Kanal

Rumah Sunting Persembahkan Teater ‘’Tesso Nilo’’ di Festival Seni Konservasi 2026

PEKANBARU (Sunting.co.id) – Setelah fokus dengan teater terjudul Datuk Pagar dan membawa pentas keliling ke enam kabupaten/kota di tahun 2025, serta mewakili Riau di pentas teater nasional Festival Teater Sumatera (FTS) di Palembang, tahun 2026 ini Rumah Sunting kembali fokus menggarap teater. Kali ini berjudul Tesso Nilo

Tesso Nilo adalah pertunjukan yang syarat pesan konservasi dengan gajah sebagai inti garapan. Kunni Masrohanti, founder KSB Rumah Sunting adalah penulis naskah dan sutradara Tesso Nilo. Festival Seni Konservasi (FSK) sendiri dilaksanakan KSB Rumah Sunting didukung penuh Kepolisian Daerah (Polda) Riau dan dilaksanakan tanggal 11 April 2026 di Taman Tuan Kadi, Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru. Di sinilah Tesso Nilo dipersembahkan.

‘’Alhamdulillah, di awal Tahun 2026 ini kami kembali mempersembahkan teater berjudul Tesso Nilo. Selain menghibur, semoga pesan konservasi yang kami sampaikan juga bisa diterima masyarakat luas. Kami juga bermimpi Teater Tesso Nilo ini juga bisa hadir di banyak kabupaten di Riau sebagai uapaya turut ambil bagian dalam upaya konservasi alam dengan jalan seni. Ya, seperti naskah Datuk Pagar yang tahun lalu kami pentaskan di enam kabupaten. Semoga ada jalan,’’ kata Kunni.

Selain menghibur, teater Tesso Nilo juga sebagai sumber edukasi konservasi untuk masyarakat luas. Teater ini memberi pesan pentingnya hidup damai berdampingan antara manusia dengan alam sekitar, termasuk dengan hutan dan segala isinya sebagai wujud saling menjaga dan menghargai sebagai sesame makhluk ciptaan Tuhan. 

‘’Gajah sebagai hewan liar yang dilindungi secara undang undang, terus diburu. Di mana-mana. Sama seperti harimau. Konflik antara gajah dana manusia juga terus terjadi. Banyak masyarakat yang jadi korban. Ada yang meninggal. Kebun masyarakat juga dirusak karena gajah kehilangan ruang hidup dan sumber makanan. Bukan soal, kok gajah aja yang diurus dijaga, tapi dengan melindungi gajah dan tidak menghabisinya, berarti melestarikan alam, menjaga keseimbangan hidup manusia dengan alam sekitar. Semua makhluk Tuhan punya hak hidup termasuk gajah. Kenyataannya, gajah terus diburu, diambil gadingnya. Ini sering terjadi di Riau.  Harimau juga begitu. Maka lahirlah karya teater Tesso Nilo ini,’’ kata Kunni lagi.

Dikatakan Kunni lebih lanjut, sebagai seniman, dirinya dan Rumah Sunting yang dipimpinnya, harus menjadi corong edukasi dan upaya penyadartahuan kepada masyarakat tentang pentingnya konservasi.

‘’Seni memang tidak bisa menghentikan orang untuk berburu. Tapi seni bisa menghaluskan hati orang, menyadarkan banyak orang untuk saling menyayangi sesame makhluk hidup. Seni itu salah cara paling indah untuk memperhalus akan budi,’’ sambung Kunni lagi.

Pertunjukan teater Tesso Nilo di pentas FSK mendapat apresiasi dari banyak pihak, termasuk Kapolda Riau, Walikota Pekanbaru, Kepala Balai Bahasa Riau, para pejabat, penggiat konservasi, pimpinan NGO dan para seniman budayawan Riau. Apalagi pertunjukan kali ini Kunni dan Rumah Sunting melibatkan anak-anak tempatan Kampung Bandar, bahkan ada di antaranya yang menyandang disabilitas.

''Teater Tesso Nilo ini melibatkan belasan tim produksi. Mulai dari sutradara hingga para pemain. Syukurnya lagi, pertunjukan kali ini kami bisa melibatkan anak-anak tempatan yang sebelumnya mereka juga mengikuti program Literasi Konservasi dari Rumah Sunting. Bahkan ada di antara mereka yang disabilitas,'' ujar Pimpinan Produksi M Ade Putra.

Pertunjukan teater TessoNilo melibatkan belasan tim. Inilah tim produksi Tesso Nilo:

Kunni Masrohanti (penulis naskah dan sutradara)

Muhammad Ade Putra (pimpinan produksi)

Alang Alang Khalutulistiwa (penata artistik)

Taufik YP (penata musik)

Rima Fitrah (penata gerak) 

Vina (penata kostum)

Para pemain: 

Wulandari

Alifah Salsabilah

Ridwan Habib

Rima Fitrah

Resna Anita

Sabrina

Dimas Anugerah

Abel

Arfa

Aleeya

Nurul

Amel

Arif 

Ikuti Terus Sunting.co.id

BERITA TERKAIT

BERITA TERPOPULER