PEKANBARU (Sunting.co.id) – Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Dr. Umi Kulsum, S.S, M.Hum, menghadiri Diskuai Kebudayaan yang ditaja Komunitas Seni Budaya Rumah Sunting, Minggu (25/1/2026) di Bocokopi, Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru.
Diskusi kali ini, Rumah Sunting mengusung tema Turun Mandi: Sungai, Ibu dan Anak. Turun Mandi merupakan tradisi memandikan anak ke sungai untuk pertama kalinya setelah ia dilahirkan. Kepala Balai Bahasa memberikan respon di akhir diskusi dengan ajakan kolaborasi.
‘’Terimakasih Rumah Sunting yang telah mengundang kami dalam acara yang sangat bermakna ini. Jika sepanjang kegiatan ini disebut-sebut sungai adalah ibu, kita mempunyai Bahasa Ibu, yaitu bahasa pertama yang didengar atau dikomunikasikan sorang ibu kepada anaknya. Setelah menyaksikan upacara Turun Mandi tadi yang di dalamnya juga ada Batimang, mudah-mudahan ini bisa dikolaborasikan dengan Balai Bahasa Riau. Tahun 2026 ini akan ada kongres bahasa daerah. Semoga Turun Mandi bisa dibangkitkan lagi. Jadi wacananya tidak hanya tingkat Riau, tapi nasional, bahkan internasional. Ini tantangan bagi kita semua,’’ kata Kepala Balai.
Kepala Balai hadir sejak awal kegiatan. Dimulai dari pemutaran video dokumenter tentang Turun Mandi, pengantar yang disampaikan pimpinan Rumah Sunting Kunni Masrohanti, mendengarkan lantunan sastra lisan Batimang dilanjutkan Pusung yang menjadi bagian dari Turun Mandi, diskusi, tanya jawab dan lantunan Batimang oleh anak muda Kota Pekanbaru sebagai wujud pembelajaran dan respon oleh Kepala Balai Bahasa sendiri.
‘’Kita semarakkan lagi bahwa Turun Mandi, tradisi yang luar biasa. Turun Mandi bukan hanya ritual yang dipraktekkan tapi filosofi tentang hubungan ibu dengan anaknya, dengan sungai dan sekarang rasanya sangat erat dengan kerusakan sungai dan kerusakan alam. Semoga dengan cara ini kita bisa berperan. Dengan ini bisa kita sampaikan kepada anak-anak kita tentang pentingnya, budaya, sastra dan bahasa,’’ lanjut Kepala Balai.
Kepala Balai Bahasa juga berkali-kali mengungkapkan rasa terimakasihnya karena diundang dalam kegiatan ini. Ia juga berharap agar Rumah Sunting menjalin komunikasi dengan dinas terkait seperti Dinas Kebudayaan dan Dinas Pendidikan sebagai langkah lanjut sosialisasi tentang pentingnya Turun Mandi.
‘’Karena sudah dibuatkan filmnya, dikomunikasn juga dengan Dinas Kebuidayaan dan Dinas Pendidikan sehingga Turun Mandi melalui video ini bisa dikenalkan kepada adik-adik kita bahwa kita punya budaya turun temurun yang sangat toleransi dengan alam dan ekosistem kita. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budaya, bahasa dan sastranya. Jangan sampai zaman sekarang ini generasi muda lebih mencintai kebudayaan luar dibandingkan kebudayaan sendiri,’’ kata Kepala Balai lagi.
Diakui Kepala Balai, budaya, bahasa dan sastra mengalami kekurangan baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal ini tentu saja harus ada upaya kreatif dan inovatif, salah satunya dengan merawat dan memperkenalkannya. Di antaranya dengan jalan seni seperti dokumentasi via Instagram, film dokumenter dan lainnya.
Di Balai Bahasa sendiri, kata Kepala Balai lagi, untuk mempertahankan bahasa daerah ini dilaksanakan berbagai perlombaan. Salah satunya dengan menggelar Festival Tunas Bahasa Ibu seperti tembang tradisi. Diakuinya, Batimang adalah salah satunya. Tahun ini, salah satu lokusnya di Pekanbaru. Kepala Balai mengakui cukup sulit menemukan kantong-kantong Melayu di Pekanbau karena banyaknya pendatang.
‘’Mari bersama kerjasama, bahu membahu, saling membantu agar nilai-nilai tradisi tidak hilang begitu saja. Salah satunya dengan menggelar festival. Di harapkan ada ceritanya juga tentang Turun Mandi yang bisa diturunkan kepada anak-anak kita di SD sehingga mereka mengenal budaya. Kalau tidak diperkenalkan, tidak ada dalam kurikulum, maka generasi berikutnya akan semakin jauh. Terimakasih atas upaya yang luar biasa oleh Rumah Sunting ini,’’ harap Kepala Balai.
Sementara itu, pimpinan Komunitas Seni Budaya Rumah Sunting menyebutkan, Diskusi Kebudayaan memang merupakan program tahunan Rumah Sunting. Kali ini menyajikan Turun Mandi sebagai upaya pelestarian kearifan lokal agar tidak hilang.
‘’Kami terus belajar dan berupaya melakukan pelestarian kearifan lokal yang berarti juga menjaga alam, semampu kami bisa. Ada nilai-nilai luhur yang harus dipertahankan. Budaya pasti berubah, tapi nilai luhur tentang kejujuran, gotong royong, saling menjaga dan menghargai antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan alam, harus selalu bersebati dengan diri kita. Turun mandi hanya salah satu di antaranya,’’ kata Kunni.
Kunni mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya Diskusi Kebudayaan ini, terutama kepada para narasumber, pemilik Bocokopi yang memberi ruang dan ksempatan berkolaborasi serta sahabat-sahabat Sunting yang hadir pada kesempatan tersebut. Kunni juga mengucapkan terimakasih atas ajakan kolaborasi dari banyak pihak.
‘’Mengapa Diskusi Kebudayaan ini kami hadirkan di tempat tongkrongan anak muda seperti di kafe ini, agar generasi muda juga turut mendengarkan, memahami dan bersama-sama menjadi bagian dalam upaya pelestarian makna dari kearifan lokal yang menjadi kekayaan bangsa kita,’’ kata Kunni lagi.
Diskui ini menghadirkan dua narasumber, yakni Muhammad Ade Putra, mahasiswa magister Antropologi Universitas Gajah Mada (UGM) yang juga pengurus KSB Rumah Sunting, dan Ramidar, pelestari Turun Mandi dari Kenegerian Padang Sawah, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar.(*)