KAMPARKIRIHULU (Sunting.co.id) - Komunitas Seni Budaya (KSB) Rumah Sunting bersama Meneroka Indonesia menggelar pertunjukan teater kolaboratif berjudul Amakku Subayang, Subayang Amakku pada Jumat, 12 Juni 2026 di Malako Kociak, Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau.
Pertunjukan ini ditampilkan langsung di tepian Sungai Subayang dan disaksikan oleh masyarakat Malako Kociak. Karya tersebut mengangkat tradisi Turun Mandi, yakni tradisi memandikan bayi ke Sungai Subayang sebagai bentuk pengenalan anak kepada keluarga, kampung dan alam sekitarnya.
Pertunjukan ini juga merespons kondisi Sungai Subayang yang mengalami perubahan akibat aktivitas pengambilan batu di aliran sungai. Penulis sekaligus sutradara pertunjukan Muhammad Ade Putra, mengatakan teater ini dibuat sebagai ruang bersama untuk mengingat dan membicarakan kembali hubungan masyarakat dengan Sungai Subayang.
”Pertunjukan ini lahir dari kegelisahan terhadap kondisi Sungai Subayang. Kami mengajak masyarakat untuk merefleksikan posisional sungai sebagai ruang hidup, ruang adat dan bagian penting dari ingatan masyarakat. Selain itu, proses teater ini dilakukan dengan berkolaborasi bersama masyarakat sebagai bentuk dari pemberdayaan masyarakat,” kata Ade.
Naskah teater pertunjukan ini disusun bersama masyarakat, di antaranya Devi, Midar, Nita, Nasrun dan Mail. Pertunjukan ini diperankan oleh Wulandari, Muhammad Ade Putra, Rima Fitrah, Nasruh, Asheila Nawa Shofa, dan puluhan anak-anak Malako Kociak. Cerita pertunjukan berpusat pada hubungan kakak dan adik. Tokoh kakak ingin anaknya kelak diturunmandikan di Sungai Subayang, sementara adiknya bekerja mengangkat batu dari sungai.
Konflik tersebut menggambarkan dilema antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan tanggung jawab dalam menjaga lingkungan. Pada bagian akhir pertunjukan, prosesi Turun Mandi turut dihadirkan sebagai simbol pengembalian anak kepada sungai dan komitmen untuk menjaga Subayang.
Founder Komunitas Seni Budaya Rumah Sunting, Kunni Masrohanti, mengatakan Turun Mandi hadir sebagai pengetahuan masyarakat dalam menjaga harmonisasi manusia dengan alam.
“Turun Mandi adalah salah satu cara masyarakat mengenalkan anak kepada kampung, sungai dan lingkungan hidupnya. Karena itu, menjaga Turun Mandi, sama artinya menjaga Sungai,” kata Kunni.
Pertunjukan ini merupakan Tugas Akhir dari Muhammad Ade Putra sebagai mahasiswa Magister Antropologi Minat Pemberdayaan di Universitas Gadjah Mada. Selain itu, pertunjukan ini juga menjadi bagian dari Program Residensi Malako Kociak yang didukung oleh Dana Indonesiana, Kementerian Kebudayaan dan LPDP.(*)