Pilihan +INDEKS
Peringati Hari Bumi, Walhi Gelar Aksi di Timbulan Sampah
PEKANBARU (Sunting.co.id) — WALHI Riau bersama Eksekutif Nasional WALHI dan 27 Eksekutif Daerah lainnya menggelar giat peduli lingkungan dengan melakukan aksi di lokasi timbulan sampah dan bagi-bagi takjil dengan kemasan ramah lingkungan, Sabtu (23/4/2022).
Aksi ini dilakukan sempena peringatan Hari Bumi tahun ini yang mengusung tema “Pulihkan Bumi, Tolak Investasi Kotor''.
WALHI Riau menggandeng Mapala Suluh FKIP UNRI dan disiarkan secara langsung di media instagram WALHI Nasional.
Ahlul Fadli, Koordinator Media dan Penegakan Hukum WALHI Riau menyebutkan tiga isu penting yang disorot saat aksi. Pertama, gugatan warga terkait pengelolaan sampah di Kota Pekanbaru. Kedua, penyelamatan wilayah pesisir dan pulau kecil khususnya Pulau Rupat. Dan ketiga, mempertanyakan komitmen Gubernur Riau terkait program Riau Hijau.
“Timbulan sampah plastik serta pengelolaan sampah yang buruk merupakan salah satu penyebab terjadinya bencana ekologis. Selain itu, fakta timbulan sampah dan banjir, paling tidak memperlihatkan dua hal penting. Pertama, sistem pengelolaan sampah dan perencanaan kota belum dilangsungkan dengan baik. Kedua, DPRD Kota Pekanbaru belum melakukan tugas pengawasannya dengan baik,'' sebut Ahlul Fadli.
Mengenai isu kedua, berdasarkan hasil catatan WALHI Riau, Pulau Rupat adalah pulau kecil yang luasnya kurang lebih 1500 Km². Menurut Undang-undang Wilayah Pesisir Pulau Kecil, yang disebut pulau kecil adalah pulau yang sama atau lebih kecil dari 2000 km². Menurut temuan WALHI Riau juga, sebanyak 77,9 persen wilayah Pulau Rupat merupakan wilayah gambut.
Ahlul Fadli mengungkapkan, saat ini Pulau Rupat mengalami berbagai ancaman perizinan baik di darat maupun di laut. Di darat, ada tujuh korporasi yang menguasai sekitar 61 persen daratan, sementara di laut ada tambang pasir yang mengakibatkan abrasi dan berkurangnya hasil tangkap nelayan.
“Sementara, komitmen Riau Hijau yang digadang-gadang dapat menahan laju kerusakan dan perbaikan lingkungan hidup di Riau serta diharapkan mampu menurunkan emisi gas rumah kaca, nyatanya masih bersifat parsial, simbolis dan belum memiliki dampak di lapangan. Komitmen Riau Hijau harusnya mampu menjadi solusi permanen rusaknya hutan dan lingkungan hidup kita,” tambah Ahlul Fadli.
Nur Rahmawati, Ketua Umum Mapala Suluh FKIP Universitas Riau menyatakan, sebagai generasi muda, kita harus terpanggil dan menyadari dampak perubahan iklim akibat kerusakan lingkungan hidup. Ia juga mendesak pemerintah untuk memenuhi hak atas keadilan iklim dan melakukan aksi nyata sekarang.
“Kita ingin menyampaikan pesan terutama anak muda di Riau agar mulai sadar bahwa krisis iklim itu nyata. Selain itu, ruang hidup kita juga terancam rusak akibat eksploitasi sumber daya alam. Ini saatnya kita bergerak untuk menyelamatkan bumi dari investasi kotor dan merusak,” kata Nur usai aksi hari bumi dan pembagian takjil di Simpang Tabek Gadang.(rls/*)
[ Ikuti Sunting.co.id ]
Berita Lainnya +INDEKS
Karhutla Meluas, Jikalahari Soroti Lemahnya Perlindungan Gambut di Riau
PEKANBARU (Sunting.co.id) - Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) me.
FITRA Riau Desak Evaluasi Mitigasi Karhutla, Gelar Diskusi dan Media Briefing
PEKANBARU (Sunting.co.id) - Hingga Oktober 2026, wilayah Riau masih dihadapk.
Walhi Gelar Diskusi Publik: Tiga Dekade Karhutla Riau yang Tak Bermuara
PEKANBARU (Sunting.co.id) - Tiga dekade sudah bencana kebakaran hutan dan lahan .
Deklarasikan Kaukus Parlemen Hijau, Koalisi Masyarakat Sipil Sambangi DPRD Riau
PEKANBARU (Sunting.co.id) – Koalisi Masyarakat Sipil (KMS) Riau yang melingkup.
Tambang PT BPP Semakin Masif, Masyarakat Batu Ampar dan Selensen Sampaikan Lima Tuntutan
PEKANBARU (Sunting.co.id) - Masyarakat Selensen dan Batu Ampar, Kecamatan Kemuni.
Anak Gajah Jantan yang Baru Lahir di Tesso Nilo diberi Nama Ganesha
PELALAWAN (Sunting.co.id) - Kawasan konservasi Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN),.







