<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Latest Posts</title><link>https://sunting.co.id/</link><description>Latest posts of our site.</description><atom:link href="https://sunting.co.id/rss" rel="self" type="application/rss+xml" /><item><title>Karhutla Meluas, Jikalahari Soroti Lemahnya Perlindungan Gambut di Riau</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1463/karhutla-meluas-jikalahari-soroti-lemahnya-perlindungan-gambut-di-riau</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; &#45; Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) menyoroti dominasi kawasan peruntukan budidaya di Fungsi Ekosistem Gambut (FEG) di Provinsi Riau. Kondisi ini dinilai dapat menjadi kendala dalam upaya restorasi atau pemulihan ekosistem gambut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;Berdasarkan hasil tumpang susun data FEG dengan pola ruang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Riau yang diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 10 Tahun 2018, sebanyak 93,90 persen kawasan FEG berada di kawasan peruntukan budidaya,&quot; ungkap Koordinator Jikalahari, Okto Yugo Setiyo SE dalam kegiatan Diskusi &amp;amp; Media Briefing: Satu Dekade NDC Indonesia&#45;Dampak Kabut Asap dan Arah Kebijakan Mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Pulau Sumatera di sebuah cafe Jalan Arifin Achmad Pekanbaru, Senin (26/10/2026).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari proporsi tersebut, beber Okto, kawasan peruntukan hutan produksi mendominasi sebesar 59,45 persen, disusul kawasan peruntukan perkebunan sebesar 25,73 persen. Sementara itu, kawasan FEG yang berada di kawasan lindung hanya mencapai 5,72 persen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Okto, kondisi tersebut menjadi perhatian serius dalam upaya perlindungan dan pemulihan ekosistem gambut di Riau. Sebab, sebagian besar kawasan gambut berada dalam ruang yang diperuntukkan bagi kegiatan budidaya dan usaha.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Padahal, regulasi mengenai perlindungan ekosistem gambut, yakni Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perubahan atas PP Nomor 71 Tahun 2014, mengatur perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut, termasuk penetapan fungsi lindung dan fungsi budidaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Dengan dominasi kawasan peruntukan budidaya tersebut, upaya restorasi atau pemulihan gambut akan menghadapi tantangan. Status ruangnya diperuntukkan bagi kegiatan budidaya dan usaha,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kondisi ini menunjukkan pentingnya peninjauan terhadap kesesuaian pola ruang dengan kebutuhan perlindungan ekosistem gambut. Penataan ruang yang memperhatikan fungsi ekologis gambut diperlukan agar upaya pemulihan tidak berbenturan dengan peruntukan kawasan untuk kegiatan usaha.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Okto menilai, perlindungan ekosistem gambut perlu menjadi perhatian dalam kebijakan tata ruang di Riau. Hal ini penting untuk memastikan keberlanjutan fungsi ekologis gambut sekaligus mendukung upaya pencegahan kerusakan lingkungan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Catatan Jikalahari, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meluas. Kabut asap menyebabkan Indeks Standar Kualitas Udara (ISPU) mencapai kategori berbahaya. Hingga 15 Oktober, sebanyak 15 kematian dilaporkan berkaitan dengan karhutla dan kabut asap di berbagai wilayah Indonesia. Jikalahari menilai pemerintah gagal mewujudkan janji mencegah karhutla dan menindak tegas pelaku perusakan lingkungan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebanyak 306.309 kasus ISPA tercatat di tujuh provinsi, 35.910 ribu kasus diantaranya tercatat di Riau. Analisis Jikalahari menggunakan citra satelit Suomi NPP–VIIRS mendeteksi 6.447 hotspot sepanjang 2026. Sebanyak 4.409 titik atau 68 persen berada di lahan gambut. Sebanyak 1.195 titik hotspot berada di kawasan konsesi perusahaan, terdiri atas 231 titik di konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) dan 964 titik di perkebunan kelapa sawit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jikalahari menemukan kegagalan penanggulangan karhutla terjadi secara berlapis, mulai dari pencegahan yang tidak memadai, pemulihan gambut yang terbengkalai, hingga penegakan hukum terhadap korporasi dan perlindungan masyarakat yang belum berjalan sebagaimana mestinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kegagalan tersebut tercermin dalam lima persoalan utama. Pertama, lemahnya pencegahan, ketika peringatan El Nino tidak diikuti penguatan anggaran dan kesiapsiagaan, sementara anggaran BNPB turun sekitar 90 persen dibandingkan 2024. Kedua, lemahnya pengawasan korporasi dan pemulihan gambut. Ketiga, tidak konsistennya perlindungan kesehatan warga, dengan temuan Rumah Oksigen yang terkunci atau tidak aktif, keterbatasan tenaga medis dan perlengkapan di posko Kesehatan. Keempat, belum tuntasnya penegakan hukum, karena hingga rilis ini disusun belum ada korporasi dari laporan Jikalahari pada 2025 dan 2026 yang diumumkan sebagai tersangka. Kelima, lemahnya komunikasi publik pemerintah dan instansi negara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rangkaian temuan tersebut menunjukkan pemerintah belum mampu memastikan pencegahan karhutla, pemulihan gambut, perlindungan warga, dan penegakan hukum berjalan efektif. Dua tahun pemerintahan Prabowo&#45;Gibran justru diwarnai karhutla yang terus meluas, paparan asap yang tiada habisnya, dan belum jelasnya pertanggungjawaban korporasi.&lt;strong&gt;(rls)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/69371361336-whatsapp_image_2026-10-27_at_10.jpeg"/><pubDate>Tue, 27 Oct 2026 11:01:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1463/karhutla-meluas-jikalahari-soroti-lemahnya-perlindungan-gambut-di-riau</guid></item><item><title>FITRA Riau Desak Evaluasi Mitigasi Karhutla, Gelar Diskusi dan Media Briefing</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1462/fitra-riau-desak-evaluasi-mitigasi-karhutla-gelar-diskusi-dan-media-briefing</link><description>&lt;p&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; &#45; Hingga Oktober 2026, wilayah Riau masih dihadapkan pada persoalan klasik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta ancaman kabut asap. Kendati demikian, kondisi cuaca dalam beberapa hari terakhir yang sempat diguyur hujan membantu menjernihkan kembali langit Riau dari kabut asap.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Situasi ini menegaskan urgensi evaluasi terhadap efektivitas adaptasi dan mitigasi dalam penanganan bencana ekologis di tingkat tapak, serta perlunya sinergi lintas sektor secara berkelanjutan guna merumuskan langkah antisipatif ke depan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;Kita semua tahu, hingga Oktober 2026 ini, kita masih terus dihadapkan pada persoalan kebakaran lahan. Bahkan Riau sendiri juga menghadapi kondisi kabut asap yang sampai saat ini, yang alhamdulillah dua hari ini kita diguyur hujan dan langit sudah nampak cerah,&quot; sebut Koordinator Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Riau Tarmizi SH MH dalam kegiatan Diskusi &amp;amp; Media Briefing: Satu Dekade NDC Indonesia&#45;Dampak Kabut Asap dan Arah Kebijakan Mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Pulau Sumatera di sebuah cafe Jalan Arifin Achmad Pekanbaru, Senin (26/10/2026).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk membahas dampak kabut asap serta arah kebijakan mitigasi kebakaran hutan dan lahan di Pulau Sumatera.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Tarmizi, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya langkah adaptasi dan mitigasi yang lebih serius dalam penanganan kebakaran lahan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam diskusi tersebut, Tarmizi menyoroti komitmen Indonesia, Sumatera dan Riau dalam penanganan dampak perubahan iklim, sekaligus meminta tanggapan dari berbagai pihak yang selama ini berkecimpung di bidangnya masing&#45;masing untuk memberikan dukungan terhadap upaya penanganan perubahan iklim. Dan pada 2016 Indonesia telah meratifikasi komitmen internasional terkait penanganan perubahan iklim. Salah satu komitmen utama Indonesia dalam kesepakatan global itu adalah penanganan dampak perubahan iklim.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;Pada hari ini menjadi momentum penting, satu dekade setelah Indonesia meratifikasi kebijakan pada tahun 2016 terkait dengan komitmen perubahan iklim. Nah, salah satu komitmen Indonesia adalah terkait penanganan perubahan iklim itu sendiri,&quot; sebut Tarmizi menekankan, komitmen global tersebut perlu dievaluasi secara kritis, siapa yang sudah menjalankan, dan sejauh mana komitmen itu diterjemahkan dalam program, kegiatan, serta aksi&#45;aksi penanganan dampak perubahan iklim di lapangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;Komitmen global tersebut tentu harus kita lihat, sampai di mana sampai saat ini yang diterjemahkan dalam program kegiatan serta aksi&#45;aksi penanganan dampak perubahan iklim itu sendiri,&quot; tegas Tarmizi, memaparkan pentingnya penguatan langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, khususnya dalam menghadapi tantangan krisis ekologi di wilayah Riau dan Sumatera.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Merefleksikan momentum satu dekade Nationally Determined Contribution (NDC) pasca&#45;Perjanjian Paris di Jakarta, ungkap Tarmizi, Pemerintah Indonesia sendiri telah meratifikasi komitmen tersebut ke dalam kerangka kebijakan nasional, yakni melalui Undang&#45;Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa&#45;Bangsa Mengenai Perubahan Iklim).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Komitmen utama tersebut berfokus pada upaya nyata penanganan perubahan iklim, yang mencakup aspek mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca serta program&#45;program adaptasi terhadap dampak perubahan iklim global.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;Momentum satu dekade pasca ratifikasi komitmen iklim harus menjadi refleksi atas sejauh mana Indonesia, khususnya Sumatera dan Riau, menerjemahkan janji global tersebut ke dalam aksi nyata penanganan perubahan iklim,&quot; katanya.&lt;strong&gt;(rls)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/11203343546-whatsapp_image_2026-10-27_at_10.jpeg"/><pubDate>Mon, 26 Oct 2026 19:30:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1462/fitra-riau-desak-evaluasi-mitigasi-karhutla-gelar-diskusi-dan-media-briefing</guid></item><item><title>Walhi Gelar Diskusi Publik: Tiga Dekade Karhutla Riau yang Tak Bermuara</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1461/walhi-gelar-diskusi-publik-tiga-dekade-karhutla-riau-yang-tak-bermuara</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id) &lt;/strong&gt;&#45; Tiga dekade sudah bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kepungan asap menyelimuti Provinsi Riau. Peristiwa berulang ini menjadi bukti nyata bahwa seluruh upaya pencegahan dan penanganan di tingkat tapak belum mampu menyentuh akar penyebab masalah. WALHI Riau menaja diskusi publik bertajuk “Tiga Dekade Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tak Bermuara” yang digelar di Rumah Gerakan Rakyat WALHI Riau, (20/10/2026).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diskusi ini menghadirkan narasumber dari berbagai sektor, yaitu Ahlul Fadli (WALHI Riau), Andri Alatas (YLBHI&#45;LBH Pekanbaru), Amniati (Riau Women Working Group/RWWG), AKBP Teddy Ardian, S.H., S.I.K., M.H. (Ditreskrimsus Polda Riau), Dr. Musfardi Rustam, S.K.M., M.Epid. (Dinas Kesehatan Provinsi Riau), dan Dr. Prayoto (Akademisi Universitas Lancang Kuning), dengan moderator Dina Reski Putri (WALHI Riau). &amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari kacamata penegak hukum, AKBP Teddy Ardian mengungkapkan, pola keberulangan karhutla di Riau memperlihatkan tren yang jelas, yakni adanya penguasaan dan pemanfaatan lahan yang didorong oleh motif ekonomi kuat. Hingga saat ini, Ditreskrimsus Polda Riau mencatat telah menangani 61 perkara karhutla dengan total 65 orang tersangka, di mana beberapa kasus di antaranya terjadi langsung di dalam wilayah konsesi korporasi.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Meskipun puluhan perorangan telah diproses hukum, penanganan perkara kini juga diarahkan pada kasus kebakaran di wilayah konsesi perusahaan. Kami pun telah mendorong kementerian terkait untuk mengevaluasi perizinan korporasi, terutama yang wilayah konsesinya bersinggungan langsung dengan lahan masyarakat,” tegas AKBP Teddy Ardian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dr. Prayoto memperingatkan bahwa kanalisasi dan pengeringan gambut dalam skala besar oleh pemegang Hak Guna Usaha (HGU) dan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) menjadi pemicu utama kebakaran. Kerusakan lingkungan yang terus berlanjut ini melepaskan emisi karbon dalam jumlah masif, sehingga mengancam target iklim Indonesia dan menuntut perombakan total pada strategi mitigasi yang ada saat ini. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi target iklim nasional dan pencapaian Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 khususnya di Provinsi Riau.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ekspansi perkebunan kelapa sawit dan akasia memicu pengeringan gambut yang menjadi faktor utama penyebab karhutla. Oleh karena itu, pemerintah harus mengevaluasi batas aman pengeringan gambut serta merombak strategi FOLU Net Sink agar tidak berjalan secara business as usual. Penataan ini penting dilakukan melalui pengintegrasian pengelolaan gambut dalam satu kesatuan bentang alam dari wilayah konsesi hingga masyarakat agar upaya penurunan emisi benar&#45;benar berdampak nyata di lapangan,” Jelas Dr. Prayoto lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dampak langsung dari krisis kabut asap yang berkepanjangan adalah lonjakan tajam kasus kedaruratan kesehatan masyarakat di Riau. Dr. Musfardi Rustam, Tenaga Funsional Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat puluhan ribu kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam kurun waktu dua bulan, di mana Kota Pekanbaru menanggung beban kasus tertinggi dengan sebaran mencapai 10.020 kasus.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kasus ISPA dipantau melalui pelaporan dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Riau. Paparan asap karhutla dapat menimbulkan gangguan kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Karena itu, pemantauan kasus, validasi data, serta upaya pencegahan perlu terus diperkuat, terutama untuk kelompok rentan seperti anak&#45;anak dan lansia,” kata Dr. Musfardi Rustam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun jumlah kasus sangat tinggi, Amniati, Direktur Riau Women Working Group (RWWG) menyebutkan fasilitas kesehatan darurat masih sangat sulit diakses oleh kelompok marginal. Hambata mobilitas yang dihadapi oleh penyandang disabilitas dan lansia untuk mengakses layanan puskesmas atau posko kesehatan terdekat di tengah kepungan asap pekat. Pemerintah dituntut tidak hanya sekadar menyediakan fasilitas di atas kertas, tetapi juga wajib menjamin bahwa layanan darurat asap tersebut mudah dijangkau secara fisik dan ramah terhadap kebutuhan spesifik kelompok&#45;kelompok paling rentan tersebut.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Bagaimana kelompok rentan bisa menjangkau posko yang disediakan? Bagi penyandang disabilitas, untuk mencapai posko saat terjadi bencana asap saja sulit, bahkan untuk mengakses puskesmas terdekat pun mereka menghadapi kendala. Karena itu, pemerintah harus memastikan layanan kesehatan dan fasilitas perlindungan benar&#45;benar dapat diakses oleh perempuan, penyandang disabilitas, lansia, dan kelompok rentan lainnya,” ujar Amniati.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Andri Alatas terpilih, Direktur LBH Pekanbaru mengkritik proses penegakan hukum saat ini yang dinilai tidak proporsional karena lebih banyak menyasar masyarakat kecil, sementara aktor&#45;aktor besar belum tersentuh hukum. Proses hukum dinilai sangat agresif ketika menyasar masyarakat kecil atau petani tradisional di tingkat tapak, namun menjadi sangat lambat dan tidak transparan ketika harus mengusut pertanggungjawaban korporasi besar yang wilayah konsesinya terbakar hebat, termasuk menyeret para pemodal besar di balik kejahatan lingkungan ini ke pengadilan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Penanganan karhutla di Riau tidak akan tuntas jika hanya berfokus pada pemadaman api dan penindakan terhadap masyarakat kecil. Kami masih melihat ketimpangan dalam penegakan hukum, ketika masyarakat kecil diproses sebagai tersangka, sementara pertanggungjawaban korporasi yang wilayah konsesinya terbakar belum terlihat secara terbuka. Karena itu, kami mendorong penegakan hukum yang adil dan tidak pandang bulu, termasuk mengusut korporasi serta pemodal yang bertanggung jawab atas karhutla,” ujar Andri &amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ahlul Fadli, Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Riau menyebutkan bahwa banyak perusahaan yang lahannya kembali terbakar tanpa menghadapi sanksi tegas dari pemerintah. Temuan WALHI Riau menemukan adanya perusahaan yang wilayahnya kembali terbakar, sementara komitmen perlindungan dan pemulihan gambut tidak dijalankan sebagaimana mestinya.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Karhutla yang terus berulang di wilayah konsesi menunjukkan bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan memadamkan api. Kami menemukan adanya perusahaan yang wilayahnya kembali terbakar, sementara komitmen perlindungan dan pemulihan gambut tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Karena itu, penegakan hukum harus menyasar pertanggungjawaban korporasi. Pemerintah juga perlu menggunakan kewenangannya untuk mengevaluasi perizinan, memastikan pemulihan ekosistem berjalan, dan memberikan konsekuensi tegas kepada perusahaan yang terbukti melanggar,” ujar Ahlul.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;WALHI Riau mengidentifikasi sedikitnya empat konsesi perusahaan yang terbakar dan telah melaporkannya sejak September 2026, namun hingga kini belum ada tindakan hukum konkret dari pemerintah. Tidak hanya itu, WALHI juga telah melayangkan laporan resmi kepada Presiden Republik Indonesia mengenai 372 perusahaan di seluruh Indonesia yang wilayah konsesinya terindikasi terbakar sepanjang Januari hingga September 2026, di mana 47 perusahaan di antaranya berada di Provinsi Riau. (*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/77961718201-whatsapp_image_2026-10-26_at_14.jpeg"/><pubDate>Mon, 26 Oct 2026 16:16:21 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1461/walhi-gelar-diskusi-publik-tiga-dekade-karhutla-riau-yang-tak-bermuara</guid></item><item><title>Deklarasikan Kaukus Parlemen Hijau, Koalisi Masyarakat Sipil Sambangi DPRD Riau</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1460/deklarasikan-kaukus-parlemen-hijau-koalisi-masyarakat-sipil-sambangi-dprd-riau</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; – Koalisi Masyarakat Sipil (KMS) Riau yang melingkupi 60 organisasi di bidang pemberdayaan masyarakat, lingkungan hidup, GEDSI (&lt;i&gt;Gender Equality, Disability, and Social Inclusion&lt;/i&gt;), transparansi anggaran, kehutanan, perhutanan sosial, dan kebijakan publik, melakukan kunjungan strategis ke Gedung DPRD Provinsi Riau, Senin (5/10/2026).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kunjungan ini bertujuan untuk mendorong percepatan deklarasi Kaukus Parlemen Hijau Daerah Riau yang ditargetkan terealisasi bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 mendatang. Kaukus Parlemen Hijau sendiri merupakan wadah/kaukus lintas fraksi di parlemen yang menyatukan para anggota legislatif yang memiliki komitmen kuat dan visi yang sama terhadap isu&#45;isu lingkungan hidup, keberlanjutan, serta keadilan ekologis demi merumuskan kebijakan yang pro&#45;bumi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Fraksi Gerindra Beri Lampu Hijau, Utus Tiga Anggota Terbaik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada agenda pertama, KMS Riau diterima langsung oleh Ketua Fraksi Gerindra DPRD Riau, Ginda Burnama, S.T., M.T. di Ruang Fraksi Gerindra. Dalam diskusi tersebut, KMS Riau menyampaikan urgensi dan pentingnya deklarasi Kaukus Parlemen Hijau dideklarasikan di gedung parlemen sebagai bentuk komitmen politik hijau di Bumi Lancang Kuning.&lt;br&gt;Merespons hal tersebut, Ginda Burnama menyambut baik inisiatif ini. Ia menyatakan fraksinya siap berkomitmen penuh dan langsung mengutus tiga nama dari Fraksi Gerindra untuk bergabung ke dalam kaukus, yaitu dirinya sendiri (Ginda Burnama), Androy Aderianda, dan Edi Basri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran tokoh KMS Riau, di antaranya Johny Setiawan Mundung (Yayasan Inisiatif Bumi Swarnadwipa), Hasan Supriyanto (Riau Research Center), Sri Wahyuni (Ayu) (Yayasan Bunga Bangsa/Pemberdayaan Perempuan &amp;amp; Perlindungan GEDSI), Defi (WALHI Riau), Gusmansyah (FITRA Riau), serta Sukarno (Kiki) (Lembaga Pemberdayaan Ekonomi dan Sosial Masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PDIP Sambut Baik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Usai dari Fraksi Gerindra, sekitar pukul 10.30 WIB, rombongan KMS Riau melanjutkan gerakannya menuju Ruang Fraksi PDI&#45;Perjuangan. Diskusi di fraksi ini berlangsung hangat dan seru lantaran Ketua Fraksi PDI&#45;P Riau, Makmun Solikhin (akrab disapa Mas Ikin), memiliki rekam jejak yang lekat dengan gerakan sipil.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mas Ikin merupakan mantan Direktur Eksekutif Yayasan Tanah Air pada era awal reformasi (tahun 2000&#45;an). Ia dan para aktivis KMS Riau pernah berjuang bersama dalam Konsorsium Masyarakat Sipil untuk menyelamatkan hutan Riau melalui skema Hutan Kemasyarakatan serta menyelamatkan kawasan PLTA Koto Panjang pada tahun 2001 hingga 2003.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Didampingi anggota fraksi Robin Hutagalung, Makmun Solikhin menyatakan komitmen penuh dan rasa antusiasnya terhadap pembentukan Kaukus Parlemen Hijau Daerah Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;Kami sangat mendukung dan menyambut baik wadah ini demi mempercepat lahirnya regulasi hijau daerah, seperti Perda Lingkungan Hidup, Perda Perhutanan Sosial, Perda Mangrove Riau, hingga Perda Masyarakat Hukum Adat/Ulayat yang saat ini sedang dibahas serius oleh DPRD Riau,&quot; ujar Makmun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak main&#45;main, Fraksi PDI&#45;P bahkan siap memfasilitasi jalannya Deklarasi Kaukus Parlemen Hijau Daerah Riau tersebut.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;Kami juga akan mengundang perwakilan Anggota DPRD dari tingkat Kabupaten dan Kota se&#45;Provinsi Riau, &lt;i&gt;Insyaallah&lt;/i&gt;,&quot; pungkasnya optimis.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan dukungan kuat dari dua fraksi besar di DPRD Riau ini, KMS Riau berharap langkah legislasi dan kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan dan hak&#45;hak masyarakat adat di Provinsi Riau dapat melesat lebih cepat.(*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/66599280452-whatsapp_image_2026-10-05_at_13.jpeg"/><pubDate>Mon, 05 Oct 2026 13:55:13 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1460/deklarasikan-kaukus-parlemen-hijau-koalisi-masyarakat-sipil-sambangi-dprd-riau</guid></item><item><title>PWI Luncurkan Website Terintegrasi, 40 Daerah Kini Terhubung</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1459/pwi-luncurkan-website-terintegrasi-40-daerah-kini-terhubung</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) resmi meluncurkan &lt;i&gt;website&lt;/i&gt; terintegrasi &lt;i&gt;pwi.or.id&lt;/i&gt; pada Kamis, 1 Oktober 2026. Peluncuran berlangsung &lt;i&gt;hybrid&lt;/i&gt; dari Kantor PWI Pusat, Lantai 4 Gedung Dewan Pers, Jakarta, dan diikuti pengurus PWI dari berbagai daerah secara &lt;i&gt;daring&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;Website&lt;/i&gt; utama PWI kini telah terhubung dengan hampir 40 &lt;i&gt;website&lt;/i&gt; PWI daerah melalui subdomain masing&#45;masing. Pengembangan jaringan tersebut ditujukan untuk memperkuat informasi dan komunikasi PWI dari pusat hingga daerah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua Bidang Multimedia dan IT PWI Pusat Hilman Hidayat mengatakan sejumlah fitur masih dalam tahap pengembangan dan membutuhkan persetujuan PWI Pusat, termasuk pemasangan iklan dan monetisasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Rencana pertama pwi.or.id dan di lima kota provinsi. Sekarang sudah hampir 40 &lt;i&gt;website&lt;/i&gt; seluruh Indonesia sudah terkoneksi di &lt;i&gt;pwi.or.id&lt;/i&gt;,” kata Hilman Hidayat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hilman mengatakan jaringan &lt;i&gt;website&lt;/i&gt; akan memperkaya konten PWI karena setiap daerah dapat menyajikan informasi dan kegiatan masing&#45;masing. PWI juga menyiapkan versi mobile yang ditargetkan dapat diunduh melalui &lt;i&gt;platform&lt;/i&gt; aplikasi pada tahun depan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Tahun depan kita akan buat versi &lt;i&gt;mobile&lt;/i&gt; bisa diunduh di &lt;i&gt;Play Store&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Google Play&lt;/i&gt;,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pengembangan digital PWI juga mencakup sistem data keanggotaan. Data provinsi ditargetkan dapat diperbarui oleh PWI provinsi masing&#45;masing pada 2027, termasuk sistem yang dapat memberikan peringatan ketika masa berlaku kartu anggota telah habis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PWI Dorong Daerah Aktif Produksi Konten&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir meminta pengurus PWI daerah aktif mengisi dan mengembangkan &lt;i&gt;website&lt;/i&gt; masing&#45;masing. Konten yang dikembangkan dapat mencakup informasi internal PWI, kegiatan &lt;i&gt;stakeholder, &lt;/i&gt;serta dinamika pers di daerah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Teman&#45;teman daerah diharapkan aktif mengisi semua konten terkait ke&#45;PWI. Kedua, &lt;i&gt;stakeholder &lt;/i&gt;PWI dan pihak luar,” kata Akhmad Munir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akhmad Munir mengatakan konsistensi produksi berita dan video dapat meningkatkan jumlah kunjungan &lt;i&gt;website&lt;/i&gt; sekaligus membuka peluang monetisasi. Aturan mengenai iklan dan monetisasi akan disiapkan dan disepakati PWI Pusat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Hari ini agendanya tunggal, &lt;i&gt;launching&lt;/i&gt; resmi website PWI,” ujar Akhmad Munir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia juga meminta pengurus daerah menjaga konsistensi produksi konten agar &lt;i&gt;website &lt;/i&gt;PWI semakin mudah ditemukan melalui mesin pencari dan media sosial.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Diharapkan bergulir konsisten sehingga muncul di &lt;i&gt;search engine&lt;/i&gt; dan viral di medsos atau viral di WA &lt;i&gt;(WhatsApp) &lt;/i&gt;kita, jadi lebih mudah meningkatkan keterbacaan dari website PWI ini,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Peluncuran &lt;i&gt;website &lt;/i&gt;ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Akhmad Munir, didampingi Sekretaris Jenderal PWI Pusat Marthen Selamet Susanto dan Hilman Hidayat. Puluhan pengurus PWI daerah yang menjadi admin portal daerah menyaksikan prosesi tersebut melalui&lt;i&gt; Zoom.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PWI Riau Siapkan Konten Berita dan Video&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua PWI Riau Raja Isyam Azwar mengatakan PWI Riau antusias dengan peluncuran jaringan &lt;i&gt;website&lt;/i&gt; tersebut. Menurut Raja Isyam Azwar, &lt;i&gt;website&lt;/i&gt; PWI Riau akan memudahkan kegiatan PWI Riau diketahui oleh jaringan PWI di seluruh Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;Website&lt;/i&gt; PWI Riau menggunakan alamat &lt;i&gt;riau.pwi.or.id.&lt;/i&gt; PWI Riau menunjuk tiga admin, yaitu Jinto Lumban Gaol, Anthony Harry, dan Yendrizal, yang masing&#45;masing berperan sebagai &lt;i&gt;editor.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kami akan coba produksi banyak berita dan video untuk konten &lt;i&gt;website&lt;/i&gt; ini,” kata Raja Isyam Azwar.(*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/20017962594-whatsapp_image_2026-10-02_at_15.jpeg"/><pubDate>Fri, 02 Oct 2026 20:11:47 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1459/pwi-luncurkan-website-terintegrasi-40-daerah-kini-terhubung</guid></item><item><title>Tambang PT BPP Semakin Masif, Masyarakat Batu Ampar dan Selensen Sampaikan Lima Tuntutan</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1458/tambang-pt-bpp-semakin-masif-masyarakat-batu-ampar-dan-selensen-sampaikan-lima-tuntutan</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; &#45; Masyarakat Selensen dan Batu Ampar, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, melayangkan surat aduan ke berbagai instansi pemerintah sebagai bentuk koreksi terhadap praktik ekstraktif yang terus mengorbankan ruang hidup merekia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Surat tersebut menyoroti aktivitas pertambangan batu bara PT Bara Prima Pratama (PT BPP) yang semakin masif. Operasi perusahaan ini tidak hanya merusak lingkungan, mencemari Sungai Retih sebagai sumber kehidupan utama, tetapi juga mengancam keselamatan masyarakat, anak&#45;anak, dan lahan yang telah diwariskan secara turun&#45;temurun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak 28 Agustus 2026, surat aduan telah dikirimkan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, DPR RI, Gubernur Riau, Lembaga Adat Melayu Riau, DPRD Provinsi Riau, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Riau, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Riau, Bupati Indragiri Hilir, Lembaga Adat Melayu Riau Kabupaten Indragiri Hilir, DPRD Kabupaten Indragiri Hilir, Camat Kemuning, Lembaga Adat Melayu Riau Kecamatan Kemuning, Lurah Selensen, Kepala Desa Batu Ampar, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Selensen, serta Badan Permusyawaratan Desa Batu Ampar. &amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Melalui surat aduan ini, masyarakat Selensen dan Batu Ampar menyerukan pemulihan lingkungan yang berdampak terhadap kehidupan sehari&#45;hari warga. Henriyanti, perwakilan kelompok Perempuan Batu Ampar, menegaskan bahwa saat ini sungai dicemari hingga ikan, udang, dan siput menghilang. “Sudah terlalu lama negara mengabaikan masyarakat. Kami juga sangat terganggu dengan keberadaan lubang&#45;lubang tambang raksasa yang menganga tanpa pagar di dekat permukiman. Kondisi ini dikhawatirkan mengancam keselamatan warga, terutama anak&#45;anak yang setiap hari harus melewati jalan di sekitar area tambang,” ujar Henriyanti, baru&#45;baru ini.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelumnya, pada Sabtu 6 Juni 2026, masyarakat Batu Ampar menggelar aksi protes di kawasan lubang bekas tambang PT BPP untuk menuntut pertanggungjawaban atas kerusakan lingkungan dan ketiadaan upaya pemulihan. Aksi tersebut diabaikan perusahaan. Arogansi berlanjut pada Kamis 30 Juli 2026, ketika air Sungai Retih tiba&#45;tiba berubah keruh pekat berwarna cokelat akibat limbah tambang.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekelompok perempuan menyambangi pos jaga PT BPP untuk mempertanyakan asal pencemaran. Pihak penjaga membantah adanya penjebolan kolam pengendapan limbah (settling pond). Warga kemudian menelusuri sendiri aliran air dan menemukan bukti kuat pembuangan limbah langsung dari kolam tambang ke badan sungai. &amp;nbsp;Kerusakan ini bukan yang pertama.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak PT BPP beroperasi pada 2022, masyarakat berulang kali dirugikan. Pada 2023, aktivitas pengerukan bahkan melewati batas lahan hingga membuat akses jembatan penghubung permukiman dengan pemakaman umum jebol, sehingga aktivitas pemakaman warga terganggu karena terpaksa melewati jalan utama pertambangan. &amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Direktur YLBHI&#45;LBH Pekanbaru, Andri Alatas, menegaskan bahwa praktik pengabaian PT BPP merupakan kejahatan lingkungan dan pelanggaran hak masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Pemerintah dan aparat penegak hukum tidak boleh abai terhadap penderitaan warga Selensen dan Batu Ampar. Tindakan PT BPP mulai dari pencemaran korporasi terhadap aliran sungai, aktivitas penambangan yang mengancam keselamatan permukiman, hingga penyerobotan fasilitas umum merupakan pelanggaran nyata terhadap hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagaimana dijamin oleh Undang&#45;Undang Dasar 1945 Pasal 28H ayat (1),” tegas Andri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Senada dengan hal tersebut, Koordinator PMEL dan Manajemen Pengetahuan WALHI Riau, Dina Reski Putri, menegaskan bahwa bagi masyarakat Batu Ampar dan Selensen, sungai adalah urat nadi kehidupan, identitas budaya, serta ruang hidup yang menyatu dengan keseharian mereka. Namun, kondisi sungai saat ini telah tercemar parah dan mengancam keselamatan serta keberlangsungan hidup masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Sungai Retih dan ruang kelola Masyarakat adalah sumber penghidupan utama yang kini dihancurkan oleh ekspansi tambang. Ketika air sungai dicemari dan lubang&#45;lubang bekas tambang dibiarkan tanpa reklamasi, keselamatan masyarakat sengaja dikorbankan demi keuntungan segelintir orang. WALHI Riau mendesak pemerintah segera melakukan audit lingkungan secara menyeluruh dan transparan serta mempublikasikan hasilnya kepada publik. Tata kelola tambang harus berpihak pada masyarakat dan pemulihan ekosistem, bukan pada kepentingan oligarki,&apos;&apos; ujar Dina.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Melaui surat tersebut, masyarakat Selensen dan Batu Ampar merumuskan lima poin tuntutan utama yang berfokus pada pemulihan lingkungan dan perbaikan tata kelola: &amp;nbsp;Mendesak PT BPP segera melakukan reklamasi pasca tambang terhadap seluruh lahan bekas operasional pertambangan di wilayah Selensen dan Batu Ampar sesuai ketentuan hukum yang berlaku.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lima Tuntutan:&lt;br&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Meminta pemerintah dan instansi terkait melakukan pengawasan ketat serta mengambil langkah tegas guna memastikan pelaksanaan reklamasi PT BPP. &amp;nbsp;&lt;br&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Menuntut pemulihan lingkungan dan ruang hidup masyarakat yang terdampak, khususnya terkait pencemaran Sungai Retih dan degradasi tanah. &amp;nbsp;&lt;br&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Memastikan tidak ada lagi lubang tambang PT BPP yang terbuka tanpa pengamanan di wilayah Selensen dan Batu Ampar. &amp;nbsp;&lt;br&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Meminta pemerintah berwenang melakukan audit lingkungan dan memublikasikan hasil pemeriksaannya secara terbuka kepada masyarakat. &amp;nbsp;&lt;br&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Mendesak pemerintah memberikan sanksi administratif maupun tindakan hukum tegas, termasuk pencabutan izin, apabila PT BPP tidak menjalankan kewajiban reklamasi dan pemulihan lingkungan.***&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/95389135166-whatsapp_image_2026-10-02_at_17.jpeg"/><pubDate>Fri, 02 Oct 2026 19:35:25 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1458/tambang-pt-bpp-semakin-masif-masyarakat-batu-ampar-dan-selensen-sampaikan-lima-tuntutan</guid></item><item><title>Serunya Trip Bersama LPE Riau, Bukan Sekedar Jalan&#45;Jalan Biasa</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1457/serunya-trip-bersama-lpe-riau-bukan-sekedar-jalanjalan-biasa</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;BULUHCINA (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; – Sekelompok anak muda yang menamakan diri mereka Laskar Penggiat Ekowisata (LPE ) Riau, menggelar perjalanan wisata dengan konsep lingkungan dan pemberdayaan masyarakat atau ekowisata. Buluhcina yang merupakan desa wisata di Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar ini menjadi lokasi pilihan. Perjalanan wisata itu pun dilaksanakan, Minggu (27/9/2026).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjalanan diawali dengan &lt;i&gt;Open Trip&lt;/i&gt; terbatas, yakni hanya untuk 10 orang. Sedangkan paket wisata yang ditawarkan cukup beragam. Ada &lt;i&gt;trekking forest,&lt;/i&gt; satu jam menjadi &lt;i&gt;mahout&lt;/i&gt;, edukasi konservasi, santai di tepi danau dan &lt;i&gt;soul sharing session&lt;/i&gt;. &amp;nbsp;Selain itu, mereka juga bisa menikmati objek dan praktik kebudayaan masyarakat setempat seperti pembuatan perahu, rumah&#45;rumah panggung dan lain sebagainya. Mereka berangkat dari Kota Pekanbaru pukul 20.00 dan kembali sampai di Pekanbaru pukul 16.00 WIB.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yanda Rahmanto, koordinator kegiatan yang juga wakil ketua LPE Riau, mengatakan, &lt;i&gt;open trip&lt;/i&gt; ke Buluhcina bukan hanya akan menjadi program rutin LPE, tapi bagaimana program yang dilaksanakan berdampak bagi masyarakat baik sosial, ekonomi dan budaya masyarakatnya.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Buluhcina ini memang sudah menjadi tempat bermain LPE sejak awal berdiri tahun 2014. Berbagai kegiatan sudah dilakukan di sini, terutama yang berdampak bagi lingkungan dan masyarakat. Seperti kegiatan wisata, kegiatan di alam bebas hingga penanaman pohon. Perjalanan wisata kali ini, juga kami harapkan bisa menjadi pengetahuan baru bagi peserta bahwa Buluhcina kaya baik alam maupun budayanya,’’ kata Yanda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di desa ini juga ada Taman Wisata Alam (TWA) yang dikelola oleh Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. Di sinilah t&lt;i&gt;rekking forest &lt;/i&gt;dan bermain dengan gajah serta edukasi konservasi bisa didapatkan peserta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Jika tidak ada aral melintang, &lt;i&gt;open trip&lt;/i&gt; ke Buluhcina ini akan menjadi agenda tetap yang dilaksanakan dua kali dalam sebulan. Lagi&#45;lagi dengan peserta terbatas supaya perjalanan yang kami tujukan untuk edukasi konservasi, bahwa makna hutan adalah rumah, pohon adalaha teman, dan masyarakat hidup damai di sana, ini mudah diserap oleh peserta. Nah, yang paling unik dari trip ini adalah &lt;i&gt;soul sharing session &lt;/i&gt;yang kami laksanakan dengan menggunakan pendekatan alami atau kembali ke alam bebas,’’ kata Yanda lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah seorang peserta, Duma, mengakui perjalanan ke alam bebas Buluhcina bersama LPE Riau sangatlah seru. Selain bisa menghirup udara segar, juga bertemu dengan kawan&#45;kawan baru yang sangat asyik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Menurutku perjalanan bersama LPE seru,&lt;i&gt; sih.&lt;/i&gt; masuk hutan, menghirup udara segar, mendengar suara&#45;suara burung, menyentuh dauh&#45;daun hijau yang basah dan segar. Ah, pokoknya seru. tambah seru pas digigit pacet. Ya, karena hujan basah, wajar ada pacet. Tapi seru aja dan ini bukan sekedar jalan&#45;jalan biasa,&apos;&apos; kata Duma.(*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/93626089009-whatsapp_image_2026-09-28_at_07.jpeg"/><pubDate>Tue, 29 Sep 2026 15:46:07 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1457/serunya-trip-bersama-lpe-riau-bukan-sekedar-jalanjalan-biasa</guid></item><item><title>Puisi Kunni Masrohanti</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1456/puisi-kunni-masrohanti</link><description>&lt;p&gt;Puisi&#45;Puisi Kunni Masrohanti&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PENIMBUN PELIPUR DI KAKI CIREMAI&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saban waktu adalah terik&lt;br&gt;Angin mengencang, embun tak basah, tanah&#45;tanah kering, retak&lt;br&gt;Air mesti disimbah, sekian ingin menyerah, mereka terdiam, kalah&lt;br&gt;Engkau tak kenal telah&lt;br&gt;Senyummu selalu basah, tipis&lt;br&gt;Menjadi garis apa yang sudah menjadi tidak&lt;br&gt;Menjadi gerimis di jantung&#45;jantung kecil yang &amp;nbsp;belum mengenal apa itu lalu,&amp;nbsp;&lt;br&gt;tadi itu ini sudah akan dan bagaimana kelak&lt;br&gt;kecuali&lt;br&gt;Mah abdi lapar&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa yang baru kusepuh mengapa menjadi karat&lt;br&gt;Ranghyang Kuku, aku bukan ibumu, Pwahaci Rahbabu&amp;nbsp;&lt;br&gt;yang melahirkan musuh satu kelambu, yang menggunungkan dendam&lt;br&gt;sepanjang perjalanan hingga takhta Galuh&amp;nbsp;&lt;br&gt;dengan keringat darah harus kau taklukkan&lt;br&gt;Aku bukan ibumu, mengapa dihukum malu&lt;br&gt;Mungkinkah aku Dewi Sanaha,&amp;nbsp;&lt;br&gt;saudara seibu yang yang seharusnya menjadi bisa,&amp;nbsp;&lt;br&gt;menjadi penghibur seluruh lara&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kau yang terus bertanya salahmu apa,&lt;br&gt;tanganmu membesi, terus menggali tanah&#45;tanah kering&lt;br&gt;Saban waktu, meski &amp;nbsp;ingin jelas&#45;jelas koyak di sekali sela&lt;br&gt;Terus lagi tak henti terus gali hingga keringat mengembun api&lt;br&gt;Dan kau timbun pelipur di kedalaman waktu&lt;br&gt;Agar janji menguat sampai ke ujung musim&lt;br&gt;Tak jadi hantu tak jadi malu&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di lereng Ciremai tanah Cigugur ini&lt;br&gt;Pelipur yang kau tanam tumbuh subur,&amp;nbsp;&lt;br&gt;menjadi jawab setiap tanya yang kau sebut galur&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kuningan, Juli 2026&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;SANGHYANG ROPOH;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;ANTARA RIMBA DAN BATU&#45;BATU KECIL YANG MEMBAWAKU PULANG&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Disaksikan hari yang perlahan membuka mata,&amp;nbsp;&lt;br&gt;Kau &amp;nbsp;tawarkan tiba&#45;tiba yang purna&lt;br&gt;Tiba&#45;tiba kilat, tiba&#45;tiba beku, tiba&#45;tiba begitu, tiba&#45;tiba,&amp;nbsp;&lt;br&gt;tiba&#45;tiba cermin&lt;br&gt;Mengaca aku pada wajahmu yang langit,&lt;br&gt;pandang yang terbuka setelah rimba batas&lt;br&gt;Kau di sini Sanghyang Ropoh&lt;br&gt;Bukan &amp;nbsp;putri, bukan dewa, bukan tokoh, bukan sanjungan,&amp;nbsp;&lt;br&gt;bukan bukan&lt;br&gt;Merenung aku di dadamu&lt;br&gt;Berbisik pada subuh yang bisu&lt;br&gt;Sedang semburat ufuk sibuk membuat mata mabuk, Surili &amp;nbsp;mengangguk&amp;nbsp;&lt;br&gt;setengah kantuk&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sedikit lagi langkah kita sampai pada puncak yang bukan&lt;br&gt;Sebab pulang adalah tujuan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sanghyang Ropoh&lt;br&gt;Detik entah yang ke berapa, tiba itu akan sampai,&lt;br&gt;disaksikan palahlar, jamuju, sonokeling dan saniten&lt;br&gt;Batu&#45;batu kecil ini mengingatkan agar aku pergi sebelum jauh&lt;br&gt;Dia yang membawaku pulang ketika lupa adalah bunga di benakku,&lt;br&gt;antara rimba dan batu&#45;batu kecil di cadas mau&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kuningan, 2026&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KAWIN CAI&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Coba lihat mana yang kita siram menjadi apa&lt;br&gt;Dari air di tanahmu dan tanah kita,&amp;nbsp;&lt;br&gt;yang jernih atau yang keruh,&lt;br&gt;yang wangi atau beraroma rusuh&lt;br&gt;Ia tumbuh menjadi bunga di jantung kita&lt;br&gt;Wanginya sampai ke ujung paling pulang&lt;br&gt;Ia menjadi syukur pada musim&#45;musim pertemuan,&lt;br&gt;dan diksi&#45;diksi bermunajat&lt;br&gt;Satu&lt;br&gt;Rindu&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di Kuningan, banyak cai kita kawinkan&lt;br&gt;Dari rapal yang tak biasa menjadi doa&lt;br&gt;Satu tempat banyak siraman&lt;br&gt;Banyak tangan satu sasaran&lt;br&gt;Satu akar muasal&lt;br&gt;Karuhun agung di puncak gunung,&amp;nbsp;&lt;br&gt;di lembah, di laut, di rimba&#45;rimba berkabut,&lt;br&gt;di semua sudut&lt;br&gt;Satu&lt;br&gt;Pulang&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kuningan 2026&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KAU LISUNGKAN JUA JANJI TIBA DI BAWAH PURNAMA&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Geulis,&lt;br&gt;Janji yang kau terima saat purnama telah tiba&lt;br&gt;Sinjang kau rapikan, gincu kau ratakan&lt;br&gt;Selarik senyum di kaca kecil, kau tatap kuat&lt;br&gt;Cemas yang gagap&lt;br&gt;Ia maha irama yang mendegubkan jantungnya &amp;nbsp;tanpa jeda&lt;br&gt;Kau purnama dipapag mantra&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karuhun membawamu pulang ke akar semesta&lt;br&gt;Hitung watku opat belasan, bintang menjadi arah pulang,&amp;nbsp;&lt;br&gt;musim mana jadi pegangan&lt;br&gt;Lalu kau pilih halu, lisungkan rindu pada hati pilihan ibu&lt;br&gt;Di bawah purnama menjadi gerencong&lt;br&gt;Gemerincinglah suara lisung di dadamu&lt;br&gt;‘’trok, tung..dung..prek’’&lt;br&gt;Dia datang&lt;br&gt;Orang&#45;orang tiba&lt;br&gt;Laman penuh, riang tawa tabuh menabuh&lt;br&gt;Halu lisung penanda temu&lt;br&gt;Mapag Purnama menjadi restu&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kuningan, 2026&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;RIUH SUARA TUJUH BELAS RENTENG&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesekali bersuara, tapi riuh&lt;br&gt;Saat riuh, yang lain runtuh&lt;br&gt;Runtuh dalam seonggok nasi kuning, ayam sepotong&amp;nbsp;&lt;br&gt;dan aroma kemenyan yang sombong&lt;br&gt;Tak bisa satu, tak jadi jika tujuh&lt;br&gt;Tak hidup meski separuh&lt;br&gt;Belasmu waras, serenteng datangkan punca tanpa geleng&lt;br&gt;Aih, pesan paling sungguh di renteng paling jauh&lt;br&gt;Jauh ke belakang waktu, jatuh kesombongan&lt;br&gt;Sampurasun karuhun&lt;br&gt;Ku dengar pelan&#45;pelan dari belas ke belas&lt;br&gt;Tanpa batas&lt;br&gt;Talatahmu mengundang sumpah dalam riuh renteng yang sunyi&lt;br&gt;Tapi saksi jalan sejarah di belakangmu hingga &amp;nbsp;ke depanku paling nanti&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesekali riuh&lt;br&gt;Tujuh belas renteng, di ketukmu kisah tak pernah sudah&lt;br&gt;Sedang aku baru belajar untuk menjadi pernah&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kuningan, Juli 2026&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KUNNI MASROHANTI&lt;/strong&gt; adalah seniman, jurnalis dan aktivis yang lahir di Desa Bandar Sungai, Siak Sri Indrapura 11 April 1974. Ia menulis buku puisi &lt;i&gt;Sunting (&lt;/i&gt;buku puisi tunggal Goeboek Indonesia, (2011), &lt;i&gt;Perempuan Bulan (&lt;/i&gt;buku puisi tunggal, Frame publising, 2016)&lt;strong&gt;, &lt;/strong&gt;&lt;i&gt;Calung Penyukat (&lt;/i&gt;buku puisi tunggal, Imaji, 2019)&lt;strong&gt;,&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;i&gt;Kotau (&lt;/i&gt;buku puisi tunggal, Tarebooks, 2020)&lt;strong&gt;, &lt;/strong&gt;&lt;i&gt;Dan Perempuan yang Kau Telan Airmatanya&lt;/i&gt; (buku puisi tunggal, Salmah Publishing, 2021),&amp;nbsp;&lt;i&gt;Harmoniasi Masyarakat dan Alam&lt;/i&gt; Rimbang Baling (buku budaya dan tradisi, 2018)&lt;strong&gt;,&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;i&gt;Cipang Warisan Leluhur yang (hilang) Nyata&lt;/i&gt; (buku budaya, tradisi, 2019)&lt;strong&gt;,&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;i&gt;Sekelumit Sejarah Kerajaan Gunung Sahilan&lt;/i&gt; (buku sejarah, 2019)&lt;strong&gt;,&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;i&gt;Tesso Nilo Berkarya Tanpa Batas&lt;/i&gt; (Konservasi, 2020) dan puluhan buku antologi puisi bersama. Puisinya yang berjudul &lt;i&gt;Salam Angin&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Gadis Melayu&lt;/i&gt;&amp;nbsp; juga diterjemahkan dalam bahasa Korea dalam kumpulan puisi penyair Korea&#45;Indonesia (Monsoon Vol.2, 2017). Meraih berbagai penghargaan antara lain; Anugerah Kebudayaan dari Pemerintah Provinsi Riau (2021) kategori Tokoh Budaya,&amp;nbsp;Anugerah Kesastraan dari Balai Bahasa Provinsi Riau (2020) kategori Sastrawan Pilihan,&amp;nbsp;Anugerah Sagang oleh Yayasan Sagang Riau (2019) kategori Seniman Budayawan, Anugerah 20 buku terbaik dari Yayasan Hari Puisi Indonesia (2020) berjudul &lt;i&gt;Kotau&lt;/i&gt;, Anugerah buku puisi terbaik (2019) berjudul &lt;i&gt;Calung Penyukat&lt;/i&gt; dari Yayasan Hari Puisi Indonesia (HPI) di Jakarta kategori buku terpuji, Anugerah Pemangku Seni Tradisional dari Gubernur Riau (2014), Anugerah Sagang kategori buku puisi terbaik berjudul &lt;i&gt;Sunting&lt;/i&gt; (2011). Anugerah Baiduri dari PRBF Fondation (2014) kategori Sastrawati Pilihan, juara I Pekan Seni Mahasiswa (Peksiminas) (1999) di Surabaya, pemeran terbaik festival teater&amp;nbsp;Dewan&amp;nbsp;Kesenian&amp;nbsp;Riau (DKR) (1998)/teater tradisi,&amp;nbsp;pemeran terbaik festival&amp;nbsp;DKR (1999)/teater bangsawan,&amp;nbsp;pemeran terbaik festival teater&amp;nbsp;DKR (2000)/teater tradisi,&amp;nbsp;Sutradara terbaik festival teater&amp;nbsp;DKR (2000) dll.&amp;nbsp;Ia penyair, penulis naskah dan sutradara teater, menggagas program Literasi Konservasi bersama Komunitas Seni Budaya Rumah Sunting yang didirikannya tahun 2012 dan &amp;nbsp;menggagas program Pulang ke Kampung Tradisi bersama Penyair Perempuan Indonesia (PPI) yang didirikannya bersama rekan&#45;rekannya tahun 2018 dan diketuainya sampai sekarang. ***&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/90511159161-kun3.jpg"/><pubDate>Fri, 02 Oct 2026 12:00:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1456/puisi-kunni-masrohanti</guid></item><item><title>Kadispersip Pekanbaru Sebut Peningkatan Literasi Perlu Gerakan Bersama</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1455/kadispersip-pekanbaru-sebut-peningkatan-literasi-perlu-gerakan-bersama</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id) &lt;/strong&gt;– Kepala Dinas Perpsustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kota Pekanbaru Drs. H. Muhammad Amin M.Si, mengajak segenap pegiat dan komunitas literasi untuk bisa bersama&#45;sama memberikan kontribusi nyata bagi dunia literasi di Pekanbaru. Harapan ini disampaikan Amin saat pertemuan dengan pegiat dan pimpinan komunitas literasi, Kamis (1/10/2026) di lantai 2, Perpustakaan Tenas Effendy, Pekanbaru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Peran komunitas sangat kuat dalam meningkatkan literasi. Kalau komunitas bergerak, Pekanbaru akan maju dan dikenali. Ayok kita bersama&#45;sama, bergerak bersama untuk literasi. Ruangan ini, perpustakaan ini jangan hanya dijadikan tempat kumpul dan membaca saja. Jadikan juga sebagai rumah komunitas, manfaatkan sebaik&#45;baiknya tentunya dengan mematuhi ketetapan yang berlaku,’’ kata Amin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada 32 komunitas yang diundang dalam pertemuan tersebut. Beragam komunitas literasi dengan bentuk kegiatan yang tidak sama. Perjumpaan diawali dengan saling berkenalan antara satu komunitas atau pegiat literasi dengan yang lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diakui Amin, Wali Kota Pekanbaru saat ini memiliki perhatian besar dengan dunia literasi, apalagi setelah catatan membuktikan tingkat literasi Pekanbaru lebih rendah dibandingkan dengan kota/kapupaten lain di Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada kesempatan tersebut, Amin juga membeberkan kondisi dunia literasi di Pekanbaru cukup memprihatinkan sehingga perlu dukungan berbagai pihak termasuk komunitas dalam peningkatannya.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari 12 kabupaten/kota di Riau, Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) 2025 Pekanbaru tercatat di peringkat ke 11, sedangkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) di peringkat ketiga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jumlah perpustakaan di Pekanbaru sesuai data yang dimiliki Pemko sangat beragam. Ada perpustakaan sekolah sebanyak 490, perpustakaan umum sebanyak 98 dan perpustakaan khusus sebanyak 33.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perpustakaan umum terdiri dari; perpustakaan kelurahan sebanyak 83 realisasi 25, perpustakaan kecamatan sebanyak 15 realisasi 0 dan TBM sebanyak 29 realisasi 29. Perpustakaan khusus terdiri dari; OPD sebanyak 48 realisasi 3, perpustakaan rumah ibadah sebanyak 98 realisasi 19 dan perpustakaan puskesmas sebanyak 21 realisasi 5.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Marilah bersama kita bergerak untuk peningkatan literasi ini baik TKM atau IPLM&#45;nya. Setiap tahun ada penilaian oleh perpusnas. Ini perlu perhatian dan dukungan kita bersama. Di kelurahan masing&#45;masing, jika tidak jalan perpustakaannya, tolong dibantu dikembangkan,’’ kata Amin lagi.(*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/33071321907-whatsapp_image_2026-10-01_at_16.jpeg"/><pubDate>Thu, 01 Oct 2026 15:00:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1455/kadispersip-pekanbaru-sebut-peningkatan-literasi-perlu-gerakan-bersama</guid></item><item><title>Satresnarkoba Polresta Pekanbaru Ungkap Peredaran 122 Butir Ekstasi, Satu Pria Diamankan</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1454/satresnarkoba-polresta-pekanbaru-ungkap-peredaran-122-butir-ekstasi-satu-pria-diamankan</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; &#45; &amp;nbsp;Satuan Reserse Narkoba Polresta Pekanbaru mengungkap dugaan tindak pidana peredaran narkotika jenis pil ekstasi. Dalam pengungkapan tersebut, polisi mengamankan seorang pria berinisial MIF (27) yang diduga berperan sebagai pengedar. MIF diamankan pada 25 September 2026 sekitar pukul 16.00 WIB di area parkir salah satu hotel di Jalan Kaharuddin Nasution, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;Tersangka bersama barang bukti telah diamankan untuk dimintai keterangan,&quot; kata Kapolresta Pekanbaru Kombes Muharman Arta.S.I.K melalui Kasat Narkoba AKP Noki Loviko.S.H.,M.H, Kamis, (1/10/2026).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Noki Loviko menjelaskan, pengungkapan bermula dari informasi masyarakat terkait dugaan aktivitas transaksi pil ekstasi. Selanjutnya, tim yang dipimpin Kanit II Resnarkoba Ipda Efrain Wildana, S.E., S.H., M.H., melakukan penyelidikan dan &lt;i&gt;undercover buy. &lt;/i&gt;Petugas kemudian berhasil mengamankan MIF di lokasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam pemeriksaan yang disaksikan supervisor hotel, polisi menemukan 30 butir pil yang diduga ekstasi di tangan kanan tersangka. Barang tersebut terdiri dari 10 butir logo Granat warna merah muda, 10 butir logo Heineken warna merah muda, serta 10 butir logo TikTok warna hijau. Dari hasil pemeriksaan awal, MIF mengaku masih menyimpan pil ekstasi lainnya di rumah kontrakan yang ditempatinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Polisi kemudian melakukan pengembangan ke sebuah rumah kontrakan di Jalan Amal 5, Kelurahan Pandau Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar. Penggeledahan disaksikan ketua RT setempat dan menemukan 92 butir pil yang diduga ekstasi di dalam kamar tersangka MIF. Rinciannya, 31 butir warna merah muda, 45 butir &amp;nbsp;warna hijau, dan 16 butir warna merah muda. Dengan demikian, total barang bukti yang diamankan dalam pengungkapan tersebut mencapai 122 butir pil yang diduga narkotika jenis ekstasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain ekstasi, petugas turut mengamankan satu unit sepeda motor Honda Beat warna merah tanpa nomor polisi, satu unit telepon seluler merek Vivo warna hitam, serta satu plastik warna merah. Kepada penyidik, MIF mengaku memperoleh narkotika tersebut dari seorang laki&#45;laki berinisial IB yang saat ini masih dalam penyelidikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Atas perbuatannya, tersangka dipersangkakan Pasal 114 ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo UU RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP jo UU RI Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana dan/atau Pasal 609 ayat (2) huruf a UU RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP jo UU RI Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.&lt;strong&gt;(rls/*)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/62812520607-whatsapp_image_2026-10-01_at_16.jpeg"/><pubDate>Thu, 01 Oct 2026 17:02:14 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1454/satresnarkoba-polresta-pekanbaru-ungkap-peredaran-122-butir-ekstasi-satu-pria-diamankan</guid></item><item><title>Usung Gagasan Ekologis dalam Utopia, Fitri Yohanes Bersiap Gelar Pameran Tunggal</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1453/usung-gagasan-ekologis-dalam-utopia-fitri-yohanes-bersiap-gelar-pameran-tunggal</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id) &lt;/strong&gt;– Perupa Riau, Fitri Yohanes sedang bersiap untuk menggelar pameran tunggal yang dimulai tanggal 21 Oktober mendatang di Galeri Hang Nadim (GHN), Pekanbaru. Jelang pameran tersebut, Fitri Yohanes mendedahkan gagasan atau ide karya dalam pameran berjudul Utopia tersebut. Hal ini terungkap dalam SEPANRAM alias Sembang Rupa On Rabu Malam yang dilaksanakan GHN, Rabu (30/9/2026) di Kedai Young Sungut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anes, begitu ia akrab disapa, tidak sendiri. Sebelum ia bicara lebih banyak ide atau gagasan dalam karyanya, Saridan M.Sn yang merupakan kurator karya tunggal Anes, bercerita secara rinci tentang sejarah utopia dalam pengantaranya yang diberi judul: Utopia Dalam Seni Rupa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Hakekat seni utopia tidak hanya mencerminkan impian dalam harapan seniman, tapi sikap terhadap modernitas sejarah dan masa depan. Bicara utopia juga bicara nilai. Dia bukan hanya imajniner tapi juga nyata. Utopia bukan hanya seni rupa, musisi juga ada utopianya sendiri. Begitu juga orang lain,’’ kata Saridan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam paparannya, Saridan memperkenalkan tokoh&#45;tokoh utopia yang ia sebut dengan kaum utopis. Pertama, Sir Thomas More (1516) yaitu tokoh yang menciptakan istilah ini melalui bukunya yang berjudul &lt;i&gt;Utopia&lt;/i&gt;. Di sini Thomas menggambarkan sebuah pulau fiktif dengan masyarakat tanpa kelas, tanpa hak milik pribadi dan semua kebijakan diatur sepenuhnya oleh akal sehat demi menentang keserakahan manusia.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tokoh kedua adalah Darko Suvin. Ia mendefinisikan utopia sebagai konstruksi verbal mengenai sebuah komunitas fiktif di mana lembaga sosial&#45;politik, norma dan hubungan antar individunya diorganisasikan dengan prinsip&#45;prinsip yang jauh lebih sempurna dari masyarakat tempat penulis itu hidup&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tokoh ketiga yang disebut Saridan atau akrab disapa Ari adalah Paul Ricoeur. Ia seoraang filsuf yang memandang utopia sebagai visi dan dimensi mental yang progresif. Utopia bukan sekadar khayalan kosong melainkan sebuah bentuk kritik terhadap tatanan yang berjalan (status quo) sekaligus dorongan atau visi alternatif tentang cara hidup yang lebih baik. &amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terkait karya&#45;karya tunggal Fitri Yohanes yang akan dipamerkan nanti, Saridan mencatat bebarapa hal. Antara lain, dalam karya itu tertuang ide atau gagasan Anes mengenai masyarakat dunia dan sosok (kura&#45;kura) yang ideal di atas kanvas, bisa bersifat realis maupun fantasi, optimis maupun kritis dan konkret maupun nyata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Sebagai kurator, Saya hanya menyampaikan rambu&#45;ramu. Ya seperti rambu&#45;rambu lalu lintas yang memberi kode kapan harus belok kanan, kapan harus belik kiri sesuai teori uptopia. Bagaimana kenyataannya saat pameran dilaksanakan nanti, mari sama&#45;sama kita lihat, sama&#45;psama kita plototi sesuai atau tidak dengan rambu&#45;rambu ini,’’ kata Saridan lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada cara mengkritik utopia ini, lanjut Saridan. Hal itu didasarkan pada analisis terhadap teks atau citra utopia itu sendiri, mencakup struktur, isi, bentuk dan gayanya. Bisa juga dilihat dari konsistensi, daya ungkap artistik dan orisinal serta nilai etis dan makna moral.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anes sendiri, dalam paparannya menyebutkan, dalam pameran nanti dia akan memajang sekitar 24 karya yang semuanya berhubungan dengan kura&#45;kura. Hewan ini menjadi simbol atau identitas bagi Anes sendiri sejak awal ketika ia mulai melukis atau terjun serius di dunia seni rupa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Setiap orang punya utopianya sendiri. Terimakasih sudah masuk ke dalam utopia Saya. Lukisan Saya memang identik dengan kura&#45;kura, karena mimpi tidak langsung harus menjadi kenyataan, yang penting kita berani membayangkan. Pelan tidak apa yang penting terus bergerak. Begitulah kura&#45;kura,’’ katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hampir keseluruhan karya Anes ini bertema lingkungan, bercerita tentang lingkungan dengan tiga fase yakni, dulu, kini dan nanti dengan fokus kepada empat hal, yakni rumah , alam, waktu dan masa depan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Apa yang Saya bicarakan melalui karya&#45;karya ini? Ada empat hal. Ada rumah sebagai tempat kita tinggal, ada alam yang harus kita jaga, ada waktu sebagai saksi atas apa yang kita lakukan, dan ada masa depan yang mengingatkan apa yang kita tinggalkan hari ini. Kura&#45;kura yang hidup bisa 100 tahun, dia bisa beradaptasi dengan banyak situasi yang saat ini populasinya juga masih banyak. Saya menyebutnya sebagai simbol waktu, saksi banyak hal. Karena itulah Saya menggunakan kura&#45;kura sebagai ciri khas dalam karya&#45;karya saya,’’ kata Anes lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;SEPANRAM ini diawali dengan pengantar oleh Ketua GHN, Furqon Elwe yang sekaligus berperan sebagai moderator. Furqon mengajak masyarakat Pekanbaru dan Riau umumnya untuk bersama&#45;sama meramaikan dan datang ke pameran tunggal nantinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Saat ini Galeri Hang Nadim sedang menggelar pameran tunggal karya Cak Winda dengan tema CONTEXT hingga tanggal 10 Oktober nanti. Setelah itu dilanjutkan dengan pameran tunggal karya Fitri Yohanes ini dengan gagasan yang diusung yakni utopia atau ekologis. Saya mengajak seluruh masyarakat Pekanbaru dan Riau untuk menjadi bagian dalam perjalanana ekosistem seni yang tumbuh hari ini, khususnya seni rupa,’’ kata Furqon.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hadir dalam SEPANRAM ini beberapa seniman dan komunitas di Pekanbaru. Hadir juga perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Riau. SEPANRAM kali ini bukan hanya membahas tentang konsep tapi hal&#45;hal baru yang masih mungkin menjadi bahan pertimbangan dan masukan untuk diikutkan dalam pameran nanti, salah satunya karya rupa dengan media kotoran gajah yang diusulkan seniman Kunni Masrohanti yang juga hadir malam itu.(*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/29309718554-whatsapp_image_2026-10-01_at_11.jpeg"/><pubDate>Thu, 01 Oct 2026 12:00:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1453/usung-gagasan-ekologis-dalam-utopia-fitri-yohanes-bersiap-gelar-pameran-tunggal</guid></item><item><title>Anak Gajah Jantan yang Baru Lahir di Tesso Nilo diberi Nama Ganesha</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1452/anak-gajah-jantan-yang-baru-lahir-di-tesso-nilo-diberi-nama-ganesha</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PELALAWAN (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; &#45; Kawasan konservasi Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), tepatnya di pusat pelatihan gajah Elephant Flying Squad (EFS) kembali kedatangan tamuSenin (28/9/2026) sekitar pukul 19.00 WIB. Dia anak seekor anak gajah keenam yang lahir dari ibu gajah bersama Lisa. Anak gajah Jantan ini diberi nama Ganesha.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nama tersebut diberikan langsung oleh Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto. Penamaan Ganesha kemudian diumumkan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat berada di EFS TNTN dalam rangkaian agenda Kementerian Kehutanan, Rabu (30/9/2026). Beberapa waktu lalu, Titiek Soeharto pernah datang ke TNTN dan berinetarksi dengan gajah&#45;gajah di sana, termasuk Lisa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pengumuman nama Ganesha berlangsung dalam suasana penuh sukacita dan dihadiri sejumlah pejabat penting. Hadir Plt Gubernur Riau S.F. Hariyanto, Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Dr. Agus Hadi Waluyo, S.A.P., M.M., CHRMP., Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, Kapolres Pelalawan AKBP Ahmad Nur Ari, Kepala Balai TNTN Sutmantoro, S.Hut., M.M., jajaran Kementerian Kehutanan, serta tim mahout, dokter dan perawat satwa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan rasa syukur atas kelahiran Ganesha. Menurutnya, kelahiran tersebut menjadi kabar bahagia sekaligus bagian dari harapan dalam menjaga keberlangsungan populasi gajah sumatera di kawasan konservasi Tesso Nilo.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kita ketahui kemarin Mama Lisa melahirkan anaknya yang keenam di Tesso Nilo. Alhamdulillah hari ini kita sudah dapat nama untuk bayinya baby boy. Nama diberi oleh Ibu Titiek, Ketua Komisi IV DPR RI, dan namanya adalah Ganesha,” kata Raja Juli Antoni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nama Ganesha juga memiliki makna simbolis yang kuat. Dalam tradisi Hindu, Ganesha dikenal sebagai figur berkepala gajah yang dikaitkan dengan kebijaksanaan, awal yang baik dan kemampuan mengatasi berbagai rintangan. Pemberian nama tersebut diharapkan menjadi simbol kehidupan baru sekaligus harapan bagi keberlanjutan gajah sumatera dan habitatnya di Tesso Nilo.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan mengungkapkan, dirinya semula mendapat kesempatan untuk memberikan nama kepada anak gajah tersebut.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, kesempatan itu kemudian diserahkan kepada Titiek Soeharto. Herry secara langsung meminta Ketua Komisi IV DPR RI tersebut memberikan nama bagi anggota baru kawanan gajah Tesso Nilo itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Bagi kami, ini bukan hanya tentang sebuah nama, tetapi juga tentang harapan agar kelahiran ini semakin menguatkan kepedulian kita bersama terhadap masa depan gajah sumatera dan habitatnya,” kata Herry.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Herry, kelahiran Ganesha bukan sekadar bertambahnya satu individu baru dalam populasi gajah sumatera. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa upaya konservasi harus berjalan beriringan dengan perlindungan kawasan hutan sebagai ruang hidup satwa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ganesha membawa pesan tentang kehidupan baru dan harapan. Kita ingin dia tumbuh kuat dan aman di tanah Riau. Tetapi tanggung jawab kita jauh lebih besar, yakni memastikan hutan dan ruang hidupnya tetap ada. Konservasi tidak cukup hanya menjaga satwanya, kita juga harus menjaga ekosistem tempat mereka hidup,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kondisi Ganesha terpantau baik sejak beberapa saat setelah kelahirannya. Lisa telah mendapatkan pemantauan intensif dari para mahout, dokter dan perawat satwa sejak sehari sebelum proses persalinan. Sekitar 20 menit setelah dilahirkan, Ganesha sudah mampu berdiri dan menunjukkan respons yang baik, sebuah perkembangan awal yang menggembirakan bagi tim yang melakukan pemantauan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini Ganesha bersama induknya, Lisa, terus mendapatkan pengawasan dari tim EFS TNTN untuk memastikan kesehatan dan keselamatan keduanya. Kelahiran anak keenam Lisa tersebut bukan hanya menjadi kabar bahagia dari Tesso Nilo, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga habitat alami gajah Sumatera agar satwa dilindungi tersebut dapat terus berkembang dan hidup berdampingan dengan lingkungan secara berkelanjutan.(rls/*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/56800003825-whatsapp_image_2026-10-01_at_08.jpeg"/><pubDate>Tue, 29 Sep 2026 19:30:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1452/anak-gajah-jantan-yang-baru-lahir-di-tesso-nilo-diberi-nama-ganesha</guid></item><item><title>WALHI Riau Sebut Pembentukan BPGMN Hanya Gimik Pemerintah</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1451/walhi-riau-sebut-pembentukan-bpgmn-hanya-gimik-pemerintah</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id) &lt;/strong&gt;– Presiden Prabowo Subianto berencana membentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN). Badan ini bertujuan untuk memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pengelolaan ekosistem gambut dan mangrove. Atas pembentukan badan ini, pemerintah Prabowo dianggap keliru dalam menetapkan prioritas kebijakan, terutama dalam upaya perlindungan ekosistem gambut sehingga menyebabkan peningkatan luas karhutla dari tahun sebelumnya. &amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rencana ini disampaikan presiden pasca memimpin rapat bersama akademisi di Istana Merdeka, Kamis (24/6/2026) yang diperkuat Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni. Raja Juli mengatakan, &amp;nbsp;bahwa pembentukan badan berfokus pada pencegahan karhutla, khususnya di wilayah yang memiliki kawasan gambut yaitu Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Eko Yunanda, Direktur Eksekutif WALHI Riau mengatakan bahwa urgensi pembetukan badan yang mengurus ekosistem gambut dan mangrove sudah disampaikan sejak lama. Hal ini yang kemudian mendorong pembentukan Badan Restorasi Gambut (BRG) pada 2016 yang kemudian berubah menjadi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Di luar capaian yang belum maksimal, alih&#45;alih mengevaluasi dan memperkuat BRGM, Pemerintah malah membubarkan badan ini pada April 2025 lalu melalui Surat Menteri Sekretaris Negara Nomor B&#45;175/M/D&#45;1/HK.03.00/04/2025. &amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Pembentukan BPGMN seperti dejavu. Kebakaran hebat, tapi pemerintah membentuk badan baru. Sama seperti awal pembentukan BRG 10 tahun yang lalu. Jika badan baru ini tidak belajar dari badan sebelumnya, belum menyentuh akar persoalan, tidak mendorong penghentian penerbitan izin baru, mendorong reviu izin korporasi yang melakukan perusakan di ekosistem gambut, hingga tidak tebang pilih saat melakukan pemulihan ekosistem gambut dan mangrove, artinya pembentukan BPGMN hanyalah gimik pemerintah dalam pengelolaan gambut dan mangrove,” ujar Eko. &amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jasmi, Ketua Dewan Daerah WALHI Riau juga mengingatkan, bahwa &amp;nbsp;BPGMN harus mampu melihat kerusakan dari hulu. Bagaimana ekspansi korporasi berdampak atas kerusakan ekosistem gambut yang kemudian menjadi faktor dominan penyebab karhutla. Berdasarkan hasil analisis spasial WALHI Riau dari berbagai sumber menunjukkan bahwa korporasi menguasai dan menyulap hutan gambut seluas 1,8 juta hektar atau 47,3 % dari total gambut Riau menjadi tanaman kayu dan kelapa sawit. Kemudian kanal yang dibangun korporasi sepanjang 34.980,78 km juga memperburuk kondisi ekosistem gambut di Riau. &amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“BPGMN harus menjadi awal penegakkan hukum atas kerusakan gambut dan mangrove serta menyampaikan fakta bahwa karhutla barawal dari kerusakan gambut akibat alih fungsi lahan. Sebab, bagaimana mungkin kabakaran hebat terjadi pada ekosistem yang secara alami mengandung 90% air. Artinya alih fungsi lahan dan pembangunan kanal oleh korporasi merupakan sumber karhutla, terutama di Provinsi Riau,” ucap Jasmi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Amniati, Direktur Riau Women Working Group (RWWG) juga menyikapi dalih korporasi atas karhutla terjadi pada wilayah konflik pada areal kerja mereka. Jika korporasi enggan bertanggunjawab atas areal kerja yang terbakar, sudah seharusnya izin mereka direviu bahkan dicabut dan dikembalikan ke masyarakat. &amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Selain menjadi badan pengelolaan gambut dan mangrove, BPGMN harus mampu sebagai bagian dalam penyelesaian konflik agraria serta mendorong pemulihan hak masyarakat atas ruang hidupnya. Kemudian proses pemulihan lingkungan hidup harus melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan, implementasi hingga evaluasi kebijakan. Hal ini sebagai wujud pemulihan ekosistem dan mengatasi krisis iklim dari tapak,” tutup Amniati.&lt;strong&gt;(rls/*)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/71454495294-whatsapp_image_2026-09-29_at_19.jpeg"/><pubDate>Wed, 30 Sep 2026 00:55:22 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1451/walhi-riau-sebut-pembentukan-bpgmn-hanya-gimik-pemerintah</guid></item><item><title>Pameran Context &#45; Rasi Rasa; Catatan Perjalanan Rasa</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1450/pameran-context--rasi-rasa-catatan-perjalanan-rasa</link><description>&lt;p&gt;Oleh: Cak Winda&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;RASI&lt;/strong&gt; Rasa berawal dari sebuah perjalanan belajar memahami rasa. Perjalanan ini bermula pada bulan Ramadhan, ketika saya membuat sebuah art project bernama Tadarus Rasa. Melalui proses menggambar dan menulis, saya mencoba menyelami rasa lebih dalam, bukan hanya sebagai perasaan yang hadir sesaat, tetapi sebagai sesuatu yang memiliki keberadaan dan makna dalam kehidupan manusia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelumnya, pameran ini direncanakan dengan judul Rindang Bayang. Namun proses perenungan selama Ramadhan membawa saya pada kesadaran lain: bahwa di balik setiap bayang pengalaman, terdapat jaringan rasa yang saling berhubungan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari proses menyelam dan mengeksplorasi ruang batin tersebut, lahirlah gagasan Rasi Rasa. Rasa bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ia terbentuk dari perjumpaan antara manusia dengan pengalaman, waktu, alam, ingatan, dan keberadaan yang lebih luas dari dirinya. Seperti rasi bintang yang tersusun dari titiktitik yang tampak terpisah namun membentuk pola ketika dilihat secara menyeluruh, demikian pula rasa memiliki hubungan yang sering kali baru terlihat ketika kita mampu mengambil jarak dan melihatnya secara utuh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam perjalanan memahami rasa, saya menemukan hubungan yang erat antara rasa, keindahan, dan kebijaksanaan. Seperti yang sering disampaikan oleh Cak Nun, keindahan dapat menjadi bahasa yang mewakili sebuah tindakan yang melampaui sekadar kebaikan. Keindahan bukan hanya persoalan estetika, tetapi juga menghadirkan keselarasan dan kebijaksanaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menariknya, kata &quot;indah&quot; maupun &quot;bijak&quot; tidak memiliki lawan makna yang benar&#45;benar berhadap&#45;hadapan. Keduanya mengarah pada kondisi yang harmonis. Hal ini membuat keindahan menjadi sesuatu yang penting dalam proses penciptaan seni. Sebuah karya bukan hanya tentang apa yang terlihat, tetapi tentang bagaimana ia mampu menghadirkan hubungan, keselarasan, dan makna.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam penciptaan karya&#45;karya ini, saya memilih jalan abstrak. Abstrak bagi saya bukanlah sesuatu yang jauh dari realitas, melainkan lapisan terdalam dari realitas itu sendiri. Ia berasal dari ruang batin manusia: pikiran, ingatan, rasa, dan kesadaran yang tidak selalu dapat diterjemahkan melalui bentuk&#45;bentuk nyata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu bentuk abstrak paling luar biasa yang diciptakan manusia adalah teks. Melalui teks, manusia mampu menghadirkan sesuatu yang tidak terlihat menjadi dapat dipahami. Sebaliknya, pengalaman nyata juga dapat diterjemahkan kembali menjadi simbol, bahasa, dan bentuk&#45;bentuk abstrak. Teks menjadi ruang berpikir manusia, tempat ingatan disusun, gagasan dikembangkan, dan keindahan pemikiran dilahirkan melalui karya sastra.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari sini saya melihat bahwa seni lukis abstrak dan teks memiliki hubungan yang sangat dekat. Keduanya sama&#45;sama berusaha menyentuh sesuatu yang berada di balik kenyataan yang tampak. Keduanya mencari cara untuk menghadirkan makna yang tidak selalu dapat dijelaskan secara langsung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari hubungan antara rasa, bentuk, teks, dan makna tersebut, saya menemukan sebuah konsep yang saya sebut Rasi. Rasi adalah kesadaran bahwa sesuatu menjadi bermakna karena adanya hubungan. Ketika hubungan itu hilang, maka makna dan keindahan juga kehilangan tempatnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Inilah yang kemudian menjadi gagasan utama Context. Context menjadi simbol penghubung antara yang nyata dan yang abstrak, antara pengalaman luar dan pengalaman batin, antara manusia dengan lingkungan kehidupannya. Saat ini manusia hidup dalam zaman ketika batas antara realitas dan dunia maya semakin kabur. Teknologi digital dan kecerdasan buatan menghadirkan ruang abstrak yang begitu luas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di tengah perkembangan tersebut, manusia berhadapan dengan risiko kehilangan konteks: kehilangan hubungan dengan asal, makna, dan nilai dari sesuatu yang diciptakannya. Karena itu, kesadaran terhadap context menjadi semakin penting. Manusia perlu kembali menyadari bahwa kehidupan bukanlah kumpulan hal yang berdiri sendiri, melainkan jaringan hubungan yang saling mengalir dan selaras.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rasi Rasa adalah sebuah upaya untuk melihat kembali hubungan tersebut. Bahwa setiap rasa memiliki jejak. Setiap jejak memiliki hubungan. Dan setiap hubungan membentuk makna.*&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PROFIL:&lt;/strong&gt;&lt;br&gt;&lt;strong&gt;Cak Winda&lt;/strong&gt; adalah seniman visual yang bekerja dalam wilayah seni abstrak, teks, dan eksplorasi rasa. Melalui proses berkarya, ia mencoba membaca hubungan antara pengalaman manusia, ingatan, alam, dan ruang batin. Baginya, karya seni bukan hanya tentang bentuk yang terlihat, tetapi tentang bagaimana rasa, makna, dan hubungan dapat menemukan wujudnya. Dalam perjalanan berkesenian, Cakwinda aktif mengikuti berbagai pameran seni rupa di Pekanbaru dan mengembangkan berbagai proyek seni yang menghubungkan seni dengan pengalaman kemanusiaan. Salah satunya adalah PEKA Art Project (2021), sebuah proyek seni yang mengangkat perjalanan kemanusiaan melalui pendekatan kreatif. Selain berkarya sebagai seniman, Cakwinda juga aktif dalam pengembangan ekosistem seni rupa melalui kegiatan kuratorial. Ia menjadi kurator beberapa pameran di Galeri Hang Nadim, Pekanbaru, seperti Pameran Liminality (2026) dan Pameran GoRo (2026), serta Pameran AI (2025). Sebagai seniman, Cakwinda telah berpartisipasi dalam berbagai pameran, di antaranya: 2026 Kurator Pameran Liminality (Galeri Hang Nadim), Pekanbaru Kurator Pameran GoRo &amp;nbsp;(Galeri Hang Nadim, Pekanbaru), &amp;nbsp;2025 Kurator Pameran AI (Galeri Hang Nadim, Pekanbaru), &amp;nbsp;2024 Peserta Pameran Jejak (Gedung Disperindag, Pekanbaru), Peserta Pameran Kembali ke Pangkal (Galeri Hang Nadim, Pekanbaru), 2023 Peserta Pameran Reartsi (Galeri Hang Nadim, Pekanbaru), Peserta Pameran Transvisual (Galeri Hang Nadim, Pekanbaru), 2022 Peserta Pameran Bandar Serai Festival (Art for Healing) &amp;nbsp;(Galeri Hang Nadim, Pekanbaru), Peserta Pameran Ketidakseimbangan 1 &amp;amp; 2 (Galeri Hang Nadim, Pekanbaru), Peserta Pameran Re&#45;post (Galeri Hang Nadim, Pekanbaru), 2021 Peserta Pameran Pakar 1.1 &amp;amp; Pakar 1.2 (DKR Art Space, Pekanbaru) Peserta Pameran Progres Dua Kota (Galeri Hang Nadim, Pekanbaru), Peserta Pameran Pariwisata Riau (Alam Mayang, Pekanbaru), 2019 Peserta Pameran Pajang Rupa (Gedung Idrus Tintin, Pekanbaru), Peserta Pameran Ilusi Dalam Rupa (Gedung Idrus Tintin, Pekanbaru) 2018 Childish Abstract (Pameran &lt;i&gt;Online, Cakwinda.co&lt;/i&gt;).***&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/54302340307-whatsapp_image_2026-09-26_at_19.jpeg"/><pubDate>Sat, 26 Sep 2026 00:19:55 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1450/pameran-context--rasi-rasa-catatan-perjalanan-rasa</guid></item><item><title>Menikmati Karya, Mengolah Rasa</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1449/menikmati-karya-mengolah-rasa</link><description>&lt;p&gt;Laporan: &lt;strong&gt;KUNNI MASROHANTI&lt;/strong&gt;, Pekanbaru&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;BEALSAN&lt;/strong&gt; anak muda mengamati dan menikmati satu persatu lukisan warna warni di dinding Galeri Hang Nadim, Kamis malam (24/9/2026). Ada yang diam, ada yang mengangguk, ada juga yang mengerutkan kening dan menunduk.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di Galeri Hang Nadim yang terletak di lantai dua Anjungan Kampar Purna MTQ ini, ada puluhan lukisan dengan genre abstrak. Semuanya karya perupa Riau, Cak Winda. Tepatnya, ini pameran tunggal karyanya yang pertama berjudul CONTEXT. Tak heran jika selain ada lukisan absrtak, juga ada beberapa teks serupa gurindam atau syair.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Serunya, siapapun pengunjung yang datang, diberi kesempatan dan ruang untuk mengekspresikan rasanya di tembok plastik yang disediakan khusus di tengah ruangan. Saat &lt;i&gt;Sunting.co.id &lt;/i&gt;tiba di sana, dinding plastik itu sudah hampir dipenuhi coretan. Ada gambar, ada garis, ada juga kata&#45;kata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kunni Masrohanti, penyair Riau dan belasan anak muda, termasuk dari Komunitas Seni Budaya Rumah Sunting, Suku Seni dan beberapa anak muda lainnya, juga beramai&#45;ramai menumpahkan rasa ke dinding plastik tersebut. Aksi meracik rasa dalam karya rupa dengan cat warna&#45;warni itu mereka lakukan beberapa saat sebelum Diskusi Seni bersama Cak Winda dilmulai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diskusi Seni ini diberi judul Belajar Rasa pada Karya. Sedangkan gagasan yag diusung, &amp;nbsp;&lt;i&gt;Mengolah Rasa Menjadi Keindahan, Merawat Rasa Menjadi Kebijaksanaan&lt;/i&gt;. Diskusi dipandu oleh seniman Riau, Bens Sani.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua Galeri Hang Nadim, Furqon Elwe, mengawali diskusi tersebut dengan memaparkan mengapa ada pemaran Tunggal karya Cak Winda di galeri tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dijelaskan Furqon, Pameran CONTEXT adalah pameran tunggal kedua yang ditaja GHN setelah pameran IDENTIC 4 Februari lalu. Bulan depan, GHN juga sudah mengagendakan pameran tunggal seorang perupa Riau. Ini perkembangan menarik dan tentu saja menggembirakan, karena pameran tunggal jarang diselenggarakan di Riau, Pekanbaru khususnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Kita bisa membacanya sebagai makin tum&#45;buhnya kepercayaan perupa kepada GHN sebagai pihak penyelenggara pameran. Kepercayaan tersebut tentu tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh karena rekam jejak GHN. Galeri sebagai salah satu elemen ekosistem seni rupa, setakat ini berhasil menjalankan perannya sebagai pembuka “wacana pasar” sembari terus “memasarkan wacana” untuk membangun ekosistem seni rupa yang ideal,’’ jelas Furqon.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dijelaskan Furqon lebih lanjut, Galeri Hang Nadim juga memberi ruang bagi para perupa untuk melaksanakan pameran di galeri tersebut, sekaligus memberi akses seluas&#45;luasnya kepada masyarakat untuk bisa melihat lebih dekat dan menikmati karya seni di ruang&#45;ruang publik. Setelah pameran Cak Winda yang dimulai 9 September dan berakhir pada 10 Oktober nanti, akan dilanjutkan dengan pameran tunggal karya perupa lainnya yang dimulai tanggal 21 Oktober.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bens Sani, sang moderator moderator, sudah membuka ruang pertemuan itu dengan kalimat, ‘’Jangan ditanya itu apa, tapi nikmati saja rasanya’’. &amp;nbsp;Kalimat ini menunjukkan bahwa karya&#45;karya Cak Winda yang abstrak memiliki makna dan rasa yang berbeda bagi setiap orang. Tergantung bagaimana ia membuka dan menemukan rasa itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai perupa, kurator sekaligus narasumber diskusi, Cak Winda memulai perbincangan panjang dengan memutar video Cak Nun yang mengulas tentang keindahan, bahwa indah adalah anugerah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Semua orang suka sama yang indah. Hal&#45;hal yang indah itu anugerah. Maka, kita harus peka terhadap keindahan. Keindahan dimulai dari rasa. Merasakan dengan indah. Ada rasa. Pameran karya kali ini tentang rasanya dengan tema CONTEXT. Silakan merasakan, dirasa&#45;rasa dan tumpahkan rasa lewat karya. Upaya ini juga akan membuat seseorang lupa dengan rasa&#45;rasa yang menyakitkan sebelumnya atau yang menakutkan tentang masa depan,’’ kata Cak Winda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Malam itu mengupas rasa, bercerita tentang rasa. Satu rasa bisa beda karya, apalagi banyak rasa, pasti akan banyak bentuk karya yang berbeda. Ada rasa lama yang terhubung setelah melihat satu karya. Artinya ada cerita atau peristiwa yang serupa dengan karya tersebut. Lalu, bertanyalah seorang peserta kepada Cak Winda, untuk apa Cak Winda melukis?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Tidak semua orang bisa melukis atau melahirkan karya. Karena ini adalah keindahan dan keindahan atau kemampuan mengeluarkan yang ada pada kita adalah Amanah, maka Saya harus mengeluarkan. Maka, itulah yang mendorong mengapa Saya &amp;nbsp;harus melukis,’’ kata Cak Winda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diskusi maskin berisi ketia Saridan, S.Sn, salah seorang kurator Galeri Hang Nadim juga hadir dan membagikan banyak pengetahuan tentang seni dan karya&#45;karya seniman, termasuk seni rupa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diskusi Seni malam itu berlangsung panjang. Di sela&#45;sela diskusi, peserta diminta mengamati dan merasakan salah satu lukisan dan mengungkapkan rasa atau apa yang ia temukan dalam lukisan itu. Saat diskusi kembali dimulai, hampir setiap orang menyampaikan isi pemikirannya. Semua punya tafsir yang berbeda, punya rasa yang tak sama.***&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/17820260889-whatsapp_image_2026-09-26_at_12.jpeg"/><pubDate>Fri, 25 Sep 2026 12:56:06 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1449/menikmati-karya-mengolah-rasa</guid></item><item><title>IKON Syair Perang Siak Istimewa Dalam Arakan,  Tradisi Mengarak Titah Raja Kembali Dihidupkan</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1448/ikon-syair-perang-siak-istimewa-dalam-arakan--tradisi-mengarak-titah-raja-kembali-dihidupkan</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; — Sertifikat Syair Perang Siak yang ditetapkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) Tahun 2026 tidak sekadar dipajang sebagai sebuah penghargaan. Di tangan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), dokumen itu justru diarak, sebagaimana dahulu titah raja diarak untuk disampaikan kepada rakyat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tradisi lama itu seakan dihidupkan kembali. Bedanya, yang kini diarak bukan titah seorang raja, melainkan sertifikat yang menandai diakuinya Syair Perang Siak sebagai bagian dari ingatan kolektif bangsa Indonesia. IKON Syair Perang Siak ini diarak di Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Jumat (25/9/2026).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Prosesi tersebut menjadi bagian dari penyambuutan IKON Syair Perang Siak Tahun 2026 di Balairung Tenas Effendy, Balai Adat LAMR Provinsi Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi masyarakat Melayu, penghormatan itu memiliki makna tersendiri. Sebab, Syair Perang Siak bukan sekadar lembaran tua atau karya sastra masa lampau, tetapi rekaman sejarah yang membawa ingatan tentang Kesultanan Siak dan perjalanan masyarakat Melayu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekretaris Umum DPH LAMR Provinsi Riau, Datuk H. Jonnaidi Dasa, mengatakan prosesi mengarak IKON Syair Perang Siak merupakan bentuk apresiasi dan penghormatan LAMR terhadap warisan sejarah dan budaya tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam tradisi Melayu masa lalu, kata dia, titah raja yang dituangkan dalam bentuk tulisan atau media lainnya disampaikan kepada masyarakat melalui sebuah prosesi yang dihormati. Bahkan, penyampaian titah dapat dilakukan dengan iring&#45;iringan pasukan, panglima, hingga gajah kerajaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini, rekaman tradisi itu kembali dihadirkan dalam bentuk yang berbeda. IKON Syair Perang Siak diarak dengan iringan kompang dan pertunjukan silat. Bukan untuk membawa titah kerajaan, melainkan untuk menyampaikan sebuah pesan kebudayaan: bahwa sejarah yang diwariskan para pendahulu patut dirawat dan dikenang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rangkaian penyambutan diawali arak&#45;arakan kompang dan pertunjukan silat sebagai bentuk penyambutan sekaligus penghormatan terhadap warisan budaya Melayu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Acara kemudian dibuka pembawa acara sekaligus pebilang, Datuk Fadilah Firza, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al&#45;Qur&apos;an oleh Ustadz Abdurrahman Atan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Puan Siska Armiza kemudian membacakan kutipan Syair Perang Siak. Lantunan syair tersebut menjadi pengingat bahwa karya sastra sejarah yang lahir dari masa silam itu kini telah mendapat tempat sebagai bagian dari Ingatan Kolektif Nasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wakil Bupati Siak, Tuan Syamsurizal, S.Ag., M.Si., turut menyampaikan sambutan mewakili Pemerintah Kabupaten Siak.&lt;br&gt;Selanjutnya, Gubernur Riau, Tuan SF Hariyanto yang diwakili dari salah seorang stafnya di Kesbangpol memberikan pengarahan mengenai makna penting penetapan Syair Perang Siak sebagai Ingatan Kolektif Nasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelumnya, sertifikat Syair Perang Siak sebagai IKON Tahun 2026 dijemput Wakil Bupati Siak Syamsurizal Budi di Auditorium Lantai 2 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (24/9/2026).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sertifikat tersebut diserahkan Kepala Perpusnas dalam rangkaian Penganugerahan Seminar IKON—Memory of the World Tahun 2026. Bagi masyarakat Melayu serumpun, penetapan Syair Perang Siak sebagai IKON bukan sekadar capaian administratif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pengakuan itu menjadi ruang bagi sejarah Kesultanan Siak dan khazanah Melayu untuk kembali dibaca, didengar dan diwariskan di tengah kehidupan Indonesia modern. Sebab, membangun sebuah daerah bukan hanya tentang mendirikan sesuatu untuk hari ini. Ada pula pekerjaan yang tak kalah penting, menjaga ingatan tentang dari mana sebuah masyarakat berasal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ini merupakan catatan sejarah baru bagi Kabupaten Siak dan Provinsi Riau secara luas. Keberhasilan penetapan naskah Syair Perang Siak sebagai Ingatan Kolektif Nasional oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia adalah sebuah anugerah yang luar biasa,” kata Syamsurizal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurutnya, Syair Perang Siak yang ditulis oleh bangsawan Melayu dari Kerajaan Siak pada masa lalu bukan sekadar lembaran kertas tua. Naskah tersebut menjadi catatan mengenai perjuangan masyarakat Melayu menghadapi kolonialisme sekaligus menggambarkan keteguhan sikap dan kedalaman intelektual masyarakat pada masanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Pengakuan ini adalah bentuk validasi negara terhadap kekayaan peradaban Melayu yang diwarisi,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Syamsurizal juga mengungkapkan kedekatan sejarah dirinya dengan salah satu wilayah yang berkaitan dengan peperangan dalam sejarah Siak. Ia mengatakan dirinya lahir di Kecamatan Sungai Apit, kawasan yang menurutnya memiliki jejak sejarah peperangan antara Siak dan Belanda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Syamsurizal menyebutkan peperangan tersebut berlangsung sekitar 260 tahun lalu, tepatnya pada April 1761. Jejak fisik dari peristiwa tersebut, kata dia, kini masih ditemukan dalam bentuk tinggalan arkeologi bawah air yang telah diteliti Dinas Kebudayaan Provinsi Riau pada 2024.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Siak, kami menyampaikan rasa haru dan bangga yang membuncah,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Syamsurizal juga mengapresiasi LAMR Provinsi Riau yang menginisiasi penyambutan sertifikat IKON tersebut. Menurutnya, penyambutan di Balai Adat LAMR memberikan makna tersendiri karena berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan penuh penghormatan terhadap warisan Melayu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Politisi Demokrat itu menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya para tenaga ahli dan pakar independen yang mendukung proses pengusulan Syair Perang Siak hingga mendapatkan pengakuan nasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, menurut Syamsurizal, penetapan Syair Perang Siak sebagai IKON bukan akhir dari perjalanan. “Ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan sebuah pemantik semangat baru,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia berharap pengakuan tersebut mendorong pelestarian budaya dan penguatan literasi di tengah masyarakat, khususnya generasi muda. Syamsurizal mengajak generasi muda menjadikan Syair Perang Siak sebagai bagian dari pengenalan identitas dan sejarah daerah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Mari kita perkuat literasi kita, mari kita cintai sejarah kita. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan melestarikan ingatan kolektifnya,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Syamsurizal &amp;nbsp;juga mengaitkan penetapan Syair Perang Siak dengan perjuangan Pemerintah Kabupaten Siak dalam mengusulkan Sultan Buwang Asmara sebagai Pahlawan Nasional.&lt;br&gt;“Dengan IKON ini, &lt;i&gt;insyaallah&lt;/i&gt; Pemerintah Siak akan meneruskan perjuangan untuk Sultan Buwang Asmara,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia mengatakan pengakuan terhadap Syair Perang Siak diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan kembali upaya pengusulan tersebut.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Mudah&#45;mudahan dengan diakuinya ini, perjuangan sebelumnya dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat dapat kita teruskan. Mudah&#45;mudahan tahun depan kita bisa menjadikan Sultan Buwang Asmara menjadi Pahlawan Nasional,” kata Syamsurizal.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebuah Warisan Intelektuan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekitar 150 siswa SMA di Pekanbaru menjadi bagian dari sebuah peristiwa yang membawa mereka menengok jauh ke belakang. Di hadapan mereka, bukan sekadar sertifikat penghargaan yang diperkenalkan, melainkan sebuah naskah tua yang menyimpan jejak sejarah Melayu hingga sekitar dua abad.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua Umum DPH Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau, Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, mengatakan kehadiran para pelajar dalam penyambutan IKON Syair Perang Siak sengaja menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurutnya, generasi muda perlu mengetahui bahwa Riau tidak hanya memiliki kekayaan alam dan sejarah kerajaan, tetapi juga mempunyai tradisi ilmu, tulisan dan manuskrip yang menjadi bukti perjalanan intelektual masyarakat Melayu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Jangan sampai kita ketinggalan untuk mengabarkan kepada seluruh masyarakat Riau bahwa kita memiliki warisan intelektual yang sangat berharga,” kata Datuk Seri Taufik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Datuk Seri Taufik mengatakan, Syair Perang Siak merupakan naskah kuno pertama dari Riau yang mendapatkan pengakuan nasional sebagai Ingatan Kolektif Nasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia mengingat kembali pandangan salah seorang tim penilai, Doktor Muchlis, yang sebelumnya juga terlibat dalam proses penilaian usulan Pahlawan Nasional. Menurut Taufik, saat itu muncul kegelisahan tentang Riau yang dikenal sebagai negeri sahibul kitab, tetapi belum memiliki naskah kuno yang memperoleh pengakuan sebagai ikon nasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Riau sejak dahulu dikenal sebagai daerah sahibul kitab, negeri yang memiliki tradisi ilmu, tulisan dan manuskrip. Tetapi kemudian muncul pertanyaan: mana buktinya?” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hari ini, kata Datuk Seri Taufik, salah satu bukti itu hadir melalui Syair Perang Siak. Karena itu, LAMR memandang keberhasilan Kabupaten Siak memperoleh pengakuan tersebut bukan hanya untuk dirayakan masyarakat Siak. Kebanggaan itu, menurutnya, perlu dirasakan seluruh masyarakat Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Datuk Seri Taufik mengibaratkan semangat tersebut dengan ungkapan Melayu, “hidup sekampung dukung&#45;mendukung, hidup sebangsa rasa&#45;merasa.”&lt;br&gt;“Jangan sampai karena sesuatu itu berada di satu kabupaten, kemudian daerah lain merasa tidak berkepentingan,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;Datuk Seri Taufik menyebutkan, meskipun proses pengusulan Syair Perang Siak dilakukan melalui Kabupaten Siak, LAMR sebagai lembaga adat tingkat provinsi ikut memberikan dukungan terhadap proses tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini, setelah pengakuan nasional itu diperoleh, tugas berikutnya adalah memastikan generasi muda mengenal warisan tersebut. Sebab, kata Taufik, manuskrip bukan sekadar benda lama yang disimpan di perpustakaan. Di dalamnya terdapat sejarah, pemikiran, kebudayaan dan identitas sebuah masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Datuk Seri kemudian mengajak para siswa yang hadir untuk melihat langsung replika dan materi Syair Perang Siak yang disiapkan dalam kegiatan tersebut. Para pelajar juga diberi kesempatan berfoto dan membaca salinan serta informasi mengenai naskah tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Harapan kita anak&#45;anak kita, khususnya para siswa yang hadir hari ini, dapat melihat bahwa warisan seperti ini bukan sekadar benda lama,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Syair Perang Siak sendiri diperkirakan memiliki usia sekitar dua abad. Berdasarkan hipotesis filolog Donald J. Goudie, karya tersebut kemungkinan disusun sekitar tahun 1820, sekitar satu abad setelah Raja Kecil membuka Kesultanan Siak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu manuskrip yang menjadi representasi nominasi IKON adalah W 273, berjudul Syair Raja Siak. Naskah tersebut terdiri dari 31 folio atau 62 halaman, menggunakan aksara Jawi dan tidak mencantumkan nama penyalin, tempat maupun tanggal penyalinan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tradisi teks Syair Perang Siak juga memiliki saksi manuskrip lain, yakni KL 153 dan KL 154 yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Dalam kajian kritisnya, Goudie menggunakan ketiga manuskrip tersebut sebagai saksi utama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi Datuk Seri Taufik, keberadaan manuskrip&#45;manuskrip itu menunjukkan bahwa sejarah Melayu Riau tidak hanya hidup melalui cerita yang dituturkan dari generasi ke generasi, tetapi juga meninggalkan jejak tertulis yang dapat diteliti.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lebih dari itu, Syair Perang Siak merekam sejarah Kesultanan Siak, Raja Kecil dan keturunannya, hubungan Siak dengan Johor dan Bugis serta dinamika kawasan Selat Melaka dan perjuangan menghadapi kekuatan VOC.&lt;br&gt;Yang membuatnya penting, sejarah tersebut hadir melalui sudut pandang masyarakat Melayu sendiri, dalam bentuk syair.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Yang kita jaga bukan hanya naskahnya, tetapi juga pengetahuan, sejarah dan kebudayaan yang terkandung di dalamnya,” kata Datuk Seri Taufik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena itu, LAMR berharap pengakuan terhadap Syair Perang Siak menjadi pintu bagi karya&#45;karya Melayu lainnya untuk mendapat perhatian. Salah satu yang ingin terus didorong adalah Syair Ikan Terubuk.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi para siswa yang pagi itu duduk di Balairung Tenas Effendy, cerita tentang naskah berusia sekitar dua abad tersebut mungkin terasa jauh dari kehidupan mereka sehari&#45;hari. Namun melalui naskah itulah mereka diperkenalkan pada satu hal sederhana, bahwa sebelum mereka lahir, orang Melayu telah membaca, menulis, berpikir dan mencatat sejarahnya sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tugas generasi hari ini, kata Datuk Seri Taufik, bukan hanya merayakan pengakuan tersebut, tetapi memastikan warisan itu tetap dikenal, dipelajari dan diwariskan.&lt;br&gt;“Suara Melayu adalah bagian dari suara Indonesia. Warisan Riau bukan hanya milik Riau, tetapi merupakan bagian dari ingatan kebangsaan Indonesia,” ujarnya. (rls/*)&lt;br&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/14839756933-whatsapp_image_2026-09-25_at_09.jpeg"/><pubDate>Fri, 25 Sep 2026 13:30:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1448/ikon-syair-perang-siak-istimewa-dalam-arakan--tradisi-mengarak-titah-raja-kembali-dihidupkan</guid></item><item><title>Percepat Deklarasi Kaukus Parlemen Hijau Riau, Koalisi Masyarakat Sipil Audiensi ke Fraksi PKS</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1447/percepat-deklarasi-kaukus-parlemen-hijau-riau-koalisi-masyarakat-sipil-audiensi-ke-fraksi-pks</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; – Kamis (24/9/2026), Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Provinsi Riau resmi menerima kunjungan audiensi dari Koalisi Masyarakat Sipil (KMS) Riau di ruang rapat Fraksi PKS. Pertemuan ini guna mendiskusikan percepatan Deklarasi Kaukus Parlemen Hijau Daerah Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertemuan strategis ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan Fraksi PKS DPRD Riau, yaitu Ketua Fraksi PKS H. Ayat Cahyadi, S.Si., Sekretaris Fraksi Abdullah, Anggota Fraksi sekaligus Ketua Pansus Pengelolaan Lingkungan Hidup Riau H. Khairul Umam, Lc., serta Anggota Fraksi PKS Dapil Indragiri Hilir (Inhil) Syamsuri Daris, S.T., M.T.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, delegasi KMS Riau dihadiri oleh para tokoh dan aktivis lingkungan senior, antara lain Koordinator Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Riau Tarmidzi, S.H., Hasan Supriyanto dari Riau Research Center (RRC), Sukarno alias Kiki dari Lembaga Pemberdayaan Ekonomi dan Sosial Masyarakat (LPESM), serta tokoh senior NGO Riau Johny Setiawan Mundung dari Yayasan Inisiatif Bumi Swarnadwipa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Komitmen Bersama untuk Kaukus Parlemen Hijau Daerah Riau merupakan sebuah wadah atau forum lintas fraksi di parlemen yang mempertemukan para anggota legislatif yang memiliki visi, kepedulian, dan komitmen kuat terhadap isu&#45;isu lingkungan hidup, keadilan ekologis, dan pembangunan berkelanjutan di Bumi Lancang Kuning.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kaukus ini bertujuan untuk mengawal regulasi, penganggaran, dan pengawasan daerah agar selalu berbasis pada kelestarian alam dan perlindungan hak&#45;hak masyarakat adat serta lokal. Dalam dialog tersebut, KMS Riau mendorong dan menggesa Fraksi PKS untuk menjadi motor penggerak utama bersama fraksi&#45;fraksi lain di DPRD Riau agar Kaukus Parlemen Hijau Daerah Riau ini bisa segera dideklarasikan secara resmi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua Fraksi PKS DPRD Riau, H. Ayat Cahyadi, menyambut baik dorongan tersebut dan menyatakan kesiapan Fraksi PKS untuk bersinergi. &quot;Kami di Fraksi PKS sangat mengapresiasi dan mendukung penuh inisiasi dari rekan&#45;rekan Koalisi Masyarakat Sipil Riau. Isu lingkungan adalah isu masa depan Riau yang harus kita kawal bersama secara struktural dan regulatif,&quot; ujar Ayat Cahyadi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Senada dengan hal itu, H. Khairul Umam, Lc., selaku Ketua Pansus Pengelolaan Lingkungan Hidup Riau menegaskan bahwa kehadiran Kaukus Parlemen Hijau akan memperkuat fungsi legislasi di DPRD Riau dalam melahirkan produk hukum yang berpihak pada kelestarian lingkungan dan mitigasi krisis iklim di daerah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selanjutnya, Koordinator KPHD WIlayah Sumatera, H. Abdullah, MPD, salah satu anggota fraksi PKS DPRD Riau menyampaikan pada prinsipnya pentingnya untuk memperkuat peran KPHD dalam mengawal isu lingkungan di daerah, dan untuk teknis deklarasi KPHD perlu memetakan anggota KPHD ditingkat DPRD Kabupaten/Kota.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertemuan diakhiri dengan kesepahaman bersama untuk merumuskan langkah&#45;langkah taktis menuju deklarasi resmi Kaukus Parlemen Hijau Daerah Riau dalam waktu dekat. (*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/81142893810-whatsapp_image_2026-09-24_at_15.jpeg"/><pubDate>Thu, 24 Sep 2026 15:22:17 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1447/percepat-deklarasi-kaukus-parlemen-hijau-riau-koalisi-masyarakat-sipil-audiensi-ke-fraksi-pks</guid></item><item><title>Orang Muda Riau Peringati Hari Keadilan Ekologis; Dari Tapak untuk Keadilan Antargenerasi</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1446/orang-muda-riau-peringati-hari-keadilan-ekologis-dari-tapak-untuk-keadilan-antargenerasi</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; &#45; Orang muda Riau menggelar aksi di area Car Free Day (CFD), di depan kantor Gubernur Riau, Minggu (20/9/2026). Aksi ini merupakan bagian dari aksi serentak secara nasional dalam rangka memperingati Hari Keadilan Ekologis (HKE) 2026 dengan tema “Dari Tapak untuk Keadilan Antargenerasi”. Pada aksi HKE kali ini orang muda menyuarakan perlindungan ekosistem hutan dan gambut, pencegahan bencana ekologis, pemulihan pasca bencana, perlindungan hak masyarakat atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta mendesak penegakan hukum terhadap korporasi perusak lingkungan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aksi ini diikuti puluhan orang muda yang terdiri dari Desk Disaster Region Riau, Wahana Pencinta Alam dan Lingkungan Hidup (WANAPALHI), Bangun Desa Payung Negeri (BDPN), Forestry Student Club (FSC) dan Atok Belang Jurusan Kehutanan Universitas Riau, Laskar Pegiat Ekowisata (LPE) Riau, Mapala Humendala, Sahabat Keadilan Antar Generasi (SELARAS), WALHI Riau, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Bahana Mahasiswa, Mapala Gaharu, Indonesian Youth &amp;amp; Education Society (IYES) Foundation, dan Ruang Asa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aksi dimulai dengan pawai orang muda dari Kantor Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Pekanbaru menuju depan kantor Gubernur Riau. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian tuntutan aksi melalui orasi, puisi, poster dan spanduk bertuliskan “Pulihkan Gambut, Hukum Korporasi Perusak Lingkungan”. Selain menyampaikan tuntutan, peserta aksi ini juga turut mengajak masyarakat untuk menuliskan harapan dan aspirasinya terhadap kondisi lingkungan Riau melalui spanduk serta membagikan masker sebagai simbol kondisi lingkungan hidup yang buruk di Riau saat ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Amanda Qhurvi, &amp;nbsp;perwakilan SELARAS mengatakan, bencana yang terjadi saat ini bukanlah bencana alam, melainkan bencana ekologis yang disebabkan oleh korporasi serakah. “Kami menolak pembangunan yang mengorbankan ruang hidup, mengorbankan hak rakyat. Kalau pembangunan membutuhkan pengorbanan rakyat kecil maka kita harus bertanya pembangunan ini untuk siapa,&quot; ucap Amanda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sabila Dwipa Purnama, anggota WANAPALHI menyebut, masyarakat adat, petani, perempuan, orang muda, anak&#45;anak hingga bayi merupakan kelompok rentan yang paling terdampak atas karhutla yang saat ini hampir mencapai 20 ribu hektar di Riau. “Kita tidak bisa terus berdiam diri ketika ruang hidup dan paru&#45;paru rakyat dirampas. Kita tidak bisa membiarkan masa depan anak&#45;cucu kita ditukar dengan asap beracun dan keuntungan jangka pendek para pembakar hutan,” ujar Salsabila.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;M.Rizki Fadilah, anggota LPM Bahana Mahasiswa dalam orasinya mempertegas bahwa kerusakan terjadi karena ulah manusia yang serakah dan mengeksploitasi alam secara ugal&#45;ugalan. Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat untuk terus bersolidaritas dan &amp;nbsp;membangun gerakan kolektif dalam menyuarakan perlindungan terhadap alam. ”Kita tidak pernah sadar bahwa kekuatan kolektif kita semua bisa menggerakkan sebuah kebijakan yang mungkin pada akhirnya bisa menyelamatkan alam,” sebut Fadil.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Abdul Hadi Lubis, Desk Disaster Region Riau menyampaikan bahwa kondisi Riau saat ini yang kian memburuk. Dominasi ruang oleh korporasi, perampasan ruang hidup masyarakat adat, kerusakan ekosistem hutan dan gambut yang menyebabkan berbagai bencana ekologis seperti banjir yang berulang di Pelalawan, abrasi di sepanjang pesisir utara Riau mulai dari Rokan Hilir, Dumai, Bengkalis, Kepulauan Meranti, hingga Indragiri Hilir serta karhutla yang berulang setiap tahunnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kita mendesak Pemerintah segera menindak tegas korporasi yang areal kerjanya terbakar, kemudian mereviu bahkan jika perlu cabut izin korporasi yang berulang kali terbakar. Hal ini sebagai salah satu wujud nyata Pemerintah melindungi rakyat dari karhutla yang mengancam hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Jika &amp;nbsp;tidak, artinya Pemerintah abai atas perlindungan hak rakyat,” ujar Abdul.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aksi HKE 2026 di Riau ditutup dengan pembacaan tuntutan orang muda Riau. Tuntutan tersebut di antaranya review izin korporasi, perlindungan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, memastikan kelompok rentan dapat hidup layak, pemulihan ekosistem gambut serta wujudkan keadilan antargenerasi segera.(*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/56130583863-whatsapp_image_2026-09-20_at_19.jpeg"/><pubDate>Mon, 21 Sep 2026 12:00:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1446/orang-muda-riau-peringati-hari-keadilan-ekologis-dari-tapak-untuk-keadilan-antargenerasi</guid></item><item><title>Kunjungi Rumah Baca Datuk Sati Diraja Pelalawan, Sastrawan Singapura Berbagi Proses Kreatif Kepenulisan</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1445/kunjungi-rumah-baca-datuk-sati-diraja-pelalawan-sastrawan-singapura-berbagi-proses-kreatif-kepenulisan</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PANGKALAN KERINCI (Sunting.co.id) &lt;/strong&gt;&#45; Desa Rantau Baru, Kecamatan Pangkalan Kerinci Sabtu (19/9/2026) lebih cerah dibanding biasanya, bukan karena kabut asap jerebu pembakaran lahan yang semakin berkurang tetapi kehadiran sastrawan Singapura, Rohani Din, di tengah&#45;tengah acara literasi di tepian Sungai Kampar itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penulis novel &amp;nbsp;&lt;i&gt;Perempuan yang Dipapah Takdir&amp;nbsp;&lt;/i&gt; tersebut tak sekadar berkunjung. Ia memberikan bimbingan langsung tentang proses kreatif penulisan, teknik melahirkan karya sastra, hingga seni membaca puisi bagi anak&#45;anak dan relawan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada acara yang diselenggarakan di laman Rumah Baca Datuk Sati Diraja itu, sastrawan yang pernah diundang di ajang sastra internasional di Cina itu membagikan rahasia produktivitasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Saya membaca delapan buah novel dalam sepekan,” tutur Bunda Anie Din yang langsung menyulut semangat peserta.&lt;br&gt;Ia menegaskan literasi adalah jembatan menjelajahi dunia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Saya berkeliling negara karena buku. Maka jika kalian ingin berkeliling dunia, bacalah buku dan menulislah. Tulislah, jangan tak tulis,” pesannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kegiatan turut dihadiri sastrawan Riau Mosthamir Thalib, Pusvi Defi bersama anak didik Sanggar Pujangga Pelalawan, serta Forum TBM Pelalawan. Semarak acara bertambah dengan penampilan musisi muda Desa Rantau Baru Hairi Mars, dan pembacaan puisi oleh Pusvi Defi, Bintang Yusman (SDN 010 Pangkalan Kerinci), dan Naufal (Kelas XI SMAN Bernas Binsus).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pengurus Rumah Baca, Hasan Basri, menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran para sastrawan dan tamu undangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dukungan juga disampaikan Kepala Desa Rantau Baru, Nurzikri Anton. Ia berkomitmen terus mendukung gerakan literasi desa, termasuk memperjuangkan pembangunan Rumah Adat Pebatinan Sibokol&#45;Bokol yang akan difungsikan sebagian sebagai Rumah Baca.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kami pemerintahan desa memohon maaf karena belum berhasil merealisasikan Rumah Adat tersebut saat ini. Namun, pada Musrenbangdes mendatang akan kembali kita usulkan,” ujar Anton.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pembina Rumah Baca Datuk Sati Diraja, Griven H Putera, menegaskan tujuan utama agenda ini adalah membangun generasi cerdas dan berbudaya melalui literasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apresiasi senada datang dari tokoh muda Desa Rantau Baru, Alimin Naksyahbandi, yang berharap gerakan ini menular ke daerah lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Acara yang diikuti siswa SDN 001 Rantau Baru, SDN 010 Pangkalan Kerinci, SMAN Bernas Binsus, serta relawan Muhammad Fadzli, Dedes Handayani, dan Leni Mardiati ini ditutup dengan ramah tamah dan kunjungan wisata budaya ke Danau Sepunjung, danau adat di seberang Desa Rantau Baru.*&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/19557683956-whatsapp_image_2026-09-20_at_16.jpeg"/><pubDate>Sun, 20 Sep 2026 12:00:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1445/kunjungi-rumah-baca-datuk-sati-diraja-pelalawan-sastrawan-singapura-berbagi-proses-kreatif-kepenulisan</guid></item><item><title>Kepala Balai Pelestarian  Kebudayaan Sampaikan Elu&#45;Eluan Dengan Karmina dan Talibun Saat Hadiri Bincang Sastra</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1444/kepala-balai-pelestarian--kebudayaan-sampaikan-elueluan-dengan-karmina-dan-talibun-saat-hadiri-bincang-sastra</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id) &lt;/strong&gt;– Bincang Sastra dua negara yang ditaja Komunitas Seni Budaya (KSB) Rumah Sunting, Kamis (17/9/2026) di Ruang Ismail Suko, Perpustakaan Soeman HS Provinsi Riau, dihadiri Rohani Din atau yang dikenal dengan Bunda Anie Din sastrawan dari Singapura, sastrawan Riau dan instansi terkait.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau yang diwakili Kepala Bidang Pelayanan Perpustakaan Dokumentasi Informasi Zulkarnain ST, MT, ada Kepala Dinas Kebudayaan Riau diwakili Kepala Bidang Bahasa dan Seni Hj. Jahrona S.Sos, M.M, ada Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau Dr Umi Kulsum S.S, M.Hum dan ada Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Riau, Kristanto Januardi, S.S, M.M.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sedangkan sastrawan dan seniman Riau yang hadir, antara lain, Husnu Abadi, Aris Abeba, Fakhrunnas MA Jabbar, Dheni Kurnia, Kazzaini Ks, Mosthamir Thalib, Bambang Kariyawan, Murparsaulian, Hening Wicara, Hang Kafrawi, Furqon Elwe, Syafruddin Saleh Sei Gergaji, Jasman Jaiman, Eko Ragil, Muhammad Asqalani Eneste dan pimpinan beberapa komunitas/lembaga seperti FTBM Kota Pekanbaru, FTBM Riau, FLP, Riau Sastra, TBM Cahaya Rumah. Hadir juga pimpinan Green Radioline, Tirastime, Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) dll.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelum Bincang Sastra dimulai, &amp;nbsp;kegiatan diawali dengan sambutan dan elu&#45;eluan dari berbagai pihak atau instansi terkait. Uniknya, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Riau menyampaikan elu&#45;eluannya melalui kermina atau pantun kilat dan talibun. Di bawah ini adalah elu&#45;eluan tersebut;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;Membeli kain di Pasar Baru,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Kain ditenun sutra setempat,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Janganlah lupa membeli selendang,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Untuk hadiah sanak saudara.&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Selamat datang para tetamu,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Di ruang sastra penuh hikmat,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Hati kami terasa lapang,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Menyambut penggiat peradaban Nusantara.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;Burung kenari hinggap di dahan,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Selamat datang para pencinta sastra pilihan&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Menanam padi di sawah subur,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Memetik kelapa di tepi pantai,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Menjala ikan di lubuk dalam,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Dibawa pulang balik ke kota.&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Karmina pantun pengingat tidur,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Syair ditulis dengan lihai,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Talibun kaya petuah mendalam,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Menjadi jangkar identitas kita.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;Menanam kelapa di tepi kuala,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Jaga budaya tak lekang oleh Sang Kala&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;Berlayar perahu ke Pulau Jawa,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Membawa dagangan bermacam rupa,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Di Selat Sunda sebentar singgah&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Mohon maaf atas segala kecewa,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Khilaf dan salah jangan disimpan di dada,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Semoga bincang sastra membawa faedah.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;Kain sutra indah ditenun,&lt;/i&gt;&lt;br&gt;&lt;i&gt;Mohon maaf atas segala tutur yang kurang santun&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kunni Masrohanti, founder KSB Rumah Sunting penyelenggara Bincang Sastra, mengatakan, kegiatan ini didukung dan difasilitasi penuh oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Bincang Sastra ini terlaksana karena didukung dan difasilitasi penuh oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau. Tentu juga berkat dukungan dan keriangan hati para sastrawan Riau yang bersedia hadir bahkan menjadi penanggap, para seniman, budayawan, pimpinan komunitas dan banyak lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu&#45;persatu. Kami berharap apa yang kita lakukan hari ini menjadi salah satu upaya memperkuat dunia literasi di Riau. &amp;nbsp;Salam takzim kami, terimakasih sekalung budi untuk semua,’’ kata Kunni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Riau juga menyampaikan ungkapan terimakasih dan ajakan untuk terus bersama melaksanakan berbagai kegiatan literasi di Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Kami juga mengucapkan terimakasih kepada penyelenggara kegiatan ini, Rumah Sunting, sehingga turut memaksimalkan keberadaan perpustakaan kita sebagai pusat kegiatan masyarakat termasuk diskusi&#45;diskusi seperti ini. Selamat datang juga kepada sastrawan Singapura Bunda Rohani Din dan tentu juga sastrawan&#45;sastrawan dan seniman&#45;seniman Riau di perpustakaan kita ini. Kami catat ini sebagai salah satu kegiatan literasi yang sangat berdampak di tahun ini,’’ kata Zulkarnain, ST, MT.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada kesempatan itu, Bunda Anie Din memaparkan bagaimana Karmina, Pantun, Syair dan Talibun bisa menjadi akar sastra dan puisi. Katanya, barang siapa yang menguasai sastra lama, maka akan mudah baginya menulis karya sastra lain termasuk puisi, cerpen dan novel. Bunda juga menceriatakan bagaimana kondisi sastra Melayu khususnya di Singapura pada hari ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Percayalah, sesiapa yang mengusasi sastra klasik semacam pantun, karmina atau pantun kilat, syair dan talibun, ia akan sangat mudah untuk menulis puisi, cerpen ataupun novel. Tulislah, jangan tak tulis,’’ kata perempuan yang menulis novel dengan judul Perempuan yang Dipapah Takdir ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para penanggap secara bergantian pula menyampaikan pemikiran dan gagasan tentang sastra Melayu nusantara hingga puisi modern hari ini. Bincang Sastra diawali dengan pembacaan syair oleh Wulandari dari KSB Rumah Sunting, diwarnai dengan pembacaan puisi berantai di bagian tengah oleh TBM Rumah Baca dan pembacaan puisi bersama di akhir kegiatan oleh Community Pena Terbang (Competer). (*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/76525940813-whatsapp_image_2026-09-19_at_12.jpeg"/><pubDate>Fri, 18 Sep 2026 20:30:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1444/kepala-balai-pelestarian--kebudayaan-sampaikan-elueluan-dengan-karmina-dan-talibun-saat-hadiri-bincang-sastra</guid></item><item><title>Malalak dan Syair Surat Kapal Menggema di Acara Bincang Sastra Dua Negara</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1443/malalak-dan-syair-surat-kapal-menggema-di-acara-bincang-sastra-dua-negara</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; – Bincang Sastra dua negara yang ditaja Komunitas Seni Budaya (KSB) Rumah Sunting, Kamis (17/9/2026) di Ruang Ismail Suko, Perpustakaan Soeman HS Provinsi Riau, diwarnai dengan lantunan Malalak dan syair Surat Kapal oleh pendendang syair terkemuka Riau, Siska Armiza. Bincang sastra ini sendiri menghadirkan Rohani Din atau yang dikenal dengan Bunda Anie Din dari Singapura serta belasan sastrawan dan seniman terkemuka Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sastrawan dan seniman Riau itu antara lain, Husnu Abadi, Aris Abeba, Fakhrunnas MA Jabbar, Dheni Kurnia, Kazzaini Ks, Mosthamir Thalib, Bambang Kariyawan, Murparsaulian, Hening Wicara, Hang Kafrawi, Furqon Elwe, Syafruddin Saleh Sei Gergaji, Jasman Jaiman, Eko Ragil, Muhammad Asqalani Eneste dan Siska sendiri. Hadir juga pimpinan beberapa komunitas/lembaga seperti FTBM Kota Pekanbaru, FTBM Riau, FLP, Riau Sastra, TBM Cahaya Rumah. Hadir juga pimpinan Green Radioline, Tirastime, Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) dll.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kunni Masrohanti, founder KSB Rumah Sunting penyelenggara Bincang Sastra, mengatakan, kegiatan yang mengusung tema ‘’Akar Puisi Nusantara; Karmina, Pantun, Syair dan Talibun&apos;&apos; ini &amp;nbsp;didukung dan difasilitasi penuh oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Bincang Sastra ini terlaksana karena didukung dan difasilitasi penuh oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau. Tentu juga berkat dukungan dan keriangan hati para sastrawan Riau yang bersedia hadir bahkan menjadi penanggap, para seniman, budayawan, pimpinan komunitas dan banyak lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu&#45;persatu. Kami berharap apa yang kita lakukan hari ini menjadi salah satu upaya memperkuat dunia literasi di Riau. &amp;nbsp;Salam takzim kami, terimakasih sekalung budi untuk semua,’’ kata Kunni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau yang diwakili Kepala Bidang Pelayanan Perpustakaan Dokumentasi Informasi Zulkarnain ST, MT, kegiatan ini juga dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan Riau diwakili Kepala Bidang Bahasa dan Seni Hj. Jahrona S.Sos, M.M, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau Dr Umi Kulsum S.S, M.Hum dan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Riau Kristanto Januardi, S.S, M.M.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Kami juga mengucapkan terimakasih kepada penyelenggara kegiatan ini, Rumah Sunting, sehingga turut memaksimalkan keberadaan perpustakaan kita sebagai pusat kegiatan masyarakat termasuk diskusi&#45;diskusi seperti ini. Selamat datang juga kepada sastrawan Singapura Bunda Rohani Din dan tentu juga sastrawan&#45;sastrawan dan seniman&#45;seniman Riau di perpustakaan kita ini. Kami catat ini sebagai salah satu kegiatan literasi yang sangat berdampak di tahun ini,’’ kata Zulkarnain, ST, MT.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada kesempatan itu, Bunda Anie Din memaparkan bagaimana Karmina, Pantun, Syair dan Talibun bisa menjadi akar sastra dan puisi. Katanya, barang siapa yang menguasai sastra lama, maka akan mudah baginya menulis karya sastra lain termasuk puisi, cerpen dan novel. Bunda juga menceriatakan bagaimana kondisi sastra Melayu khususnya di Singapura pada hari ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Percayalah, sesiapa yang mengusasi sastra klasik semacam pantun, karmina atau pantun kilat, syair dan talibun, ia akan sangat mudah untuk menulis puisi, cerpen ataupun novel. Tulislah, jangan tak tulis,’’ kata perempuan yang menulis novel dengan judul&lt;i&gt; Perempuan yang Dipapah Takdir&lt;/i&gt; ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para penanggap secara bergantian pula menyampaikan pemikiran dan gagasan tentang sastra Melayu nusantara hingga puisi modern hari ini. Bincang Sastra diawali dengan pembacaan syair oleh Wulandari dari KSB Rumah Sunting, diwarnai dengan pembacaan puisi berantai di bagian tengah oleh TBM Rumah Baca dan pembacaan puisi bersama di akhir kegiatan oleh Community Pena Terbang (Competer). (*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/32551490274-whatsapp_image_2026-09-19_at_10.jpeg"/><pubDate>Fri, 18 Sep 2026 14:58:51 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1443/malalak-dan-syair-surat-kapal-menggema-di-acara-bincang-sastra-dua-negara</guid></item><item><title>Pengagum Kerajaan Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan dari Malaysia Jumpai Raja, Jalin Silaturahmi</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1442/pengagum-kerajaan-rantau-kampar-kiri-gunung-sahilan-dari-malaysia-jumpai-raja-jalin-silaturahmi</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; – Warga Malaysia berasal dari Ipoh&#45;Perak dan Selangor yang mengagumi sejarah Kerajaan Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan, menjumpai Sri Paduka Raja XII D.Y.M, H.T.M Nizar S.H, M.Hum, di kediamannya, Kota Pekanbaru, Selasa (1/9/2026).&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedatangan warga Malaysia ini untuk menjalin silaturahmi dengan Tuanku Raja sekaligus meminta restu atas perjalannya ke Riau dengan maksud menziarahi makam raja&#45;raja Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Warga Malaysia tersebut &amp;nbsp;disambut langsung oleh Tuanku Raja bersama Permaisuri dan keluarga besarnya, Datuk Besar dan beberapa perangkat kerajaan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Kami datang ke Riau dengan sengaja hendak bersilaturahmi dengan Tuanku Raja sekaligus menziarahi makam raja&#45;raja Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan. Untuk itu kami mohon restu dan doa keselamatan bagi kami semua,’’ kata pimpinan rombongan, Mior Rahman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain Mior Rahman dari Ipoh&#45;Perak, ada Abdul Rahman dari Selangor, ada juga Mohammad Farid, Zaharul Lazim dan Muhammad Syafiq. Selebihnya adalah kaum ibu, remai dan beberapa orang adalah anak&#45;anak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tuanku Raja menyambut dengan gembira. Dalam perbualan petang itu, baik Tuanku Raja maupun Mior Rahman dan tetamu lainnya, saling berbagi cerita tentang silsilah para raja baik di Selangor maupun di Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan. Bukan hanya ke Riau, rombongan ini juga akan melanjutkan perjalanan ke Pagaruyung setelah selesai berkegiatan di Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Karena Kerajaan Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan erat sangat hubungannya dengan Pagaruyung, kami pun akan melanjutkan perjalanan ke sana setelah agenda di Riau selessai,’’ sambung Mior Rahman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tuanku Raja sendiri mengucapkan banyak terimakasih atas silaturahmi yang dijalin apalagi datang dengan berziarah ke makam para raja Rantau Kampar Kiri serta menggali kesejarahan Kerajaan Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Kami sangat senang dikunjungi, kami sangat bahagia tuan&#45;tuan datang kemari dan kami berterimakaih telah hadir untuk menziarahi makam datu&#45;datuk dan orang tua kami sebagai raja Rantau Kampar Kiri Gunung Sahilan sebelumnya. Silaturahmi ini jangan sampai putus, dikekalkan hendaknya,’’ harap Tuanku Raja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertemuan itu diakhiri dengan makan bersama sambil sembang ringan, lalu dilanjutkan dengan foto bersama. Tak terasa, petang berganti maghrib, dan maghrib berganti isya.(*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/28447761973-whatsapp_image_2026-09-01_at_18.jpeg"/><pubDate>Tue, 01 Sep 2026 19:00:00 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1442/pengagum-kerajaan-rantau-kampar-kiri-gunung-sahilan-dari-malaysia-jumpai-raja-jalin-silaturahmi</guid></item><item><title>Semarak HUT ke&#45;81 RI, Imigrasi Pekanbaru Gelar Donor Darah dan Cek Kesehatan Gratis</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1441/semarak-hut-ke81-ri-imigrasi-pekanbaru-gelar-donor-darah-dan-cek-kesehatan-gratis</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id)&lt;/strong&gt; – Menyemarakkan Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke&#45;81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pekanbaru menggelar kegiatan donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis di Aula Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pekanbaru (10/8/2026).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke&#45;81 Kemerdekaan RI sekaligus wujud kepedulian terhadap kesehatan dan kemanusiaan. Kegiatan dilaksanakan bekerja sama dengan Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Pekanbaru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kegiatan diikuti oleh jajaran Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Riau, Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru, perwakilan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Imigrasi se&#45;Provinsi Riau, serta masyarakat umum.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain donor darah, peserta juga mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan secara gratis yang meliputi pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol. Kehadiran layanan kesehatan ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengetahui kondisi kesehatan sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pekanbaru, Roni Sastrawan, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus upaya menjadikan momentum kemerdekaan lebih bermakna melalui aksi nyata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Semangat kemerdekaan tidak hanya kita wujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui aksi nyata yang memberikan manfaat bagi sesama. Donor darah merupakan bentuk kepedulian kemanusiaan, sementara pemeriksaan kesehatan menjadi langkah sederhana untuk mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kesehatan,” ujar Roni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur dalam kegiatan tersebut menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dan kepedulian, tidak hanya di lingkungan jajaran Imigrasi, tetapi juga bersama masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kami berharap kegiatan ini dapat mempererat kebersamaan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. Semoga setetes darah yang disumbangkan hari ini dapat menjadi harapan dan membantu menyelamatkan kehidupan mereka yang membutuhkan,” tambah Roni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Melalui kegiatan donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis ini, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Pekanbaru berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Semangat HUT ke&#45;81 Kemerdekaan RI diharapkan menjadi momentum untuk terus memperkuat kepedulian, kebersamaan, dan kontribusi positif bagi bangsa.(*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/16044377397-whatsapp_image_2026-08-11_at_11.jpeg"/><pubDate>Sat, 15 Aug 2026 11:36:06 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1441/semarak-hut-ke81-ri-imigrasi-pekanbaru-gelar-donor-darah-dan-cek-kesehatan-gratis</guid></item><item><title>Tahidin Terpilih Aklamasi Pimpin IKA Faterna Unand Riau&#45;Kepri Periode 2026&#45;2030</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1440/tahidin-terpilih-aklamasi-pimpin-ika-faterna-unand-riaukepri-periode-20262030</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PEKANBARU (Sunting.co.id) &lt;/strong&gt;– Tahidin SPt MM CHRMP HRBP terpilih sebagai Ketua DPD Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Peternakan (IKA Faterna) Universitas Andalas (Unand) Riau&#45;Kepri periode 2026&#45;2030.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahidin terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) IKA Faterna UNAND Riau&#45;Kepri yang digelar di Langit Biru Cafe Pekanbaru, Minggu (30/8/2026).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Musda tersebut diikuti alumni Faterna Unand dari berbagai generasi. Mulai dari alumni angkatan tertua tahun 1974 hingga alumni angkatan termuda tahun 2025. Hadir juga Pengurus IKA Faterna UNAND Riau&#45;Kepri periode sebelumnya, serta Dekan Fakultas Peternakan Universitas Andalas secara daring.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Usai ditetapkan sebagai ketua, Tahidin menyampaikan komitmennya untuk memperkuat kembali hubungan antarsesama alumni Faterna Unand di wilayah Riau dan Kepulauan Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurutnya, ikatan alumni sejatinya telah terbangun sejak para alumni masih menempuh pendidikan di kampus. Ikatan tersebut menjadi modal penting untuk kembali mempererat silaturahmi dan membangun kontribusi bersama bagi almamater.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menggambarkan perjalanan alumni seperti sebuah benang yang pernah mengikat mereka dalam berbagai aktivitas selama berada di kampus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;Benang itu pernah mengikat kita di kelas, di lapangan, di kandang. Membuat kita tertawa bersama, menangis bersama, lulus bersama,&quot; ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, seiring berjalannya waktu, kesibukan, jarak dan berbagai kepentingan membuat hubungan antarsesama alumni dinilai mulai renggang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;Tarik ulur kesibukan dan jarak membuat simpulnya kendur. Hari ini, mari kita ikat lagi simpul itu. Lebih kuat. Bukan dengan kata&#45;kata, tapi dengan aksi. Bukan dengan janji, tapi dengan kepedulian,&quot; tegas Tahidin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia mengajak seluruh alumni untuk menjadikan organisasi IKA Faterna Unand sebagai wadah untuk saling menjaga dan menguatkan. Ia juga mengajak seluruh alumni membangun organisasi yang sehat, solid dan saling mendukung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahidin menegaskan, perbedaan latar belakang dan jurusan tidak boleh menjadi penghalang bagi alumni untuk bergerak bersama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;Kita berbeda jurusan, tapi satu tujuan yakni memajukan Faterna dan mengharumkan Unand,&quot; tutupnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Rekam Jejak Tahidin&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahidin merupakan alumni Fakultas Peternakan Universitas Andalas angkatan 1996. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya di Unand, ia melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur Surabaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di luar aktivitasnya sebagai alumni Faterna Unand, Tahidin dikenal sebagai praktisi sumber daya manusia (SDM), motivator dan trainer. Ia aktif menjadi pembicara dalam berbagai kegiatan pengembangan kapasitas, kepemimpinan, transformasi mindset serta peningkatan kualitas pelayanan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahidin juga tercatat sebagai Direktur Trustco Riau, lembaga yang bergerak di bidang pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia. Pengalamannya di bidang tersebut turut membawanya terlibat dalam berbagai kegiatan pelatihan di instansi maupun lembaga pendidikan, termasuk UIN Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di organisasi, Tahidin dipercaya sebagai Ketua Majelis Pengurus Wilayah (MPW) Pemuda Ikatan Cendekiawan Muslim se&#45;Indonesia (ICMI) Provinsi Riau. Ia juga merupakan alumni Lemhannas RI serta memiliki sertifikasi kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan latar belakang pengalaman di bidang peternakan, pengembangan SDM dan organisasi, Tahidin diharapkan mampu membawa IKA Faterna Unand Riau&#45;Kepri menjadi wadah yang semakin solid sekaligus memperluas kontribusi alumni bagi masyarakat dan almamater. (*)&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/35383036081-whatsapp_image_2026-08-31_at_15.jpeg"/><pubDate>Mon, 31 Aug 2026 11:36:43 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1440/tahidin-terpilih-aklamasi-pimpin-ika-faterna-unand-riaukepri-periode-20262030</guid></item><item><title>Penyair Perempuan Indonesia Kunjungi Masyarakat di Kaki Gunung Ciremai</title><link>https://sunting.co.id/news/detail/1439/penyair-perempuan-indonesia-kunjungi-masyarakat-di-kaki-gunung-ciremai</link><description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KUNINGAN (&lt;/strong&gt;&lt;span style=&quot;color:var(&#45;&#45;WDS&#45;content&#45;external&#45;link);&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sunting.co.id&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;) &lt;/strong&gt;– Tidak hanya kelestarian budaya, PPI juga peduli dengan kelestarian alam dan lingkungan. Untuk itu, pada kegiatan Pulang ke Kampung Tradisi (PKT) ke&#45;6 dengan tema Milampah Tapak Kuningan tahun ini, PPI juga berkunjung ke perkampungan di bawah kaki Gunung Ciremai, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur untuk menggali kearifan lokal dan kekayaan alamnya, Minggu (2/8/2026).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kegiatan diawali dengan diskusi ringan dan santai di Kedai Cadas Poleng, persis di jalur pendakian via Palutungan. Di sana ada tokoh masyarakat Endun Abdullah dan Penyuluh Kehutanan Balai TNGC Yoesry Hilmy, S.Hut. Keduanya membeberkan kondisi Gunung Ciremai dan praktik kebudayaan yang masih berlangsung hingga saaat ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Berbagai kegiatan kebudayaan masih dilaksanakan masyarakat di Gunung Ciremai ini. Misalnya, Seren Tahun oleh masyarakat Cigugur, Sedekah Bumi Desa Cibuntu dan Kawincai Desa Kramatmulya,’’ ungkap Kang Ndun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kang Ndun juga mengatakan, Gunung Ciremai saat ini mengalami banyak kerusakan. Ancaman terjadi di mana&#45;mana. Tidak hanya kebakaran hutannya, tapi juga limbah kohe (kotoran hewan), sadap pinus dan lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘&apos;Empat desa airnya sudah tercemar oleh kotoran hewan. Upaya untuk meminimalisir pencemaran itu, sudah dilakukan beberapa hal oleh masyarakat sendiri dengan mengolah kohe menjadi pupuk. Hutan Gunung Ciremai juga terbakar, belum lagi penyadapan pinus di dalam kawasan, Banyak sekali ancaman,’’ ungkap Kang Ndun lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, Yoesry Hilmy, menyebutkan, ancaman demi ancaman yang bisa merusak kelestarian alam Gunung Ciremai, berarti juga merusak keberlangsungan kabudayaan atau kearifan lokal masyarakat setempat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari sisi yang lain, Gunung Ciremai tetap masih berdiri dengan fungsinya sebagai kawasan konservasi. Di sisi yang lain, ia menjadi salah satu tempat dilaksanakannya berbagai kegiatan kebudayaan masyarakat lokalnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Kalau soal kebudayaan masyarakat di dalam kawasan Gunung Ciremai, masih tetap dijalankan hingga saat ini, salah satunya. &lt;i&gt;Nyucruk Jalur&lt;/i&gt;. Satu sisi, Gunung Ciremai sebagai kawasan konservasi, ia merupakan menara air. Di sisi lain, ia sebagai tempat dilaksanakannya berbagai praktik kebudayaan masyarakat lokal yang tujuannya juga untuk pelestarian,’’ kata Yoesry yang akrab disapa Kang Ucrit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai gunung tunggal, Gunung Ciremai memiliki kekayaan flora dan fauna. Tanaman dan hewan endemik juga banyak ditemukan di gunung ini. Antara lain, macam tutul jawa &lt;i&gt;(key species)&lt;/i&gt;, Surili &lt;i&gt;(Key Specises)&lt;/i&gt;, elang jawa &lt;i&gt;(key species)&lt;/i&gt;, kodok merah, kukang, pohon palahlar, pohon jamuju pohon sonokeling dan saninten. Pohon ini banyak yang dicuri seperti pohon sonokeling.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Konservasi tidak bisa dilaksanakan oleh Balai TNGC sendiri. Justru, masyarakat sudah menjalankan cara&#45;cara konservasi dengan kearifan lokal yang mereka warisi sejak turun temurun. Kebersamaan inilah yang sangat kita perlukan. Kehadiran ibu&#45;ibu penyair ini juga bagian dari konservasi alam dan budaya Kuningan. Caranya, dengan mencatat dan mewariskan nilai&#45;nilai konservasi alam dan budaya itu kepada generasi berikitnya dengan jalan puisi. Terimakasih banyak PPI sudah hadir di Kuningan,’’ kata Kang Ucrit lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Datangi Pengelola Limbah Kohe&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Usai diskusi di basecamp Palutungan, rombongan PPI melanjutkan perjalanan ke Lamping Kidang, kawasan wisata berbentuk perkemahan. Lokasinya masih di sekitaran basecamp Palutungan juga. Di sini, para penyair dibawa untuk melihat dan menikmati keindahan panorama Gunung Ciremai dengan lembah yang eksotik dengan latar belakang Gunung Puteri atau bagian kecil dari Gunung Ciremai. Lamping Kidang juga merupakan nama koperasi di bawah binaan Balai TNGC yang memiliki dua usaha, yakni lokasi perkemahan dan usaha limbah kohe.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi tempat pengelolaan limbah kohe yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi perkemahan. Di sini ada Pak Jajang atau yang akrab disapa Kang Jajang dan rekan&#45;rekan. Kang Jajang adalah koordinator usaha pengelolaan limbah kohe.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Awalnya usaha pengelolaan limbah kohe dulu baru usaha perkemahan. Pengelolaan kohe ini sangat penting mengingat kohe sudah menjadi ancaman bagi kejernihan air di kawasan ini. Lalu, pihak koperasi Lamping Kidang kami beri kesempatan untuk membuka usaha baru, yakni lokasi perkemahan itu. Kalau kohenya tidak jalan, perkemahannya kami tutup. Ya, perkemahan ini bonus karena masyarakat dengan tekun mengelola limbah kohe,’’ kata Kang Ucrit saat tiba di lokasi penglolaan limbah kohe tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kang Jajang dan kawan&#45;kawan sudah mengelola limbah kohe menjadi pupuk organik ini sudah hampir belasan tahun. Sudah lama. Kerja keras mengelola kohe menjadi pupuk memang tidak mudah, tapi juga menghasilkan keuntungan. Satu karung pupuk hasil olahan kohe dijual dengan harga Rp10 ribu. Sudah kering dan tidak ada bau sama sekali. Tidak heran jika dalam sebulan, koperasi yang memiliki dua usaha ini bisa menghasilkan jutaan rupiah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Kami menyadari Gunung Ciremai sebagai sumber air bagi masyarakat di sekitarnya, bahkan sampai ke kabupaten lain, tapi sudah terjadi pencemaran. Maka kami berusaha hadir untuk mengelola kohe, kami jadikan budaya sehari&#45;hari. Ya, agar air jernih, ternak banyak, dan kohe bisa jadi keuntungan berikutnya. Mohon doa agar usaha kami lancar,’’ kata Kang Jajang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kehadiran para penyair perempuan ke kampung&#45;kampung di bawah kaki Gunung Ciremai ini hanya salah satu dari rangkaian kegiatan PKT tahun ini, Sehari sebelumnya, meraka menggali tradisi di Pasar Renteng Cibogo, kunjungan ke kampung adat Majalaya, bincang sastra dan pergelaran seni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua PPI Kunni Masrohanti, mengatakan, Pulang ke Kampung Tradisi ini bukan pulang bisa, apalagi jalan&#45;jalan biasa. Tapi pulang untuk membawa ingatan banyak orang, membawa pengalaman, apa yang dirasa dan dilihat ke dalam karya sastra yaitu puisi,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Pulang ke Kampung Tradisi tahun ini merupakan yang ke&#45;6. Semua keluarga PPI yang ikut pulang harus merekam, mencatat lalu menulis apa yang didapatkannya selama pulang ke dalam puisi. Semua puisi akan dibukukan untuk menjadi ingatan kembali bagi anak cucu kelak. Karena ini pulang ke enam, maka akan lahir buku ke enam. Jadi ini bukan pulang biasa, pulang milampahi tapak Kuningan,’’ jelas Kunni.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjalanan pulang kampung tahun&#45;tahun sebelumnya, PPI telah melahirkan lima buku puisi, yakni, &lt;i&gt;Temanten &lt;/i&gt;(hasil PKT 1), &lt;i&gt;Umbul Pasiraman&lt;/i&gt; (PKT 2), &lt;i&gt;Ajari Aku Baduy&lt;/i&gt; (PKT 3), &lt;i&gt;Nyulam Kata Tanah di Lada&lt;/i&gt; (PKT 4), &lt;i&gt;Susur Sisir Tengger &lt;/i&gt;(PKT 5). Sebelumnya, atau di awal perjalanan PPI di luar PKT, PPI telah melahirkan buku &lt;i&gt;Palung Tradisi&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’PKT juga sebagai upaya PPI dalam mendokumentasikan dan melestarikan objek kebudayaan dengan cara puisi, termasuk juga pelestarian bahasa daerah serta bentang alam yang tidak bisa dipisahkan dengan keletastarian budaya. Semoga apa yang dilakukan PPI, khususnya dengan lahirnya buku puisi menjadi kontribusi yang bermanfaat bagi bangsa ini,’’ kata Kunni lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketua Panitia, Rini Intama, menjelaskan, sebelum PKT dilaksanakan, panitia telah melakukan survey dengan mengkaji dan mendatangi lokasi&#45;lokasi yang akan dikunjungi. Selain itu juga menemui tokoh&#45;tokoh masyarakat, tokoh budaya, seniman dan beberapa pimpinan komunitas sastra dan Taman Baca Masyarakat (TBM) di Kuningan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;‘’Sebelum kami semua hadir di Kuningan, kami sudah melakukan survey terlebih dulu. Jadi bukan hanya kekayaan budaya saja yang kami pelajari tapi juga kekayaan alam dengan segala kondisinya. Ya, semoga apa yang direncanakan bisa dilaksanakan dengan baik sampai akhir,’’ harap rini. (*)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><enclosure length="25000" type="image/jpeg" url="https://sunting.co.id/assets//berita/original/36475306375-whatsapp_image_2026-08-07_at_12.jpeg"/><pubDate>Mon, 03 Aug 2026 12:53:50 +0700</pubDate><guid>https://sunting.co.id/news/detail/1439/penyair-perempuan-indonesia-kunjungi-masyarakat-di-kaki-gunung-ciremai</guid></item></channel></rss>