka bersama ini Gubernur Riau atau yang mewakili, Kapolda Riau atau yang mewakili dan beberapa undangan lainnya, termasuk bupati dan wakil bupati. Di antaranya Bupati Siak Dr Afni Zlkifli, Wakil Bupati Rohil Jhony Charles, Wakil Bupati Bengkalis Bagus Santoso, Ketua DPD Partai Nasdem di Riau, dan masih banyak lainnya.(*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/697327503-whatsapp_image_2026-02-28_at_21.jpeg"/><pubDate>Sat, 28 Feb 2026 20:00:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1417/pererat-silaturahmi-dpw-partai-nasdem-riau-gelar-buka-bersama-dan-santuni-anak-yatim</guid></item><item><title>Ramadan, Perpustakaan Soeman HS Tetap Ramai Pengunjung</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1416/ramadan-perpustakaan-soeman-hs-tetap-ramai-pengunjung</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (&lt;/strong&gt;&lt;span style=&quot;color:var(&#45;&#45;WDS&#45;content&#45;external&#45;link);&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sunting.co.id&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;) &lt;/strong&gt;– Meski masih tergolong pagi, tapi ruang Perpustakaan Wilayah (Puswil) Soeman HS di Jalan Sudirman Kota Pekanbaru, Jumat (27/2/2026), sudah ramai pengunjung. Nampak para remaja, anak&#45;anak, bahkan orang tua lalu lalang di perpustakaan tersebut, Kata petugas, puasa tidak mengurangi pengunjung untuk datang ke perpustakaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selama Ramadan, ada hal yang menarik di perpustakaan tersebut. Puswil memutar cerita para nabi sehingga disukai pengunjung, khususnya anak&#45;anak sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Ramadan ini ada yang spesial di Puswil Soeman HS. Ada pemutaran cerita para nabi. Jadi lebih ramai. Anak&#45;anak sekolah juga suka datang ke Puswil,’’ kata Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Riau, Indra S.E, M.M, di kantornya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diakui Indra, Perpustakaan Somen HS, bukan lagi hanya sebagai tempat mencari atau membaca buku, tapi menjadi tempat wisata pendidikan. Kunjungan bukan hanya dari sekolah&#45;sekolah atau kampus&#45;kampus di Pekanbaru, tapi kabupaten/kota di Riau, bahkan dari provinsi lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Indra juga mengajak masyarakat dan komunitas untuk bersama&#45;sama meramaikan Perpustakaan Soeman HS dengan melaksanakan kegiatan&#45;kegiatan literasi termasuk menggunakan fasilitas&#45;fasilitas yang tersedia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Perpustakaan ini harus kita jaga bersama. Kita ramaikan. Kunjungi dan datang ke Perpustakaan Soeman HS. Ramaikan dengan membuat kegiatan, memanfaatkan fasilitas yang ada. Silakan, tapi kita jaga bersama keamanan dan kenyamannya,’’ katanya lagi.(*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/52419124999-whatsapp_image_2026-02-27_at_19.jpeg"/><pubDate>Fri, 27 Feb 2026 13:30:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1416/ramadan-perpustakaan-soeman-hs-tetap-ramai-pengunjung</guid></item><item><title>Ada Bekas Jerat di Kakinya, Anak Gajah Mati Membusuk di TN Tesso Nilo</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1415/ada-bekas-jerat-di-kakinya-anak-gajah-mati-membusuk-di-tn-tesso-nilo</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PELALAWAN (&lt;/strong&gt;&lt;span style=&quot;color:var(&#45;&#45;WDS&#45;content&#45;external&#45;link);&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sunting.co.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;id)&lt;/strong&gt; – Dunia konservasi Riau kembali berduka. Setelah beberapa waktu lalu ditemukan gajah dewasa mati tanpa kepala di kawasan konsesi PT RAPP, Kamis (26/2/2026) kembali ditemukan kasus serupa. Kali ini seekor anak gajah yang mati. Lokasinya di kawasan Taman Nasional (TN) Tesso Nilo, tepatnya di Resort Lancang Kuning, Seksi PTN Wilayah I, pukul 12.00 WIB.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat ditemukan anak gajah ini sudah menjadi bangkai. Di kaki bagian depannya ada luka. Luka yang terlihat sudah cukup lama. Luka itu kemudian membusuk dan menyebabkannya kehilangan daya tahan tubuh, lalu mati. Anak gajah yang sedang lincah&#45;lincahnya itu, mati direncanakan di rumahnya sendiri.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Anak gajah tersebut ditemukan dalam kondisi telah menjadi bangkai dan mengalami proses pembusukan lanjut. Berdasarkan kondisi fisik di lapangan, kematian diperkirakan telah terjadi lebih dari satu minggu sebelum ditemukan,’’ kata Heru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hasil pemeriksaan awal di lokasi, lanjut Heru, menunjukkan dugaan sementara penyebab kematian akibat infeksi pada bagian kaki yang diduga kuat berkaitan dengan jerat. Ada bekas jerat di kaki depan gajah yang kemudian menjadi luka dan membusuk.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Tim Medis Balai TN Tesso Nilo segera melakukan penanganan lebih lanjut, termasuk pemeriksaan mendalam untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah,’’ lanjutnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kematian gajah di kawasan Tesso Nilo bukan hanya sekali, tapi berkali&#45;kali. Hal ini membuat Heru dan seluruh tim TN Tesso Nilo lebih berkoordinasi lagi dengan berbagai pihak terkait, guna mendukung upaya perlindungan Gajah Sumatera di kawasan konservasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Peristiwa ini menjadi pengingat akan ancaman nyata yang masih dihadapi satwa liar, khususnya Gajah Sumatera di habitat alaminya. Kami mengajak seluruh pihak untuk bersama&#45;sama meningkatkan kepedulian dan peran aktif dalam menjaga kelestarian satwa dilindungi,’’ ajak Heru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai upaya koordinasi dengan berbagai pihak, tidak lama setelah anak gajah itu ditemukan, Heru langsung meninjau ke lokasi bersama Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Kapolda Riau dan beberapa lainnya.(*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/10924064891-whatsapp_image_2026-02-27_at_06.jpeg"/><pubDate>Thu, 26 Feb 2026 21:00:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1415/ada-bekas-jerat-di-kakinya-anak-gajah-mati-membusuk-di-tn-tesso-nilo</guid></item><item><title>Rumah Sunting Gelar Nongkah Seminggu Dua Kali, Usung Tema Ramadan dan Literasi</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1414/rumah-sunting-gelar-nongkah-seminggu-dua-kali-usung-tema-ramadan-dan-literasi</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; – NONGKAH. Begitulah nama kegiatan itu dibuat Komunitas Seni Budaya (KSB) Rumah Sunting. Nongkah adalah singkatan Nongkrong Bertuah, yakni kegiatan literasi yang berbentuk dialog dan disiarkan langsung di media sosial Rumah Sunting, &lt;i&gt;Instagram&lt;/i&gt; &lt;i&gt;@rumahsunting2012&lt;/i&gt;. Nongkah sudah dilaksanakan sejak beberapa tahun lalu. Dan setiap kali Ramadan, mereka menamakan dengan Nongkah Spesial Ramadan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun 2026 atau Ramadan tahun ini, Nongkah Spesial Ramadan kembali dilaksanakan, seminggu dua kali, tepatnya setiap Selasa dan Jumat pukul 14.00 WIB. Kegiatan yang dilaksanakan di Beskem KSB Rumah Sunting Jalan Tigasari Nomor 10A, Kelurahan Tangkerang Tengah, Kecamatan Bukitraya, Kota Pekanbaru ini mengusung teema besar Ramadan dan Literasi.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Banyak hal yang dibahas kupas bersama narasumber dalam Nongkah ini. Mulai dari literasi, seni, budaya, konservasi dan hal&#45;hal yang memang menjadi program Rumah Sunting atau kegiatan yang menguatkan visi misi Rumah Sunting, yakni Melestarikan Seni Budaya, Menjaga Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Nongkah ini hanya salah satu kegiatan literasi di Rumah Sunting. Bentuknya dialog atau serupa poadcast dengan narasumber, lalu ada tanya jawab. Naraumbernya bisa satu atau lebiih. Audiensnya bisa langsung hadir di lokasi, bisa juga hanya di medsos, &lt;i&gt;Intagram, Facebook &lt;/i&gt;dan lainnya. Membahas tentang satu topik secara mendalam, sehingga benar&#45;benar memahami. Intinya mengkaji sesuatu. Mengapa namanya Nongkah karena Nongkah ini Bahasa Ibu, arti lain dari cara mencari kerang di lumpur. Nongkah, jadilah Nongkrong Bertuah. Nongkrong, santai, tapi diharapkan memberi tuah karena mengkaji dengan serius. Berliterasi sambil melestarikan Bahasa Ibu,’’ beber&lt;i&gt; Founder &lt;/i&gt;KSB Rumah Sunting Kunni Masrohanti.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nongkah Spesial Ramadan menghadirkana narasumber&#45;narasumber yang pasti berkompeten di bidangnya dan berrhubungan erat dengan persoaln seni, budaya dan literasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Ayok datang ke Beskem Rumah Sunting setiap Selasa dan Jumat pukul 14.00 selama Bulan Ramadan, atau saksikan terus di Instagram &lt;i&gt;@rumahsunting2012&lt;/i&gt;,’’ ajak Kunni.(*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/1842252100-whatsapp_image_2026-02-26_at_15.jpeg"/><pubDate>Sun, 15 Feb 2026 17:59:49 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1414/rumah-sunting-gelar-nongkah-seminggu-dua-kali-usung-tema-ramadan-dan-literasi</guid></item><item><title>Hadiri Nongkah di Rumah Sunting, Kepala Balai Bahasa Riau: Generasi Muda Jangan Malu Berbahasa Ibu</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1413/hadiri-nongkah-di-rumah-sunting-kepala-balai-bahasa-riau-generasi-muda-jangan-malu-berbahasa-ibu</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; – Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Umi Kulsum, S.S, M.Hum, menghadiri undangan kegiatan literasi yang diberi nama NONGKAH alias Nongkrong Bertuah, Rabu (25/2/2026). Kegiatan yang dilaksanakan di Beskem Komunitas Seni Budaya (KSB) Rumah Sunting itu, mengusung tema &apos;&apos;Upaya Merawat Bahasa Ibu&apos;&apos;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada kesempatan itu, Kepala Balai Bahasa menyampaikan banyak hal tentang upaya&#45;upaya yang telah dilakukan Balai Bahasa selama ini dalam upaya pelestarian Bahasa Ibu. Diakuinya, kondisi Bahasa Ibu secera menyeluruh di Indonesia terancam punah, hilang, bahkan mati. Tapi ia memastikan kondisi Bahasa Ibu di Riau masih relatif aman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Secara umum di Indonesia, Bahasa Ibu dalam kondisi terancam meski ada bahasa yang baru ditemukan oleh Badan Bahasa tahun lalu di Papua. Bukan Bahasa baru, tapi memang belum tercatat atau terdata sebelumnya. Meski begitu banyak Bahasa Ibu yang mulai hilang. Bahkan ada yang mati. Unesco&amp;nbsp;mencatatnya. Untuk di Riau, Bahasa Ibu juga terancam, mulai hilang meski masih relatif aman. Kita semua, terutama generasi muda, jangan malu berbahasa ibu,’’ kata Kepala Balai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mulai hilangnya Bahasa Ibu itu karena mulai berkurangnya pengguna. Makanya, Kepala Balai mengajak kepada masyarakat, khususnya generasi muda untuk terus melestarikan Bahasa ibu dengan menggunakannya dalam kegiatan sehari&#45;hari.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Bahasa Ibu adalah identitas bangsa kita. Mari kita lestarikan bersama. Semuanya berpartisipasi dan berperan, pemerintah, masyarakat, komunitas, semuanya ambil bagian agar kita tidak kehilangan Bahasa Ibu,’’ harap Umi Kulsum.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kunni Masrohanti, pimpinan KSB Rumah Sunting yang mendampingi Kepala Balai sore itu, mengakui, masyarakat Riau khususnya generasi muda sangat bersyukur karena masih ada pihak&#45;pihak yang sangat perduli dengan Bahasa Ibu, bahkan melakukan berbagai upaya untuk pelestariannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&apos;&apos;Balai Bahasa tidak bisa sendiri melakukan upaya pelestarian. Masayarakatnya, anak&#45;anak mudanya selaku pengguna bahasa sangat menentukan apakah Bahasa Ibu bisa bertahan lebih lama lagi atau tidak. Kalau sering digunakan, dia akan lestari. Tapi kalau sudah tidak digunakan, berarti akan punah. Bahasa tergantung kepada penggunanya. Kita harus bersyukur karena masih ada pihak yang sangat perduli dengan Bahasa Ibu ini. Kita harus berkolaborasi, berpartisipasi, harus berperan lebih lagi agar kita tidak kehilangan Bahasa Ibu,&apos;&apos; kata Kunni.(*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/56087445111-whatsapp_image_2026-02-25_at_20.jpeg"/><pubDate>Thu, 26 Feb 2026 14:09:19 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1413/hadiri-nongkah-di-rumah-sunting-kepala-balai-bahasa-riau-generasi-muda-jangan-malu-berbahasa-ibu</guid></item><item><title>PWI Pusat Hadiri Buka Puasa Bersama Kapolri, Media Disebut Suara Publik yang Harus Didengar</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1412/pwi-pusat-hadiri-buka-puasa-bersama-kapolri-media-disebut-suara-publik-yang-harus-didengar</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; &#45; Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menghadiri undangan buka puasa bersama Kapolri yang digelar di Gedung Utama Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir dalam kesempatan tersebut diwakili oleh Wakil Ketua Departemen Hankam Bidang Polri Musrifah, dan Wakil Ketua Bidang Hukum dan HAM Eddy Iriawan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Musrifah menyampaikan kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat komunikasi dan sinergi antara Polri dan insan pers.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Momentum seperti ini penting untuk mempererat sinergi dan membangun komunikasi yang sehat antara Polri dan media. Pers memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi yang akurat sekaligus menjadi jembatan aspirasi masyarakat,” ujar Musrifah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Senada dengan itu, Eddy Iriawan menegaskan pentingnya keterbukaan dalam hubungan kemitraan antara institusi penegak hukum dan pers.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Keterbukaan terhadap media adalah fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik. Sinergi yang baik antara Polri dan pers akan memperkuat akuntabilitas serta memastikan kepentingan masyarakat tetap menjadi prioritas,” kata Eddy Iriawan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kapolri Listyo Sigit Prabowo dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa media memiliki peran strategis sebagai mitra Polri dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kami menyadari bahwa suara media adalah suara publik yang harus didengar. Kewajiban kami sebagai institusi Polri untuk melaksanakan amanah sebagaimana yang diserukan oleh suara&#45;suara publik yang diwakili oleh rekan&#45;rekan media,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia juga mengingatkan seluruh jajaran agar tidak mengabaikan setiap pemberitaan, sekecil apa pun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Silakan seluruh jajaran menyadari bahwa sekecil apapun suara dari teman&#45;teman media itu adalah jeritan dari masyarakat, keluhan dari masyarakat. Mau tidak mau kita harus melakukan langkah cepat, respons cepat untuk menanggapi,” tegasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari PWI Pusat turut hadir Wakil Ketua Bidang Kerjasama Kadirah dan Wakil Ketua Humas Akhmad Dani. &lt;strong&gt;(rls/*)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/23818293799-whatsapp_image_2026-02-26_at_09.jpeg"/><pubDate>Wed, 25 Feb 2026 20:24:32 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1412/pwi-pusat-hadiri-buka-puasa-bersama-kapolri-media-disebut-suara-publik-yang-harus-didengar</guid></item><item><title>Umi Kulsum: Bahasa Daerah Menghadapi Ancaman Kepunahan yang Serius, Revitalisasi Terus Digalakkan</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1411/umi-kulsum-bahasa-daerah-menghadapi-ancaman-kepunahan-yang-serius-revitalisasi-terus-digalakkan</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id) &lt;/strong&gt;– Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Umi Kulsum M.Hum, menegaskan, bahasa daerah di Indonesia saat ini menghadapi kepunahan serius, termasuk di Riau. Untuk itu Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) terus digalakkan. Hal ini disampaikan Umi KUlsum menjelang Gelar Wicara sempena peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional (RBII), tahun 2026 di sekolah Azzuhra Pusat, Pekanbaru, Sabtu (21/2/2026).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Kajian vitalitas terhadap 87 bahasa daerah pada tahun 2018—2019 menunjukkan adanya 24 bahasa yang aman, 19 bahasa yang rentan, 3 bahasa yang mengalami kemunduran, 25 bahasa yang terancam punah, 5 bahasa yang kritis, dan 11 bahasa yang punah (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2019). Data itu menunjukkan bahwa bahasa daerah menghadapi ancaman kepunahan yang serius,’’ kata Umi Kulsum.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal ini cukup dimaklumi, sambung Umi Kulsum, mengingat penggunaan bahasa daerah didominasi oleh generasi pra&#45;boomer yang lahir pada tahun 1945 dan sebelumnya, yang mencapai 87,13 persen sesuai data Badan Pusat Statistik tahun 2023. Penggunaan oleh Baby Boomer 82, 56 persen, GenX cengan 77, 31 persen, Milenial &amp;nbsp;73, 95 persen, Gen Z &amp;nbsp;72, 21 persen, Pos Gen Z 62,96 persen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Revitalisasi bahasa merupakan kebijakan yang melibatkan berbagai tingkatan masyarakat dan membutuhkan pendekatan yang komprehensif, jelas Umi Kulsum lagi. Di tingkat komunitas, upaya pendokumentasian dan perluasan ruang penggunaan bahasa menjadi hal yang krusial. Pada tingkat yang lebih luas, baik daerah maupun nasional, kebijakan pemerintah dalam mendukung bahasa daerah menjadi pilar penting dalam proses revitalisasi bahasa. Selain itu, dalam era digital, kerja sama internasional, serta pemanfaatan media dan teknologi juga berperan signifikan dalam upaya&#45;upaya revitalisasi bahasa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;’’Kabar terakhir dari saudara kita di Tatar Sunda, sudah berkurang 2 juta penutur sunda dalam 10 tahun terakhir. Begitu pula dengan bahasa daerah lain, sudah mati 6 bahasa di Indoensia timur, dan Unesco lebih mengerikan lagi dengan mengatakan setiap dua minggu ada bahasa yang mati. Sama seperti manusia, bahasa ada yang sehat, ada yang rentan, ada yang kritis, dan ada yang mati. Revitalisasi bahasa daerah ini merupakan upaya kita agar bahasa daerah, khususnya di Riau, kondisinya tetap terjaga dan terawat dengan tetap dituturkan dari generasi ke generasi,’’ beber Umi Kulsum.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk tahun 2026, sambung Umi Kulsum, RBD dilakukan dengan lokus Indragiri Hilir, Pekanbaru, Pelalawan, dan Kuantan Singingi. Tahun 2025 di Bengkalis, Siak, Rokan Hulu dan Rokan Hilir. Sedangkan tahun 2024 di Dumai, Kampar, Meranti, dan Indragiri Hulu. Adapun mata ajar yang disampaikan yakni Membuat Cerpen, Membaca Puisi, Tembang Tradisi, Lawakan/Komedi Tunggal, Berpidato, Mendongeng, Mambaca dan Menulis Aksara Arab Melayu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;’’Ada 800 guru yang mendapat pengimbasan dari para guru master dari RBD ini, karena kami mewajibkan minimal setiap guru master dapat mengimbaskan kepada 10 orang dan hasilnya ternyata luar biasa. Ada yang mengimbaskan kepada MGMP masing&#45;masing lebih dari 60 guru. Untuk siswa SMP 545, SD 633 dengan total 1.179 siswa,’’ jelas Umi Kulsum.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diakui Umi Kulsum, penggangaran pengimbasan dan juga Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat kabupaten menjadi tanggung jawab dinas kabupaten atau kota.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Semoga tahun ini Revitalisasi Bahas Daerah di Riau lebih meriah lagi dan lebih banyak siswa yang lebih mencintai bahasa daerah dan juga mempu menyampaikan keterampilan berbasahsa teresebut dengan Bahasa daerah,’’ kata Umi Kulsum.(*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/86269455172-whatsapp_image_2026-02-22_at_21.jpeg"/><pubDate>Sun, 22 Feb 2026 22:12:30 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1411/umi-kulsum-bahasa-daerah-menghadapi-ancaman-kepunahan-yang-serius-revitalisasi-terus-digalakkan</guid></item><item><title>Peringati Hari Bahasa Ibu Internasional, Balai Bahasa Riau Laksanakan Gelar Wicara</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1410/peringati-hari-bahasa-ibu-internasional-balai-bahasa-riau-laksanakan-gelar-wicara</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; – Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII) setiap tanggal 21 Februari, tahun ini dilaksanakan dengan meriah di berbagai provinsi di Indonesia. Di Riau, Balai Bahasa Provinsi Riau merayakan HBII dengan melaksanakan Gelar Wicara, Sabtu (21/2/2026) di Sekolah Islah Azzuhra Pusat, Kota Pekanbaru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gelar Wicara kali menghadirkan tiga narasumber, yakni Datuk Syaiful Anwar dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Dr. Fatmawati dari Peneliti BRIN dan Alvi Puspita dari Pendidikan Bahasa Melayu Universitas Lancang Kuning (Unilak). Kegiatan ini juga dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau H. Erisman Yahya, M.H, pimpinan Grup Sekolah Islah, Azzuhra, H. Mulyadi, S.Pd. M.M beserta segenap guru dan siswa, sastrawan serta pimpinan komunitas di Pekanbaru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau Umi Kulsum M.Hum, pada kesempatan itu menegaskan, peringatan HBII menjadi momentum dan pengingat tentang pentingnya Bahasa ibu bagi semua pihak serta sebagai bentuk penghormatan bagi keberagaman bahasa di dunia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’UNESCO pada tahun 1999 menetapkan 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional (&lt;i&gt;International Mother Language Day&lt;/i&gt;). Maka, sejak tahun 2000, peringatan ini dirayakan secara global,’’ jelas Umi Kulsum.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lahirnya HBII bertujuan untuk melestarikan bahasa ibu dan bahasa daerah, menghargai keberagaman budaya dan identitas, mendorong pendidikan multibahasa, dan meningkatkan kesadaran bahwa banyak bahasa di dunia terancam punah, sambung Umi Kulsum. Bagi Indonesia yang memiliki ratusan bahasa daerah, peringatan ini menjadi momentum penting untuk pelindungan dan revitalisasi bahasa daerah, penguatan identitas lokal, dan dukungan kebijakan bahasa oleh pemerintah dan masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Gelar Wicara merupakan salah satu agenda kita dalam memperingati hari Bahasa Ibu tahun ini. Agenda lainnya antara lain, pelatihan menulis aksara arab Melayu disertai lomba, serta pembuatan konten kebahasaan dan kesastraan dalam bahasa daerah. Mari bersama&#45;sama kita ikuti Gelar Wicara ini agar peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional lebih bermakna,’’ sambungnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara iu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau H Erisman Yahya, M.H pada kesempatan tersebut memberikan apresiasi kepada Balai Bahasa Riau yang terus bergerak untuk pelestarian bahasa ibu dan bahasa daerah Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Tentu kami sangat mengapresiasi dengan gerakan dan kegiatan&#45;kegiatan kebahasaan yang dilaksanakan Balai Bahasa Provinsi Riau. Semoga upaya pelestarian bahasa ibu dan juga bahasa daerah ini bisa terus dilaksanakan di Riau serta bisa terus berkolaborasi dengan banyak pihak,’’ kata Erisman pula.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kegiatan Gelar Wicara ini juga ditandai dengan penyerahan penghargaan kepada pihak sekolah, pembacaan syair oleh siswa, peninjauan pameran buku&#45;buku berbahasa daerah yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Riau serta peninjuan kelas SMA di sekolah tersebut.(*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/25223961578-whatsapp_image_2026-02-22_at_22.jpeg"/><pubDate>Sun, 22 Feb 2026 22:16:29 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1410/peringati-hari-bahasa-ibu-internasional-balai-bahasa-riau-laksanakan-gelar-wicara</guid></item><item><title>Wira Saputra Pimpin Persatuan Wartawan Indonesia Kepulauan Meranti Periode 2026&#45;2029</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1409/wira-saputra-pimpin-persatuan-wartawan-indonesia-kepulauan-meranti-periode-20262029</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KEPULAUANMERANTI (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; &#45; Konferensi ke&#45;VI Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kepulauan Meranti berlangsung penuh khidmat dan semangat kebersamaan. Bertempat di Ballroom Afifa, Selatpanjang, Jumat (20/2/2026), wartawan Riau Pos, Wira Saputra, resmi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PWI Kepulauan Meranti periode 2026&#45;2029.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemilihan berlangsung mulus setelah Syafrizal yang sebelumnya maju sebagai calon ketua, menyatakan mengundurkan diri dalam sidang pleno.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sidang dipimpin Ali Imron bersama Bambang Irawan Saputra dan Jinto Lumban Gaol. Dengan demikian, forum secara bulat menetapkan Wira Saputra sebagai nahkoda baru organisasi wartawan tertua di Indonesia itu di Kabupaten Kepulauan Meranti.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Konferensi dibuka langsung Ketua PWI Riau, Raja Isyam Azwar. Dihadiri pengurus PWI Riau Sekretaris Doni Dwi Putra, Wakil Sekretaris Jinto Lumban Gaol, serta Wakil Ketua OKK Bambang Irawan Saputra.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua Terpilih Wira Saputra menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia berharap seluruh anggota PWI Meranti dapat terus menjaga kebersamaan demi keberlangsungan dan kemajuan organisasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;Terima kasih kepada kawan&#45;kawan yang telah memberikan amanah ini. Saya berharap kebersamaan anggota PWI Meranti terus terjaga untuk keberlangsungan organisasi. Terima kasih juga kepada pengurus PWI Riau yang selalu mensupport dan mendukung PWI Meranti. Ke depan, kita akan melanjutkan program&#45;program positif yang telah berjalan,&quot; ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, Ketua PWI Meranti periode 2023&#45;2026, Syafrizal, menyampaikan permohonan maaf jika selama masa kepemimpinannya masih terdapat program yang belum maksimal dilaksanakan. Ia mengapresiasi soliditas anggota yang selama ini menjadi kekuatan utama organisasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;Terima kasih atas kebersamaan selama ini. Semoga kebersamaan dan kesatuan menjadi kekuatan bagi PWI Meranti. Program yang belum terlaksana menjadi catatan untuk kepengurusan ke depan. Semangat kebersamaan adalah tonggak kekuatan organisasi,&quot; ungkapnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua PWI Riau, Raja Isyam Azwar, turut memberikan apresiasi atas kinerja kepengurusan sebelumnya dan mendorong kepengurusan baru melakukan pembenahan internal secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa sebagai organisasi profesi yang menjunjung tinggi kode etik dan kode perilaku, integritas anggota adalah hal mutlak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;PWI merupakan mitra pemerintah, namun fungsi kontrol sosial dan kontrol positif tetap harus dijalankan sesuai tugas jurnalistik. Dorong wartawan muda menjadi anggota biasa dan jangan lalai terhadap kewajiban organisasi. Jaga kekompakan, karena kekompakan adalah tiang organisasi,&quot; tegasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Raja Isyam juga memberikan apresiasi terhadap Koperasi PWI Meranti yang dinilai berkembang baik dan dapat menjadi contoh bagi PWI kabupaten/kota lainnya di Riau. Ia menilai PWI Meranti selama ini tetap kondusif dan solid.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan terpilihnya Wira Saputra secara aklamasi, diharapkan PWI Kepulauan Meranti semakin profesional, berintegritas, serta mampu menjadi pilar informasi dan kontrol sosial yang konstruktif di daerah pesisir tersebut.&lt;strong&gt;(rls/*)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/54072896422-whatsapp_image_2026-02-21_at_11.jpeg"/><pubDate>Sat, 21 Feb 2026 12:43:06 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1409/wira-saputra-pimpin-persatuan-wartawan-indonesia-kepulauan-meranti-periode-20262029</guid></item><item><title>Gunung Karang 1778 MDPL; Atap Banten yang Garang dan Dikeramatkan</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1408/gunung-karang-1778-mdpl-atap-banten-yang-garang-dan-dikeramatkan</link><description>&lt;p&gt;&lt;i&gt;Dibandingkan gunung yang lain, Gunung Karang termasuk rendah; 1778 mdpl. Tapi jangan salah, begitu dijalani, gunung ini memberikan sensasi lebih, bukan karena ketinggiannya, tapi karena bentuk dan banyaknya petilasan yang dikeramatkan kepadanya.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Laporan: &lt;strong&gt;Kunni Masrohanti, &lt;/strong&gt;Banten&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PERJALANAN&lt;/strong&gt; ke Gunung Karang yang terletak di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, memang tidak terencana sejak awal. Apalagi hari&#45;hari terasa melelahkan karena padatnya kegiatan saat mengikuti rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2026 yang dipusatkan di Kota Serang. Tapi, gunung yang terlihat jelas dari kolam renang Hotel Aston, tempat kegiatan HPN dipusatkan itu, terasa memanggil&#45;manggil dari jauh. Jiwa petualang pun muncul.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tanpa banyak cerita, tim &lt;i&gt;Sunting.co.id &lt;/i&gt;menggali informasi tentang terkait Gunung Karang, baik dari teman&#45;teman di sekitar Kota Serang, maupun dari media digital lainnya. Usai acara puncak HPN 9 Februari 2026, perjalanan ke Gunung Karang dimulai dengan menggunakan sepedamotor hasil pinjaman sahabat, Abah Ochim.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekitar 40 menit, perjalanan sampai di beskem Sukarena atau pendakian Gunung Karang via Kampung Guha, Desa Sukarena, Kecamatan Ciomas, Kota Serang. Meski gunung ini berada di Kabupaten Pandeglang, tapi bisa via Kota Serang atau jalur Sukarena.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Beskem Dengan Sarana Lengkap&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesampainya di beskem Sukarena sekitar pukul 16.00 WIB, teman&#45;teman yang dihubungi sebelumnya sudah menunggu. Ada Rian, Habib, Yahya alias Koyon, Madi, dan beberapa kawan lainnya, termasuk gadis&#45;gadis Sukarena yang memang setiap hari berkumpul di beskem. Mereka semua tergabung dalam kelompok pemuda setempat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beskem Sukarena cukup lengkap. Ada dua pondok bersantai terbuat dari bambu dan kayu, salah satunya bertingkat. Registrasi para pendaki selalu dilakukan di tempat ini. Di sebelahnya lagi ada bangunan batu memanjang, tanpa pintu, tanpa tembok di bagian depan. Bangunan ini disiapkan khusus untuk istirahat para pendaki yang bermalam sebelum pendakian dimulai pada pagi harinya, atau setelah turun dari pendakian. Di sebelahnya lagi ada dua kamar mandi yang bersih dengan air yang jernih.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Atap bangunan tempat istirahat yang itu rusak karena tertimpa durian, belum sempat diperbaiki,’’ kata Rian mengawali cerita malam itu sambil menunjuk ke arah bangunan dimaksud.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Memang, satu pohon durian yang besar berada di antara bangunan&#45;bangunan tadi. Nampak atap bangunan yang ditunjuk Rian compel di bagian depannya. Maklum, musim durian baru saja berlalu. Untuk menghindari binatang masuk dalam bangunan itu, Rian dan pemuda setempat memagarinya dengan bambu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Persis di bagian depan bangunan kayu terdapat tulisan Base Camp Sukarena serta beberapa info lain, termasuk nama&#45;nama tokoh atau &lt;i&gt;waliyullah&lt;/i&gt; yang dipercayai memiliki petilasan di Gunung Karang tersebut. Antara lain, Wali Daham Liang Guha, Syekh Sanghiyang Dora, Nyi Ratu Siti Badariah, Raden Panji Sanghiyang Dora, Raden Wijaya Kusuma Sumur 7, Ratu Dita Pasir Ipis dan masih banyak lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Beskem ini dikelilingi petilasan para &lt;i&gt;waliyullah,&lt;/i&gt; termasuk Wali Daham Liang Guha. Makanya kampung ini dinamakan Kampung Guha. Guha artinya goa, karena memang ada goanya di sini,’’ sambung Rian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pendakian via Sukarena tidak mahal. Pendaki hanya dikenakan simaksi Rp25 ribu per orang dan parkir Rp10 ribu. Pendaki menginap gratis, toilet sepuasnya gratis. Bahkan guide pun tidak ditetapkan biayanya. Meski begitu, pelayanan berjalan baik. Pengelola juga ramah dan tidak pelit informasi. Setiap rombongan yang naik juga dibekali HT untuk komunikasi selama pendakian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ziarah ke Liang Guha&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menjelang magrib, Habib dan Yahya atau yang akrab disapa Koyon mengajak tim &lt;i&gt;Sunting.co.id&lt;/i&gt; ziarah ke Liang Guha; gua yang berada di ujung kampung atau searah jalan ke puncak. Tidak terlalu jauh, atau sekitar 25 menit perjalanan, tim tiba di lokasi setelah melewati jalan setapak dan terus naik ke atas bukit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Goa yang basah. Air menetes dari tebingnya, tepat di pintu masuk. Goa horizontal dengan kedalaman sekitar 10 meter ini hanya besar di bagian depan. Makin ke dalam makin menyempit. Air jernih juga mengalir dari tengahnya. Ya, sumber air yang dimanfaatkan sehari&#45;hari oleh masyarakat kampung berasal dari sini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada dua aliran air yang terbuat dari pipa dan bambu. Satu aliran mengarah ke bawah atau terus ke kampung. Satu aliran lagi, yang berbentuk pancuran, khusus mengalir ke kolam kecil yang dibuat dari semen. Ada bak yang siap menampung. Ada gayung juga yang siap digunakan oleh para peziarah. Selain untuk berwuduk, di kolam ini peziarah juga bisa mandi atau bersuci.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dua langkah setelah pintu masuk, atau di samping kolam buatan itu, ada dua petilasan yang ditutup dengan kain putih. Di depan petilasan ini, Habib langsung memimpin doa dan tahlil. ‘’Peziarah juga ada yang bertapa di goa ini,’’ jelas Habib.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Setelah Subuh di Jalur Kebun Cengkeh&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat ziarah ke Liang Guha, yang terlihat di sepanjang kanan kiri jalur merupakan kebun cengkeh dan melinjo. Hal ini juga terlihat saat pendakian di jalur menuju pos 1 hingga pos 2. Di awal&amp;nbsp; pendakian tidak terlihat karena dimulai setelah subuh. Makin siang, hamparan kebun cengkeh makin terlihat jelas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cengkeh tumbuh subur di kawasan ini. Ada yang kecil, sedang, ada juga yang besar dan rimbun. Hijau cengkeh menjadi pesona yang tak biasa. Sayangnya tidak lagi musim buah sehingga aroma rempah kurang terasa.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain cengkeh, melinjo juga tumbuh subur. Ada pula pala dan buah&#45;buahan lain. Di sebagian kebun, ada jagung, kunyit, bahkan vanila. Tapi tidak banyak. Jalur tanah yang cukup licin, tetap terasa asyik karena aneka tanaman rempah yang bisa dilihat.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Nama Pos yang Unik, Petilasan di Tengah Jalur hingga Pendakian Ekstrem&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu keunikan Gunung Karang adalah nama&#45;nama yang disematkan pada setiap pos. Selain itu petilasan di tengah jalur, dan jalur pendakian yang ekstrem.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mendaki ke puncak Gunung Karang serasa menyelesaikan pendidikan dari tingkat dasar hingga sarjana. Pos 1 diberi nama TK alias Tanaman Kontrak. Kata Koyon, seluruh tanaman yang ada di pos 1 hingga pos 2 yang terdiri dari cengkeh dan melinjo, merupakan tanaman kontrak yang boleh diambil hasilnya oleh masyarakat dan dibagi dengan pengelolannya. Tanaman ini hanya ada hingga pos 2 saja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pos 2 di ketinggian 1125 mdpl diberi nama SD alias Sanghiyang Dora. Pos 2 merupakan camp area. Lapang dan luas. Bentuk lokasi kempingnya bertingkat. Ada juga pondok atau warung. Dari pos 2 ini, pendaki bisa melihat hamparan awan dan juga perkampungan di bawah, tapi hanya dari sisi selatan gunung saja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak jauh dari pos 2, pendaki akan bertemu dengan plank nama&#45;nama&lt;i&gt; waliyullah&lt;/i&gt; dan dua petilasan, persis di tengah jalur. Di bagian atas plank ada tulisan Keramat, lalu di bawahnya ada nama&#45;nama. Antara lain, Sanghiyang Dora, Seh Bayakut, Raden Wijaya Kusuma, Ratu Nyi Siti Badariah, TB Aria Dillah, Raden Panji, Ratu Nun Kencana, Ki Jubleg, Nyi Jubleg dan Ki Sancang. Di bagian paling bawah ada tulisan Wajib Jarah alias wajib ziarah. Seperti di Liang Guha, petilasan di sini pun ditutupi dengan kain putih.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pos 3 diberi nama SMP I alias Simpang Pasir Ipis dengan ketinggian 1295 mdpl. Dari pos 2 ke pos 3, jalur semakin mendaki dan curam. Begitu juga dari pos 3 ke pos 4, jalur semakin curam, berakar, dan basah. Kondisi gunung yang basah ini, menjadi rumah bagi makhluk melata seperti pacet.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pos 4 di ketinggian 1545 mdpl diberi nama SMA alias Selamat Menikmati Alam. Lanjut ke pos 5 dengan ketinggian 1715 mdpl yang diberi nama SI atau Sejati. Menuju pos 5, jalur tidak seterjal dari pos 3 ke pos 4. Tapi lebih basah, melipir di tepi jurang dan banyak jalur sempit, termasuk melintasi pohon tumbang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Puncak Sumur Tujuh&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari pos 5 menuju puncak, jalur langsung menurun terjal, sempit seperti dalam parit yang merupakan jalur air. Kemudian naik lagi dan sampailah ke puncak yang dikenal dengan Sumur Tujuh. Ada sumur dengan 7 lubang atau lekukan yang mengitari sekelilingnya.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumur ini juga dipagar dengan bambu yang ditutup sekelilingnya dengan kain putih. Hanya beberapa meter di bawah puncak dan Sumur Tujuh, ada musala dan petilasan lain yang diberi atap dan juga dikelilingi kain putih.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesampainya di puncak yang basah dan penuh tutupan pohon, tim banyak bertemu dengan pendaki lain, terutama dari jalur Kaduengang, Kabupaten Pandeglang. Kebanyakan ustaz dan para santri. Selain berdoa di atas puncak, mereka juga membawa pulang air Sumur Tujuh di dalam botol atau tempat&#45;tempat khusus lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Sebetulnya kalau di sini pendaki lebih disebut peziarah, bukan pendaki. Karena yang ke puncak rata&#45;rata memang untuk ziarah,’’ jelas Koyon lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hujan di sepanjang jalur selama turun, membuat perjalanan sehari itu semakin lambat. Selain mengikuti jalur air yang deras, juga licin, terutama dari pos 2 hingga beskem. Perjalanan yang dimulai 05.30 WIB itu, berakhir kembali di beskem pada pukul 16.30 WIB***&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/83731424491-whatsapp_image_2026-02-15_at_23.jpeg"/><pubDate>Fri, 13 Feb 2026 12:00:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1408/gunung-karang-1778-mdpl-atap-banten-yang-garang-dan-dikeramatkan</guid></item><item><title>LPE Riau Gelar Diskusi Ekowisata dan Penetapan Anggota Baru</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1407/lpe-riau-gelar-diskusi-ekowisata-dan-penetapan-anggota-baru</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id) &lt;/strong&gt;– Laskar Penggiat Ekowisata (LPE) Riau menggelar Diskusi Ekowosata dan Lingkungan sekaligus penetapan anggota baru, Sabtu (14/2/2026) di Warkop Union, Jalan Bandeng, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru. Diskusi kali ini mengusung tema Suara Alam, Suara Kita.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada tiga narasumber yang dihadirkan LPE. Mereka adalah Fandi Rahman dari Paradigma, Ahlul Fadli dari Walhi Riau, dan Yanda Rahmanto dari LPE sendiri. Kegiatan ini dihadiri segenap Organisasi Anggota (OA) Walhi Riau, pimpinan beberapa komunitas serta undangan lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Terimakasih kepada narasumber dan seluruh rekan&#45;rekan yang hadir di acara ini. Kami berharap diakusi kali ini bisa memberi dampak dan melahirkan gagasan&#45;gagasan cemerlang bagi dunia kepariwisataan khususnya yang mengutamakan konservasi lingkungan,’’ ungkap Koordinator LPE Riau, Muhammad Aprianda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diskusi yang berlangsung sekitar dua jam itu membahas berbagai hal. Di antaranya kondisi dunia pariwisata berbasis lingkungan, budaya dan peningkatan ekonomi masyarakat di Riau. Mulai dari obejek wisata, tata kelola yang mendorong keberkelanjutan ekowisata serta kebijakan pihak terkait sehingga mewujudkan ekowisata yang berkelanjutan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diskusi diakhiri dengan tanya jawab dari para peserta serta pemberian hadiah sepesial dari LPE untuk peserta yang aktif bertanya atau memberikan gagasan&#45;gagasan positif yang berdampak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada kesempatan itu, LPE juga menetapkan anggota yang baru bergabung setelah melalui proses penerimaan sebelumnya. Ada 8 anggota yang dinyatakan lolos sebagai anggota dan ditetapkan sebagai anggota resmi LPE pada kesempatan tersebut. Penetapan ditandai dengan pemasangan gelang serta uniform LPE oleh penasehat LPE Kunni Masrohanti kepada salah satu perwakilan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Semengat dan bergerak dengan sungguh&#45;sungguh untuk ekowisata Riau, ya,’’ pesan Kunni kepada perwakilan anggota tersebut seraya memasangkan gelang ke tangannya.(*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/92435713806-whatsapp_image_2026-02-14_at_22.jpeg"/><pubDate>Sat, 14 Feb 2026 19:30:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1407/lpe-riau-gelar-diskusi-ekowisata-dan-penetapan-anggota-baru</guid></item><item><title>Panitia HPN 2026 Sampaikan Terima Kasih kepada Seluruh Mitra PWI</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1406/panitia-hpn-2026-sampaikan-terima-kasih-kepada-seluruh-mitra-pwi</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA (Sunting.co.id) &lt;/strong&gt;– Panitia Hari Pers Nasional (HPN) 2026 Banten, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh mitra Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang telah mendukung suksesnya penyelenggaraan HPN 2026 di Provinsi Banten.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;HPN 2026 Banten yang digelar pada 6–9 Februari 2026 berlangsung lancar dan meriah dengan rangkaian kegiatan nasional yang melibatkan insan pers dari berbagai daerah di Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Penanggungjawab HPN 2026 Banten Akhmad Munir didampingi Ketua Panitia HPN Zulmansyah Sekedang, keberhasilan HPN 2026 tidak terlepas dari kerja keras seluruh panitia, dukungan penuh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten, serta kontribusi para mitra strategis PWI.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Atas nama panitia dan PWI Pusat, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi&#45;tingginya kepada seluruh mitra yang telah mendukung HPN 2026 Banten. Dukungan ini menjadi energi besar bagi insan pers untuk terus berkontribusi bagi bangsa,” ujar Akhmad Munir, yang sehari&#45;hari adalah Ketua Umum PWI Pusat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, Zulmansyah Sekedang yang juga menjabat Sekretaris Jenderal PWI Pusat menambahkan, kolaborasi antara PWI, pemerintah daerah khususnya Pemprov Banten, dan dunia usaha menjadi kunci sukses terselenggaranya HPN 2026. Sinergi tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam memperkuat peran pers sebagai pilar demokrasi dan mitra pembangunan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejumlah perusahaan dan institusi yang turut mendukung HPN 2026 Banten antara lain PT Astra International Tbk, Artha Graha Peduli, Artha Graha Network, PT Bank Central Asia Tbk, PT Pertamina (Persero), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Triputra Group, PT Djarum, BYD Motor Indonesia, PT PLN (Persero), PT Surya Citra Media (SCM) Tbk, Harita Nickel, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Pegadaian, PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), PT Indofood Sukses Makmur Tbk, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, PT Taspen (Persero), Pelindo, Sinar Mas Land, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB), PT Nestle Indonesia, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, PT Bank CIMB Niaga Tbk, Kompas.id, PT Kereta Api Indonesia (Persero), BPJS Kesehatan, PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), serta PT Pupuk Kalimantan Timur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Zulmansyah yang juga Sekretaris Jenderal PWI Pusat ini menambahkan, dukungan para mitra tidak hanya bersifat material, tetapi juga moral dalam memperkuat posisi pers sebagai mitra strategis pembangunan nasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“HPN 2026 Banten menjadi bukti bahwa kolaborasi yang kuat antara pers, pemerintah, dan dunia usaha mampu menghadirkan kegiatan berskala nasional yang berdampak positif bagi daerah dan masyarakat,” pungkasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;HPN 2026 Banten diharapkan meninggalkan jejak positif bagi perkembangan pers nasional serta mendorong penguatan profesionalisme wartawan di era digital.(rls/*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/22223305291-whatsapp_image_2026-02-11_at_19.jpeg"/><pubDate>Wed, 11 Feb 2026 22:23:17 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1406/panitia-hpn-2026-sampaikan-terima-kasih-kepada-seluruh-mitra-pwi</guid></item><item><title>Hadiri Diskusi Kebudayaan, Kepala Balai Bahasa Riau Ajak Rumah Sunting Berkolaborasi</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1405/hadiri-diskusi-kebudayaan-kepala-balai-bahasa-riau-ajak-rumah-sunting-berkolaborasi</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; – Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Dr. Umi Kulsum, S.S, M.Hum, menghadiri Diskuai Kebudayaan yang ditaja Komunitas Seni Budaya Rumah Sunting, Minggu (25/1/2026) di Bocokopi, Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diskusi kali ini, Rumah Sunting mengusung tema Turun Mandi: Sungai, Ibu dan Anak. Turun Mandi merupakan tradisi memandikan anak ke sungai untuk pertama kalinya setelah ia dilahirkan. Kepala Balai Bahasa memberikan respon di akhir diskusi dengan ajakan kolaborasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Terimakasih Rumah Sunting yang telah mengundang kami dalam acara yang sangat bermakna ini. Jika sepanjang kegiatan ini disebut&#45;sebut sungai adalah ibu, kita mempunyai Bahasa Ibu, yaitu bahasa pertama yang didengar atau dikomunikasikan sorang ibu kepada anaknya. Setelah menyaksikan upacara Turun Mandi tadi yang di dalamnya juga ada Batimang, mudah&#45;mudahan ini bisa dikolaborasikan dengan Balai Bahasa Riau. Tahun 2026 ini akan ada kongres bahasa daerah. Semoga Turun Mandi bisa dibangkitkan lagi. Jadi wacananya tidak hanya tingkat Riau, tapi nasional, bahkan internasional. Ini tantangan bagi kita semua,’’ kata Kepala Balai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala Balai hadir sejak awal kegiatan. Dimulai dari pemutaran video dokumenter tentang Turun Mandi, pengantar yang disampaikan pimpinan Rumah Sunting Kunni Masrohanti,&amp;nbsp; mendengarkan lantunan sastra lisan Batimang dilanjutkan Pusung yang menjadi bagian dari Turun Mandi, diskusi, tanya jawab dan lantunan Batimang oleh anak muda Kota Pekanbaru sebagai wujud pembelajaran dan respon oleh Kepala Balai Bahasa sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Kita semarakkan lagi bahwa Turun Mandi, tradisi yang luar biasa. Turun Mandi bukan hanya ritual yang dipraktekkan tapi filosofi tentang hubungan ibu dengan anaknya, dengan sungai dan sekarang rasanya sangat erat dengan kerusakan sungai dan kerusakan alam. Semoga dengan cara ini kita bisa berperan. Dengan ini bisa kita sampaikan kepada anak&#45;anak kita tentang pentingnya, budaya, sastra dan bahasa,’’ lanjut Kepala Balai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala Balai Bahasa juga berkali&#45;kali mengungkapkan rasa terimakasihnya karena diundang dalam kegiatan ini. Ia juga berharap agar Rumah Sunting menjalin komunikasi dengan dinas terkait seperti Dinas Kebudayaan dan Dinas Pendidikan sebagai langkah lanjut sosialisasi tentang pentingnya Turun Mandi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Karena sudah dibuatkan filmnya, dikomunikasn juga dengan Dinas Kebuidayaan dan Dinas Pendidikan sehingga Turun Mandi melalui video ini bisa dikenalkan kepada adik&#45;adik kita bahwa kita punya budaya turun temurun yang sangat toleransi dengan alam dan ekosistem kita. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budaya, bahasa dan sastranya. Jangan sampai zaman sekarang ini generasi muda lebih mencintai kebudayaan luar dibandingkan kebudayaan sendiri,’’ kata Kepala Balai lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diakui Kepala Balai, budaya, bahasa dan sastra mengalami kekurangan baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal ini tentu saja harus ada upaya kreatif dan inovatif, salah satunya dengan merawat dan memperkenalkannya. Di antaranya dengan jalan seni seperti dokumentasi via Instagram, film dokumenter dan lainnya.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di Balai Bahasa sendiri, kata Kepala Balai lagi, untuk mempertahankan bahasa daerah ini dilaksanakan berbagai perlombaan. Salah satunya dengan menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu seperti tembang tradisi. Diakuinya, Batimang adalah salah satunya. Tahun ini, salah satu lokusnya di Pekanbaru. Kepala Balai mengakui cukup sulit menemukan kantong&#45;kantong Melayu di Pekanbau karena banyaknya pendatang.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Mari bersama kerjasama, bahu membahu, saling membantu agar nilai&#45;nilai tradisi tidak hilang begitu saja. Salah satunya dengan menggelar festival. Di harapkan &amp;nbsp;ada ceritanya juga tentang Turun Mandi yang bisa diturunkan kepada anak&#45;anak kita di SD sehingga mereka mengenal budaya. Kalau tidak diperkenalkan, tidak ada dalam kurikulum, maka generasi berikutnya akan semakin jauh. Terimakasih atas upaya yang luar biasa oleh Rumah Sunting ini,’’ harap Kepala Balai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, pimpinan Komunitas Seni Budaya Rumah Sunting menyebutkan, Diskusi Kebudayaan memang merupakan program tahunan Rumah Sunting. Kali ini menyajikan Turun Mandi sebagai upaya pelestarian kearifan lokal agar tidak hilang.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Kami terus belajar dan berupaya melakukan pelestarian kearifan lokal yang berarti juga menjaga alam, semampu kami bisa. Ada nilai&#45;nilai luhur yang harus dipertahankan. Budaya pasti berubah, tapi nilai luhur tentang kejujuran, gotong royong, saling menjaga dan menghargai antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan alam, harus selalu bersebati dengan diri kita. Turun mandi hanya salah satu di antaranya,’’ kata Kunni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kunni mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya Diskusi Kebudayaan ini, terutama kepada para narasumber, pemilik Bocokopi yang memberi ruang dan ksempatan berkolaborasi serta sahabat&#45;sahabat Sunting yang hadir pada kesempatan tersebut. Kunni juga mengucapkan terimakasih atas ajakan kolaborasi dari banyak pihak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Mengapa Diskusi Kebudayaan ini kami hadirkan di tempat tongkrongan anak muda seperti di kafe ini, agar generasi muda juga turut mendengarkan, memahami dan bersama&#45;sama menjadi bagian dalam upaya pelestarian makna dari kearifan lokal yang menjadi kekayaan bangsa kita,’’ kata Kunni lagi.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diskui ini menghadirkan dua narasumber, yakni Muhammad Ade Putra, mahasiswa magister Antropologi Universitas Gajah Mada (UGM) yang juga pengurus KSB Rumah Sunting, dan Ramidar, pelestari Turun Mandi dari Kenegerian Padang Sawah, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar.(*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/19950634838-umi_kulsum_2.jpeg"/><pubDate>Mon, 26 Jan 2026 12:00:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1405/hadiri-diskusi-kebudayaan-kepala-balai-bahasa-riau-ajak-rumah-sunting-berkolaborasi</guid></item><item><title>200 Wartawan Siap Berangkat Retret Orientasi Kebangsaan dan Bela Negara</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1404/200-wartawan-siap-berangkat-retret-orientasi-kebangsaan-dan-bela-negara</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA (Sunting.co,id&lt;/strong&gt;) — Kementerian Pertahanan Republik Indonesia bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat hari ini, Jumat (23/1/2026), memfinalisasi peserta dan seluruh kelengkapan Diklat Bela Negara Wartawan PWI.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Finalisasi tersebut mencakup data pribadi dan perlengkapan sekitar 200 wartawan anggota PWI yang akan mengikuti pelatihan Bela Negara di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bela Negara Kementerian Pertahanan, Bogor, pada 29 Januari hingga 1 Februari 2026.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para peserta diarahkan untuk mengambil pakaian dan berbagai kelengkapan kegiatan Bela Negara di Kantor PWI Pusat pada Rabu, 28 Januari 2026.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selanjutnya, pada Kamis, 29 Januari 2026, peserta akan berangkat bersama&#45;sama menggunakan bus dari Kementerian Pertahanan RI pada pukul 06.30 WIB.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelumnya, Kementerian Pertahanan bersama PWI mematangkan rencana pelaksanaan Diklat Bela Negara bagi wartawan anggota PWI melalui rapat koordinasi yang digelar di Gedung A.H. Nasution, Kementerian Pertahanan RI, Rabu (21/1/2026).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diklat Bela Negara ini merupakan bagian dari rangkaian pelaksanaan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang akan dipusatkan di Provinsi Banten. Sekretaris Jenderal PWI yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia HPN 2026, Zulmansyah Sekedang menegaskan bahwa Diklat Bela Negara ini menjadi salah satu program strategis untuk memperkuat peran wartawan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam rapat itu, Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan, Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait, menjelaskan bahwa lokasi pelatihan dipindahkan dari Akademi Militer Magelang ke Bogor karena padatnya agenda di Akmil Magelang yang menyebabkan jadwal kegiatan dengan PWI berbenturan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Karena agenda di Akmil Magelang padat dan berbenturan dengan jadwal PWI, maka pelaksanaan Diklat Bela Negara dialihkan ke Pusdiklat Bela Negara Kemenhan di Bogor agar kegiatan tetap berjalan optimal,” ujar Rico Sianturi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diklat Bela Negara ini disepakati akan melibatkan sejumlah pemateri strategis dari berbagai kementerian, lembaga, serta kalangan akademisi, termasuk dari Universitas Pertahanan. Program dirancang secara berjenjang dan terukur dengan fokus pada penguatan aspek bela negara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejumlah agenda utama dalam retret ini antara lain kegiatan outbound, immersive learning, serta berbagai materi nilai dasar bela negara yang dirancang untuk membangun mental, disiplin, kepemimpinan, dan solidaritas peserta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam rapat tersebut, Wakil Ketua PWI Bidang Hankam TNI/Polri, Badar Subur, menjelaskan konsep Bela Negara Wartawan PWI ini merupakan hasil kesepakatan antara pimpinan PWI yakni Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir dan Sekjen, Zulmansyah Sekedang bersama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Konsep pelatihan disusun untuk membentuk wartawan yang tidak hanya profesional secara jurnalistik, tetapi juga memiliki ketangguhan mental dan solidaritas kebangsaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Diklat Bela Negara ini menekankan penguatan mental, disiplin, dan solidaritas wartawan sebagai bagian dari pertahanan bangsa dan negara,” kata Badar Subur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menambahkan bahwa konsep kegiatan dirancang secara inklusif dan kolektif. Seluruh peserta akan mengikuti rangkaian kegiatan bersama tanpa pemisahan tim guna membangun kebersamaan, solidaritas, dan komitmen bersama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari sisi teknis, seluruh peserta akan menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti pelatihan. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, peserta akan mengikuti kegiatan Diklat Bela Negara selama tiga hari. Peserta yang dinyatakan lulus berhak memperoleh Sertifikat Bela Negara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, Kepala Pusat Kompetensi Bela Negara BPSDM Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal TNI Ferry Trisnaputra, menegaskan kesiapan pihaknya dalam mendukung penuh pelaksanaan Diklat Bela Negara Wartawan PWI.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kami siap dan merasa terhormat bisa menyambut para wartawan PWI,” ujar Ferry Trisnaputra.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rapat koordinasi pemantapan tersebut turut dihadiri jajaran pengurus PWI lainnya, yakni Wakil Ketua PWI Bidang Hankam TNI/Polri Musrifah, Wakil Ketua Bidang Kerja Sama Kadirah, Wakil Ketua Satgas Anti Hoaks Mercys Charles Loho, serta Wakil Ketua Bidang Humas Akhmad Dani.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam rangkaian persiapan tersebut juga ditegaskan tata tertib peserta, termasuk pembatasan penggunaan telepon genggam, larangan merokok di barak, serta pengaturan jam istirahat malam sebagai bagian dari pembinaan mental, disiplin, dan tanggung jawab kebangsaan.&lt;strong&gt;.(rls/*)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/78195228524-whatsapp_image_2026-01-25_at_09.jpeg"/><pubDate>Sat, 24 Jan 2026 10:44:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1404/200-wartawan-siap-berangkat-retret-orientasi-kebangsaan-dan-bela-negara</guid></item><item><title>WALHI Riau Pertanyakan IPR dan WPR di Kabupaten Kuansing</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1403/walhi-riau-pertanyakan-ipr-dan-wpr-di-kabupaten-kuansing</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; &#45; WALHI Riau mengingatkan Plt Gubernur Riau, Bupati Kuantan Singingi dan Kapolda Riau mengkaji usulan 14.000 ha menjadi Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dengan Izin Pertambangan Rakyat (IPR).&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Romes Irawan Putra, Ketua Badan Pengurus, Kaliptra Andalas sebut langkah ini bukan sebagai solusi, melainkan justru melegalkan dan berpotensi memperluas kerusakan ekologis yang telah berlangsung lama serta mengancam keberlanjutan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuantan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Bahwa formalisasi PETI melalui WPR tidak akan menyelesaikan masalah pencemaran merkuri kronis, degradasi DAS, banjir berulang, dan ancaman kesehatan masyarakat, melainkan berisiko memperparah krisis lingkungan yang sangat kritis,” Romes.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Romes hal ini tidak sejalan dengan pernyataan Suhardiman Amby sebagai Bupati Kuansing yang dalam pemberitaan soal bahaya merkuri dan banjir akibat PETI pada Oktober 2025 lalu . Risiko membuka peluang pertambangan rakyat di area DAS yang kritis tanpa pengawasan ketat justru memperparah kerusakan lingkungan yang telah terjadi.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Walaupun kebijakan ini diatur dalam UU Minerba No. 3/2020 dan turunannya seperti Kepmen ESDM No. 152/2024 tentang Dokumen Pengelolaan Wilayah Pertambangan Rakyat Pada Provinsi Riau, titik lemahnya ialah pengawasan tidak ketat seperti, pemenuhan standar lingkungan (termasuk Amdal atau UKL&#45;UPL), larangan penggunaan merkuri, perlindungan sempadan sungai dan kawasan DAS, dan rehabilitasi pascatambang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ahlul Fadli, Manajer Kampanye dan Pengarusutamaan Keadilan Iklim WALHI Riau, menyebutkan klaim bahwa Izin Pertambangan Rakyat (IPR) akan benar&#45;benar menguntungkan ekonomi masyarakat patut dipertanyakan secara kritis. Meskipun pemerintah Provinsi Riau melalui Plt Gubernur SF Hariyanto mempercepat legalisasi tambang rakyat dengan membentuk Pokja IPR dan menargetkan 30 blok wilayah pertambangan rakyat (WPR) di tujuh kecamatan, kebijakan ini belum tentu berujung pada kesejahteraan masyarakat. Justru skema legalisasi ini berpotensi menjadi pintu masuk bagi pemodal besar.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Skema ini sering kali justru memperkuat ketimpangan, di mana penambang asli hanya menjadi buruh atau pemegang saham kecil, sementara keuntungan besar mengalir ke pihak yang menguasai rantai pasok, peralatan, dan pemasaran emas,” Ucap Ahlul.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menjelaskan, DAS Kuantan saat ini menghadapi dampak lingkungan yang sangat serius, mulai dari kerusakan fisik pada DAS, pendangkalan sungai, degradasi ekosistem, hilangnya biodiversitas, pencemaran merkuri, logam berat dan limbah. Hal tersebut memperparah kerusakan lingkungan, ancaman kesehatan masyarakat, dan kerugian ekonomi jangka panjang.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hasil uji laboratorium Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kuantan Singingi pada Juni 2025 lalu menyebutkan pencemaran akibat limbah Pabrik Kelapa Sawit milik PT Sawit Inti Makmur (SIM) terbukti melampaui ambang mutu kualiatas air.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;“Berdasarkan berbagai kajian ilmiah serta pemantauan lapangan menyebutkan terjadi penurunan kualitas air Sungai Kuantan dan wilayah DAS menghadapi ancaman serius,&apos;&apos; sambung Ahlul.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kunni Masrohanti, Dewan Daeah WALHI Riau menghimbau masyarakat, tokoh masyarakat dan pemuda untuk memahami, Sungai Kuantan adalah sumber kehidupan utama, bukan sekadar komoditas tambang. Kerusakan DAS bukan hanya isu lingkungan, melainkan ancaman ekonomi jangka panjang seperti banjir merusak lahan pertanian, air tercemar mengganggu kesehatan masyarakat, dan hilangnya sumber ikan mengancam ketahanan pangan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Penting untuk menjaga Kelestarian DAS berarti menjaga air bersih, tanah subur, serta hutan sebagai penyangga bencana alam,“ Kata Kunni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kunni mengingatkan penyelamatan DAS Kuantan adalah keharusan, pemerintah harusnya lebih fokus untuk menyiapkan model ekonomi alternatif seperti agroforestri, pariwisata berbasis alam dan budaya, pengolahan Hasil Hutan non&#45;kayu, pertanian dan perikanan air tawar.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Dengan diversifikasi menjadi model berkelanjutan yang menjaga alam, kesehatan masyarakat, dan kesejahteraan jangka panjang.(rls/*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/54683665888-whatsapp_image_2026-01-25_at_10.jpeg"/><pubDate>Wed, 21 Jan 2026 10:12:45 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1403/walhi-riau-pertanyakan-ipr-dan-wpr-di-kabupaten-kuansing</guid></item><item><title>Rumah Sunting Ajak Generasi Muda Bicarakan Tradisi Turun Mandi</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1402/rumah-sunting-ajak-generasi-muda-bicarakan-tradisi-turun-mandi</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; – Malam ini, Sabtu (25/1/2026), pukul 20.00 WIB, Komunitas Seni Budaya Rumah Sunting Pekanbaru menggelar Diskusi Kebudayaan di Boco Kopi, Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru. Kegiatan dilaksanakan &amp;nbsp;berkat kolaborasi antara Rumah Sunting dengan Boco Kopi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kali ini, Diskusi Kebudayaan yang merupakan kegiatan tahunan Rumah Sunting tersebut mengusung tentang tradisi masyarakat adat di sepanjang Sungai Subayang di Kabupaten Kampar yang disebut Turun Mandi, yakni proses memandikan anak ke sungai untuk pertama kali sejak ia dilahirkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diskusi ini juga menghadirkan dua pembicara dari dua generasi yang berbeda. Pertama, Muhammad Ade Putra, seorang mahasiswa magister Antropologi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Kedua, Ramidar, masyarakat Sungai Subayang tepatnya di Desa Padang Sawah, Kampar Kiri, selaku pelestari Turun Mandi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kunni Masrohanti, pimpinan Rumah Sunting, mengatakan, Diskusi ini sengaja dilaksanakan di sebuah &lt;i&gt;coffe shop&lt;/i&gt; &amp;nbsp;yang menjadi tongkrongan anak&#45;anak muda agar nilai&#45;nilai luhur Turun Mandi juga bisa dirasakan dan difahami oleh generasi muda perkotaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Dalam proses Turun Mandi ada upaya pewarisan nilai luhur kearifan lokal dari ibu kepada anak, dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan ada proses pelestarian alam, khususnya sungai. Nilai&#45;nilai ini penting bagi semua generasi, termasuk anak&#45;anak muda perkotaan,’’ kata Kunni.(*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/70646055981-whatsapp_image_2026-01-25_at_09.jpeg"/><pubDate>Sun, 25 Jan 2026 09:50:04 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1402/rumah-sunting-ajak-generasi-muda-bicarakan-tradisi-turun-mandi</guid></item><item><title>Jelang Puncak HPN 2026, Puluhan Wartawan dan Sastrawan Ikuti Kemah Budaya</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1401/jelang-puncak-hpn-2026-puluhan-wartawan-dan-sastrawan-ikuti-kemah-budaya</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;BANTEN (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; &#45; Menjelang puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2026 di Provinsi Banten yang digelar 9 Februari mendatang, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menggelar berbagai kegiatan. Salah satunya Kemah Budaya. Kegiatan inidilaksanakan 16&#45;17 Januari 2026 di Desa Kanekes, tepatnya masyarakat adat Baduy.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Puluhan wartawan dan sastrawan dari berbagai provinsi di Indonesia mengikuti kegiatan yang mengusung tema Belajar Mencintai dari Baduy ini. Ada yang dari Provinsi Kalimantan Timur, Riau, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Banten, dan Jakarta.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari 40 peserta, 80 persennya merupakan perempuan, sesuai dengan proses penerimaan peserta yang memang diprioritaskan untuk wartawati dan sastrawati.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir, didampingi Sekretaris Jendral (Sekjen) Zulmansyah Sekedang, melepas keberangkatan peserta, Kamis sore (15/1) di Kantor PWI Jalan Kebun Sirih. Pada kesempatan itu, pria yang akrab disapa Cak Munir ini menitipkan pesan kepada seluruh peserta agar menghormati seluruh kearifan lokal di Baduy, mencatat apa yang dilihat dan dirasakan melalui karya junalistik dan karya sastra dengan mengutamakan kejujuran dan pelestarian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Kegiatan Kemah Baduy di Banten ini menjadi momen penting sebagai bentuk kontribusi PWI bersama wartawati dan sastrawati yang menjadi peserta untuk Indonesia, khususnya Provinsi Banten yang menjadi tuan rumah perayaan HPN tahun ini. Semoga seluruh peserta bisa memberikan catatan terbaiknya dengan mengutamakan kejujuran, pelestarian dan menghargai seluruh kearifan lokal yang ada di Baduy dalam karya&#45;karyanya,’’ harap Cak Munir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Disambut Pejabat Pemkab Lebak&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keesokan harinya, Jumat (16/1), peserta berangkat menuju Rangkasbitung sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Lebak. Di sini, rombongan peserta disambut segenap pejabat Pemkab Lebak di Aula Museum Multatuli. Ada Asisten Daerah (Asda) III, Dr. yan Fitriyana, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Lebak, Anik Sakinah, serta jajaran Pemkab Lebaklainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penyambutan ditandai dengan penyerahan souvenir berupa syal dan ikat kepala Baduy yang langsung dipakai saat acara tersebut.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Asisten III Pemkab Lebak Dr Iyan Fitriyana dalam sambutannya mengucapkan selamat datang dan terimakasih kepada peserta serta seluruh pengurus PWI baik pusat maupun PWI Provinsi Banten yang hadir. Ia berharap kehadiran PWI dan peserta dengan karya&#45;karya yang akan lahir dari perjalanan Kemah Budaya tersebut memberi dampak positif khususnya bagi masyarakat Baduy dan khususnya bagi Kabupaten Lebak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Baduy menjadi kesitimewaan bagi Kabupetan Lebak, tentu juga bagi Banten. Baduy mengajarkan nilai kehidupan yang sederhana, jujur, dan selaras dengan alam. Tema Belajar Mencintai dari Baduy ini menjadi pengingat penting bagi insan pers agar tetap menjaga nurani, etika, dan tanggung jawab sosial,’’ katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, Ketua Departemen Seni, Musik, Film, dan Budaya PWI Pusat, Ramon Damora, mengatakan, Kemah Budaya ini merupakan bagian dari refleksi jurnalistik menjelang HPN 2026. Ia menegaskan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang pembelajaran bagi wartawan untuk memahami nilai&#45;nilai kebudayaan secara langsung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Baduy memberi pelajaran tentang mencintai kehidupan dengan cara yang jujur mencintai alam, tradisi, dan sesama. Nilai&#45;nilai ini penting dihayati wartawan agar karya jurnalistik tidak hanya informatif, tetapi juga berjiwa dan berempati,” kata Ramon.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain Ramon, hadir dari Pengurus PWI Pusat Ketua Komisi Pemberdayaan Wartawan Perempuan (KPWP) Henny Murniati, Wakil Ketua II Bidang Kerjasama dan Kemitraan Kadirah, Wakil Direktur I Satgas Anti Hoax Mercys Charles Loho, dan Wakil Ketua II Departemen Seni, Musik, Film, dan Budaya Kunni Masrohanti.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala Diskominfo Kabupaten Lebak, Anik Sakinah, turut menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta Kemah Budaya PWI. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkenalkan kekayaan budaya Baduy yang hingga kini tetap menjaga kelestarian alam dan tradisi leluhur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Lebak memiliki Baduy yang konsisten menjaga alam dan nilai&#45;nilai budaya. Ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama,” ucap Anik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Keliling Museum Multatuli&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelum berangkat ke kawasan adat Baduy, rombongan peserta diajak berkeliling Museum Multatuli yang dipandu langsung oleh Kepala Museum Ubaidillah Muchtar. Museum ini diresmikan sejak tahun 2018 yang berfokus pada pengembangan museum, sejarah, antikolonialisme, edukasi dan pelestarian jejarah Lebak. Ubaidillah atau yang akrab disapa Kang Ubai berperan penting dalam keberlanjutan museum ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kang Ubai membawa rombongan berkeliling museum. Ia menceritakan banyak hal. Dimulai dari gambar yang tertera di dinding museum hingga kegigihan dan karya&#45;karya hebat serta pemikiran Multatuli yang berpengaruh besar pada kemerdekaan Indonesia serta menceritakan orang&#45;orang yang pernah mengukir sejarah Rangkasbitung dalam karya&#45;karyanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kang Ubai menunjukkan novel satire karya Multatuli yang berjudul Max Havelaar, nama pena dari&amp;nbsp;Eduard Douwes Dekker. Buku berjudul lengkap Max Havelaar terbit atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda ini pertama kali terbit tahun 1860, setelah Douwes Dekker menjabat sebagai asisten residen di Lebak. Semua buku&#45;buku karya Multatuli masih utuh dan lengkap serta terjaga dengan baik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’&lt;span style=&quot;color:#040C28;&quot;&gt;Mengapa Museum Multatuli ada di Rangkasbitung karena&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dari segi geografis, Rangkasbitung merupakan Ibu Kota Kabupaten Lebak dan lokasinya strategis, sehingga museum ini lebih mudah diakses oleh pengunjung yang datang dari luar daerah. Masuk museum ini sangat murah. Untuk anak sekolah Rp1000, orang dewasa seperti Bapak dan Ibu sekalian Rp2000, untuk pengunjung mancanegara Rp15.000. Dalam waktu sebentar, ribuan pengunjung datang ke sini. Semoga museum ini menjadi pusat literasi dan pusat pembelajaran bagi siapapun,’’ harap Kang Ubai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Mendengar Petuah Jaro dan Jelajah&amp;nbsp; Budaya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah melalui perjalanan sekitar 2,5 jam dari Museum Multatuli dengan jalan naik turun perbukitan, rombongan akhirnya sampai di Ciboleger sekitar pukul 15.30 WIB. Dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dan sampailah di Baduy Luar yang berada di Desa Kanekes. Jaro atau Kepala Desa Kanekes telah menunggu di rumah dinasnya yang disebuh juga dengan Imah Jaro.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berbagai jajanan lokal berupa rebus&#45;rebusan seperti ubi dan pisang serta kopi menambah ruh kearifan lokal Baduy semakin terasa. Apalagi rumah di sepanjang jalan menuju rumah Jaro tersebut merupakan rumah panggung khas Baduy. Dengan duduk santai di teras Imah Jaro atau sosoro sambil menikmati jajanan lokal, peserta mendengarkan banyak petuah dari Jaro.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Selamat datang di Desa Kanekes, Baduy Luar. Mari bersama&#45;sama kita menjaga Baduy dengan segala kearifan lokal yang ada di dalamnya. Kami sangat senang dikunjungi,’’ kata Jaro.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sore menjelang malam itu menjadi kesempatan emas bagi peserta untuk bisa berbicara dan bertanya langsung kepada Jaro tentang banyak hal. Maka peserta pun tidak melewatkan kesempatan itu. Dengan penuh semangat, mereka bergantian menyampaikan rasa keingintahuannya tentang Baduy.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;Malam itu, semua peserta diinapkan di rumah&#45;rumah warga yang berada di Baduy Luar tepatnya di Kampung Ketug i. Di rumah warga ini, peserta turut merasakan bagaimana menjadi masyarakat Baduy dalam semalam. Mereka tidur di lantai bambu dengan penerangan seadanya karena di sana tidak ada listrik, makan bersama dan bisa berinteraksi akrab dengan pemilik rumah.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menjelang siang keesokan harinya, peserta mendapat kesempatan untuk berkeliling kampung, menjelajahi keragaman budaya Baduy serta kekayaan alamnya. Baduy sedang musim buah besar. Hutannya mengeluarkan banyak keberkahan. Durian, manggis, rambutan, petai, pisang dan buah&#45;buahan lainnya terlihat begitu banyak dibawa masyarakat keluar dari dalam hutan menuju perkampungan. Pesertapun tidak hanya meresapi keagungan kearifan lokal Baduy, tapi juga menikmati durian lezat dan buah&#45;buah segar lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Karya Buku&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjalanan Kemah Budaya di Baduy ini akan melahirkan karya buku. Bagi peserta wartawan akan menulis feature, sedangkan peserta sastrawan akan menulis esai, puisi dan cerpen. Seluruh karya dikumpulkan sejak meninggalkan Baduy hingga tanggal 21 Januari. Selanjutnya akan masuk ke meja editor dan percetakan, lalu hadir dalam satu buku.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buku hasil Kemah Baduy tersebut direncanakan akan diluncurkan tanggal 8 Februrai, saat rangkaian puncak perayaan HPN dilaksanakan di Provinsi Banten.(*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/66567879072-whatsapp_image_2026-01-19_at_12.jpeg"/><pubDate>Mon, 19 Jan 2026 12:11:17 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1401/jelang-puncak-hpn-2026-puluhan-wartawan-dan-sastrawan-ikuti-kemah-budaya</guid></item><item><title>Rangkaian HPN, 200 Wartawan Dijadwalkan Retret di Akmil Magelang</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1400/rangkaian-hpn-200-wartawan-dijadwalkan-retret-di-akmil-magelang</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA (Sunting.co.id) &lt;/strong&gt;&#45; Momentum memperingati Hari Pers Nasional 2026 Banten, Kementerian Pertahanan RI bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat akan menggelar retret di Akademi Militer (Akmil) Magelang, Jawa Tengah, pada akhir Januari atau awal Februari 2026.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Retret khusus untuk wartawan tersebut diperuntukkan bagi anggota PWI se&#45;Indonesia sebanyak 200 orang dan akan diberangkatkan bersama&#45;sama dengan pesawat Airbus A400M dari Bandara Halim Perdanakusuma menuju Jateng.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Retret khusus wartawan ini merupakan salah satu hasil silaturahmi dan audensi Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir kepada Menteri Pertahanan RI Jenderal Purn. Sjafrie Sjamsoeddin di Kantor Kemenhan, Rabu (24/12/2025).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat audensi, Ketum PWI Pusat didampingi Sekretaris Jenderal PWI Pusat Zulmansyah Sekedang yang juga Ketua Panitia HPN 2026 Banten dan Wakil Ketua Bidang Pendidikan Zarman Syah. Sedangkan Menhan RI didampingi Sekretaris Jenderal Kemenhan Letjen TNI Tri Budi Utomo dan Kepala Biro Informasi Pertahanan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketum PWI Pusat Akhmad Munir dalam kesempatan audensi menyampaikan PWI yang merupakan organisasi tertua dan terbesar di Indonesia saat ini sudah solid bersatu setelah menggelar Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Jabar, akhir Agustus 2025 lalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;Insya Allah, nanti pada 9 Februari 2026, PWI bersama&#45;sama konsituten Dewan Pers akan menggelar peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Banten dan mengagendakan Bapak Presiden Prabowo Subianto hadir. Kami juga sekaligus mengundang Pak Menhan, Pak Sjafrie Sjamsoeddin, untuk berkenan hadir di puncak acara HPN tersebut,&quot; kata Akhmad Munir, yang juga Dirut LKBN Antara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;HPN 2026, kata Akhmad Munir, banyak kegiatan&#45;kegiatan yang menyertainya selain acara puncak di 9 Februari 2026 bersama Presiden RI. Ada kegiatan berupa Konvensi Nasional Media Massa, ada sarasehan wartawan, konferensi kerja nasional, banyak seminar&#45;seminar, pentas budaya dan pameran UMKM, ada FGD, pameran foto jurnalistik serta berbagai Lomba Karya Jurnalistik (LKJ) untuk insan pers multiplatform.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;Bila memungkinkan, ada juga kegiatan insan pers, wartawan khususnya, yang bisa berkolaborasi dengan program dan kegiatan Kemenhan di 2026,&quot; ungkap Akhmad Munir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menhan RI Sjafrie Sjamsoeddin merespon positif rangkaian kegiatan&#45;kegiatan yang digelar PWI dan konstituen Dewan Pers dalam rangka memperingati HPN 2026. &quot;Insya Allah, Presiden RI juga akan hadir nanti di HPN 2026 Banten itu. Beliau sangat respek dengan wartawan,&quot; ungkap Menhan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Khusus kolaborasi atau kerjasama antara Kemenhan dan PWI, Menhan menyampaikan akan menyiapkan retret khusus untuk wartawan, dalam rangka bela negara. Sekaligus salah satu kegiatan bersama menyambut HPN 2026. &quot;Boleh saja difasilitasi retret khusus untuk 200 wartawan se&#45;Indonesia, seperti dulu pernah bersama KADIN. Silahkan diatur bersama Kepala Biro Infohan,&quot; kata Menhan mengarahkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada kesempatan itu, Menhan juga banyak bernostalgia dengan tokoh&#45;tokoh pers nasional ketika diamanahkan sebagai Kapuspen TNI selama empat tahun lamanya. Dirinya antara lain &quot;menimba ilmu&quot; dengan Jakob Oetama dari Kompas dan Sabam Siagian dari Jakarta Post.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sampai sekarang pun, kata Menhan, dirinya masih sering berkomunikasi dan silaturahmi dengan tokoh&#45;tokoh pers Indonesia. Baik formal, maupun informal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menhan juga menyampaikan kekagumannya kepada almarhum Rosihan Anwar, mantan Ketua Umum PWI Pusat ketika masih wartawan muda berhasil mewawancara langsung Panglima Besar Jenderal Soedirman disaat gerilya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak dulu, kata Menhan, wartawan, pers, sangat berperan terhadap bangsa ini. Ke depan, juga diharapkan peran pers yang lebih besar lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Silaturahmi dan audensi PWI Pusat kepada Menhan RI diakhiri dengan penyerahan cenderamata dan foto bersama Menhan RI&#45;Ketum PWI bersama jajaran&lt;strong&gt;.(rls/*)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/38847667257-screenshot_20251224-174925_whatsapp.jpg"/><pubDate>Wed, 24 Dec 2025 17:00:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1400/rangkaian-hpn-200-wartawan-dijadwalkan-retret-di-akmil-magelang</guid></item></channel></rss>