Kanal

Umi Kulsum: Bahasa Daerah Menghadapi Ancaman Kepunahan yang Serius, Revitalisasi Terus Digalakkan

PEKANBARU (Sunting.co.id) – Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Umi Kulsum M.Hum, menegaskan, bahasa daerah di Indonesia saat ini menghadapi kepunahan serius, termasuk di Riau. Untuk itu Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) terus digalakkan. Hal ini disampaikan Umi KUlsum menjelang Gelar Wicara sempena peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional (RBII), tahun 2026 di sekolah Azzuhra Pusat, Pekanbaru, Sabtu (21/2/2026).

‘’Kajian vitalitas terhadap 87 bahasa daerah pada tahun 2018—2019 menunjukkan adanya 24 bahasa yang aman, 19 bahasa yang rentan, 3 bahasa yang mengalami kemunduran, 25 bahasa yang terancam punah, 5 bahasa yang kritis, dan 11 bahasa yang punah (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2019). Data itu menunjukkan bahwa bahasa daerah menghadapi ancaman kepunahan yang serius,’’ kata Umi Kulsum.

Hal ini cukup dimaklumi, sambung Umi Kulsum, mengingat penggunaan bahasa daerah didominasi oleh generasi pra-boomer yang lahir pada tahun 1945 dan sebelumnya, yang mencapai 87,13 persen sesuai data Badan Pusat Statistik tahun 2023. Penggunaan oleh Baby Boomer 82, 56 persen, GenX cengan 77, 31 persen, Milenial  73, 95 persen, Gen Z  72, 21 persen, Pos Gen Z 62,96 persen.

Revitalisasi bahasa merupakan kebijakan yang melibatkan berbagai tingkatan masyarakat dan membutuhkan pendekatan yang komprehensif, jelas Umi Kulsum lagi. Di tingkat komunitas, upaya pendokumentasian dan perluasan ruang penggunaan bahasa menjadi hal yang krusial. Pada tingkat yang lebih luas, baik daerah maupun nasional, kebijakan pemerintah dalam mendukung bahasa daerah menjadi pilar penting dalam proses revitalisasi bahasa. Selain itu, dalam era digital, kerja sama internasional, serta pemanfaatan media dan teknologi juga berperan signifikan dalam upaya-upaya revitalisasi bahasa.

’’Kabar terakhir dari saudara kita di Tatar Sunda, sudah berkurang 2 juta penutur sunda dalam 10 tahun terakhir. Begitu pula dengan bahasa daerah lain, sudah mati 6 bahasa di Indoensia timur, dan Unesco lebih mengerikan lagi dengan mengatakan setiap dua minggu ada bahasa yang mati. Sama seperti manusia, bahasa ada yang sehat, ada yang rentan, ada yang kritis, dan ada yang mati. Revitalisasi bahasa daerah ini merupakan upaya kita agar bahasa daerah, khususnya di Riau, kondisinya tetap terjaga dan terawat dengan tetap dituturkan dari generasi ke generasi,’’ beber Umi Kulsum.

Untuk tahun 2026, sambung Umi Kulsum, RBD dilakukan dengan lokus Indragiri Hilir, Pekanbaru, Pelalawan, dan Kuantan Singingi. Tahun 2025 di Bengkalis, Siak, Rokan Hulu dan Rokan Hilir. Sedangkan tahun 2024 di Dumai, Kampar, Meranti, dan Indragiri Hulu. Adapun mata ajar yang disampaikan yakni Membuat Cerpen, Membaca Puisi, Tembang Tradisi, Lawakan/Komedi Tunggal, Berpidato, Mendongeng, Mambaca dan Menulis Aksara Arab Melayu.

’’Ada 800 guru yang mendapat pengimbasan dari para guru master dari RBD ini, karena kami mewajibkan minimal setiap guru master dapat mengimbaskan kepada 10 orang dan hasilnya ternyata luar biasa. Ada yang mengimbaskan kepada MGMP masing-masing lebih dari 60 guru. Untuk siswa SMP 545, SD 633 dengan total 1.179 siswa,’’ jelas Umi Kulsum.

Diakui Umi Kulsum, penggangaran pengimbasan dan juga Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat kabupaten menjadi tanggung jawab dinas kabupaten atau kota.

‘’Semoga tahun ini Revitalisasi Bahas Daerah di Riau lebih meriah lagi dan lebih banyak siswa yang lebih mencintai bahasa daerah dan juga mempu menyampaikan keterampilan berbasahsa teresebut dengan Bahasa daerah,’’ kata Umi Kulsum.(*)

Ikuti Terus Sunting.co.id

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER