PEKANBARU (Sunting.co.id) - Teater Taksudah-sudah Kota Pekanbaru mementaskan teaterrealis berjudul Pasar Baru karya Alm Ade Puraindra, 17-18 Oktober 2025 di Gedung Anjung Seni Idrus Tintin (ASIT) Pekanbaru. Naskah ini bercerita tentang konflik pemilihan deputi wilayah resort yang dibumbui dengan intrik politik serta perebutan kekuasaan.
Naskah ini juga diwarnai dengan kisah percintaan yang juga menjadi pisau politik sehingga memperumit keadaan. Plot twist bertubi-tubi datang, membuat kejutan-kejutan yang menegangkan sekaligus membuka tabir kelam konflik strata sosial kaum pasar dengan rata rata kemampuan finansial kelas menengah ke bawah. Berlatarkan pasar, adegan-adegan terjadi sangat selaras dengan realitas. Tidak ada adegan yang berlebihan juga tidak berkurang esensi realisnya.
Naskah ini di sutradarai oleh sutradara muda Riau Nena Padmah dengan melibatkan tujuh orang pemain. Seluruh aktor dan aktris ini baru pertama kali merasakan sensasi pertunjukan realis yang menjadi warna baru dalam proses Teater Taksudah-sudah itu sendiri.
Proses latihan memakan waktu kurang lebih lima bulan, terhitung dari Mei 2025 dan melibatkan sekitar 20 pendukung lainnya. Di antaranya pimpinan produksi, desain grafis, tim artistik, penata musik, penata lighting, tiketing, stage manager dan lain-lain. Semuanya membuat satu iklim baru yakni rasa kebersamaan dan kekeluargaan.
‘’Salah paham dan berseberangan argumen menjadi warna tersendiri selama proses produksi berjalan. Namun semua menjadi ringan demi satu tujuan ikhlas dan murni dari seluruh tim bahwa pertunjukan adalah hari (kenduri) yang bahagia,’’ ungkap Nena.
Mengangkat naskah Pasar Baru karya Alm Ade Puraindra yang merupakan alm suami dari Nena Padmah sendiri, bukanlah pilihan yang jauh karena sedari awal naskah ini memang sudah sempat berjalan prosesnya dengan formasi aktor dan pendukung yang berbeda namun harus terhenti karena teater Taksudah-sudah mengalami kehilangan salah satu founder komunitas ini yakni alm Ade sendiri.
Pementasan ini juga menjadi sebuah janji yang cukup lama untuk bisa diwujudkan. Kedepan sebagai seorang sutradara perempuan, Nena Padmah memiliki harapan tinggi atas nama seniman perempuan yang masih semangat untuk terus berkarya agar selalu mendapat tempat di hati masyarakat seni, khususnya masyarakat teater.
Support dan dukungan baik dari teman-teman sesama seniman maupun pihak-pihak yang memberi ruang serta kemudahan untuk terus berkarya, menjadi bertambah banyak, baik sebagai suporter maupun fasilitator, agar perjuangan seorang seniman perempuan untuk tetap berkarya dapat terus terpelihara dan terealisasikan demi berkembangnya warna dan rasa dalam hal seni pertunjukan.
‘’Semoga ke depan keberadaan sutradara dan seniman perempuan semakin mendapat tempat di hati masyarakat, semakin mendapat dukungan dari banyak pihak,’’ sambung Nena. Adapun para aktor yang terlibat, yakni, Nisa Cissy sebagai Siti, Febrian Harvin sebagai Badrun, Thio sebagai Kodir, Felix Fauzan sebagai Mat, Haniyah Taara sebagai Cimey, Awi Andjung sebagai Bujang dan Arifin sebagai Sam.(*)