Pilihan +INDEKS
Usung Gagasan Ekologis dalam Utopia, Fitri Yohanes Bersiap Gelar Pameran Tunggal
PEKANBARU (Sunting.co.id) – Perupa Riau, Fitri Yohanes sedang bersiap untuk menggelar pameran tunggal yang dimulai tanggal 21 Oktober mendatang di Galeri Hang Nadim (GHN), Pekanbaru. Jelang pameran tersebut, Fitri Yohanes mendedahkan gagasan atau ide karya dalam pameran berjudul Utopia tersebut. Hal ini terungkap dalam SEPANRAM alias Sembang Rupa On Rabu Malam yang dilaksanakan GHN, Rabu (30/9/2026) di Kedai Young Sungut.
Anes, begitu ia akrab disapa, tidak sendiri. Sebelum ia bicara lebih banyak ide atau gagasan dalam karyanya, Saridan M.Sn yang merupakan kurator karya tunggal Anes, bercerita secara rinci tentang sejarah utopia dalam pengantaranya yang diberi judul: Utopia Dalam Seni Rupa.
‘’Hakekat seni utopia tidak hanya mencerminkan impian dalam harapan seniman, tapi sikap terhadap modernitas sejarah dan masa depan. Bicara utopia juga bicara nilai. Dia bukan hanya imajniner tapi juga nyata. Utopia bukan hanya seni rupa, musisi juga ada utopianya sendiri. Begitu juga orang lain,’’ kata Saridan.
Dalam paparannya, Saridan memperkenalkan tokoh-tokoh utopia yang ia sebut dengan kaum utopis. Pertama, Sir Thomas More (1516) yaitu tokoh yang menciptakan istilah ini melalui bukunya yang berjudul Utopia. Di sini Thomas menggambarkan sebuah pulau fiktif dengan masyarakat tanpa kelas, tanpa hak milik pribadi dan semua kebijakan diatur sepenuhnya oleh akal sehat demi menentang keserakahan manusia.
Tokoh kedua adalah Darko Suvin. Ia mendefinisikan utopia sebagai konstruksi verbal mengenai sebuah komunitas fiktif di mana lembaga sosial-politik, norma dan hubungan antar individunya diorganisasikan dengan prinsip-prinsip yang jauh lebih sempurna dari masyarakat tempat penulis itu hidup
Tokoh ketiga yang disebut Saridan atau akrab disapa Ari adalah Paul Ricoeur. Ia seoraang filsuf yang memandang utopia sebagai visi dan dimensi mental yang progresif. Utopia bukan sekadar khayalan kosong melainkan sebuah bentuk kritik terhadap tatanan yang berjalan (status quo) sekaligus dorongan atau visi alternatif tentang cara hidup yang lebih baik.
Terkait karya-karya tunggal Fitri Yohanes yang akan dipamerkan nanti, Saridan mencatat bebarapa hal. Antara lain, dalam karya itu tertuang ide atau gagasan Anes mengenai masyarakat dunia dan sosok (kura-kura) yang ideal di atas kanvas, bisa bersifat realis maupun fantasi, optimis maupun kritis dan konkret maupun nyata.
‘’Sebagai kurator, Saya hanya menyampaikan rambu-ramu. Ya seperti rambu-rambu lalu lintas yang memberi kode kapan harus belok kanan, kapan harus belik kiri sesuai teori uptopia. Bagaimana kenyataannya saat pameran dilaksanakan nanti, mari sama-sama kita lihat, sama-psama kita plototi sesuai atau tidak dengan rambu-rambu ini,’’ kata Saridan lagi.
Ada cara mengkritik utopia ini, lanjut Saridan. Hal itu didasarkan pada analisis terhadap teks atau citra utopia itu sendiri, mencakup struktur, isi, bentuk dan gayanya. Bisa juga dilihat dari konsistensi, daya ungkap artistik dan orisinal serta nilai etis dan makna moral.
Anes sendiri, dalam paparannya menyebutkan, dalam pameran nanti dia akan memajang sekitar 24 karya yang semuanya berhubungan dengan kura-kura. Hewan ini menjadi simbol atau identitas bagi Anes sendiri sejak awal ketika ia mulai melukis atau terjun serius di dunia seni rupa.
‘’Setiap orang punya utopianya sendiri. Terimakasih sudah masuk ke dalam utopia Saya. Lukisan Saya memang identik dengan kura-kura, karena mimpi tidak langsung harus menjadi kenyataan, yang penting kita berani membayangkan. Pelan tidak apa yang penting terus bergerak. Begitulah kura-kura,’’ katanya.
Hampir keseluruhan karya Anes ini bertema lingkungan, bercerita tentang lingkungan dengan tiga fase yakni, dulu, kini dan nanti dengan fokus kepada empat hal, yakni rumah , alam, waktu dan masa depan.
‘’Apa yang Saya bicarakan melalui karya-karya ini? Ada empat hal. Ada rumah sebagai tempat kita tinggal, ada alam yang harus kita jaga, ada waktu sebagai saksi atas apa yang kita lakukan, dan ada masa depan yang mengingatkan apa yang kita tinggalkan hari ini. Kura-kura yang hidup bisa 100 tahun, dia bisa beradaptasi dengan banyak situasi yang saat ini populasinya juga masih banyak. Saya menyebutnya sebagai simbol waktu, saksi banyak hal. Karena itulah Saya menggunakan kura-kura sebagai ciri khas dalam karya-karya saya,’’ kata Anes lagi.
SEPANRAM ini diawali dengan pengantar oleh Ketua GHN, Furqon Elwe yang sekaligus berperan sebagai moderator. Furqon mengajak masyarakat Pekanbaru dan Riau umumnya untuk bersama-sama meramaikan dan datang ke pameran tunggal nantinya.
‘’Saat ini Galeri Hang Nadim sedang menggelar pameran tunggal karya Cak Winda dengan tema CONTEXT hingga tanggal 10 Oktober nanti. Setelah itu dilanjutkan dengan pameran tunggal karya Fitri Yohanes ini dengan gagasan yang diusung yakni utopia atau ekologis. Saya mengajak seluruh masyarakat Pekanbaru dan Riau untuk menjadi bagian dalam perjalanana ekosistem seni yang tumbuh hari ini, khususnya seni rupa,’’ kata Furqon.
Hadir dalam SEPANRAM ini beberapa seniman dan komunitas di Pekanbaru. Hadir juga perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Riau. SEPANRAM kali ini bukan hanya membahas tentang konsep tapi hal-hal baru yang masih mungkin menjadi bahan pertimbangan dan masukan untuk diikutkan dalam pameran nanti, salah satunya karya rupa dengan media kotoran gajah yang diusulkan seniman Kunni Masrohanti yang juga hadir malam itu.(*)
[ Ikuti Sunting.co.id ]
Berita Lainnya +INDEKS
Kadispersip Pekanbaru Sebut Peningkatan Literasi Perlu Gerakan Bersama
PEKANBARU (Sunting.co.id) – Kepala Dinas Perpsustakaan dan Kearsipan (Dispersi.
Pameran Context - Rasi Rasa; Catatan Perjalanan Rasa
Oleh: Cak WindaRASI Rasa berawal dari sebuah perjalanan belajar memahami .
Amakku Subayang, Subayang Amakku: Teater di Tepian Sungai, Mengingat Turun Mandi dan Luka Subayang
KAMPARKIRIHULU (Sunting.co.id) - Komunitas Seni Budaya (KSB) Rumah Sunting bersama Meneroka Indon.
KSB Rumah Sunting Gelar Festival Seni Konservasi 2026, Bertabur Hadiah dan Aksi Seni
PEKANBARU (Sunting.co.id) – Awal tri wulan kedua tahun 2026, Komunitas Seni Bu.
Rumah Sunting Persembahkan Teater ‘’Tesso Nilo’’ di Festival Seni Konservasi 2026
PEKANBARU (Sunting.co.id) – Setelah fokus dengan teater terjudul Datuk Pagar d.







