PEKANBARU (Sunting.co.id) – Setiap Ramadan tiba, selalu disambut dengan suka cita. Agar Ramadan tahun ini lebih semarak, Komunitas Seni Budaya (KSB) Rumah Sunting Pekanbaru melaksanakan berbagai kegiatan, Jumat (6/3/2026). Ada Tadarus Puisi yang dirangkaikan dengan kegiatan Santunan Anak Yatim dan Berbuka Bersama. Semua kegiatan ini dibungkus dalam satu tema, 'Petuah, Kata dan Cinta'.
Beskem Rumah Sunting yang terletak di Jalan Tigasari, Tangkerang Selatan, Bukitraya, Kota Pekanbaru ini pun berubah ramai. Apalagi kegiatan sudah terlebih dulu diawali dengan Nongkah (Nongkrong Bertuah), yakni poadcastnya ala Rumah Sunting sejak pukul 14.00 WIB.
Hadir Tadarus Puisi, Santunan Anak Yatim dan Berbuka Bersama ini keluarga anak yatim dari keluarga seniman dan pegiat seni di Riau. Hadir juga para donatur, di antaranya, Kepala Balai Bahasa Riau Umi Kalsum S.S, M.Hum, Walhi Riau dan Dr Bambang Kariyawan.
Hadir pula para peserta Literasi Konservasi Kampung Bandar, peserta Literasi Konservasi Tangkerang Selatan, peserta Literasi Konservasi Malako Kociak Rimbang Baling, Koordinator LPE Riau Muhammad Aprianda, Muhammad Asqalani EnEste, Mulyati Umar, tokoh masyarakat setempat dan keluarga besar Rumah Sunting. Bersama anak-anak dan seluruh hadirin mereka duduk bersila di teras.
Founder KSB Rumah Sunting, Kunni Masrohanti, menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun di Bulan Ramadan, kecuali santunan anak yatim yang baru dilaksanakan tahun 2025 dan 2026.
‘’Alhamdulillah, kami bisa melaksanakan kegiatan ini setiap tahun. Khusus santunan anak yatim dari keluarga seniman dan pegiat seni, ini tahun kedua. Kami sangat berterimakasih kepada para donatur dan membuka hatinya untuk bersama-sama berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim ini. Mereka juga anak-anak kita. Tanpa donatur, sulit bagi kami untuk melaksanakan ini. Semoga kami bersama para donator bisa melaksanakan ini kembali di tahun-tahun berikutnya. Sungguh, kami hanya sebagai penggerak dan pembuka jalan,. Terimakasih semuanya,’’ kata Kunni.
Kepala Balai Bahasa Riau, Umi Kulsum, S.S, M.Hum, yang juga salah satu donatur mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan Rumah Sunting tersebut. Ia berharap kegiatan ini akan terus dilaksanakan karena sebagai upaya dalam ikut serta memajukan keasastraan dan memperluas dampak khususnya bagi generasi penerus.
‘’Kami sangat bangga karena kegiatan berangkai-rangkai. Ada Nongkah yang sebelumnya Saya juga hadir sebagai pembicara, lanjut Tadaraus Puisi, Santunan Anak Yatim dan Berbuka Bersama. Rumah Sunting menjalankan caranya sendiri untuk menyebarkan dampak sastra dengan lebih luas kepada orang lain, terutama anak-anak. Ada juga anak-anak dari kegiatan Literasi Konservasi dan hampir semua membaca puisi dalan Tadarus Puisi ini. Mari bergerak terus dan terus berkolaborasi,’’ kata Umi.
Tua Muda Membaca Puisi
Tadarus Puisi merupakan program tahunan Rumah Sunting sejak tahun 2015. Kata Kunni, setiap tahun Rumah Sunting melaksanakan kegiatan ini. Tidak hanya di Beskem Rumah Sunting, tapi juga di kampus dan di kampung, kampung bahkan kerap kali dilaksanakan di ruang terbuka seperi di Danau PLTA, Tepian Sungai Subayang, Danau Tanjung Putus Buluhcina, dan masih banyak lainnya.
Sore itu, Tadarus Puisi dan kegiatan lainnya dilaksanakan di teras Beskem Rumah Sunting. Sederhana saja. Mereka duduk melantai dengan panggung kosong hanya berlatar belakang spanduk ukuran 2x2 meter, pembacaan puisi dilaksanakan secara bergantian. Tua muda, semuanya membaca puisi. Ada Muhammad Asqalani EnEste, Dr Bambang Kariyawan, Ahlul Fadli Walhi Riau, Kepala Balai Bahasa Riau, bahkan anak-anak yang hadir.
Penerima Santunan dan Donatur
Rumah Sunting berhasil mengumpulkan 18 nama anak-anak yatim dari keluarga seniman dan pegiat seni. Selain di Pekanbaru sebagiannya dari Kabupaten Kampar. Selain uang tunai, mereka juga menerima bingkisan. Dari 18 anak yatim ini, di antaranya ada yang tidak bisa hadir karena berhalangan dan ada yang dating sesudah magrib. Bagi yang tidak hadir, Rumah Sunting akan segera mengirimkan titipan dari para donatur itu sesegara mungkin.
Anak-anak tersebut yakni, ada anak dari almarhum Adepura Indra, seniman teater Riau asal Inhu. Mereka adalah, Prakacita Adwitiya, Al Qusnah dan Khalid Biru Fatindra. Ada Abidah Binti almarhum Sunardi atau Edy koreografer founder Sanggar Sri Melayu (berhalangan hadir), Joe Arkin Bin almarhum Rorry Hendra Saidina atau Itoy pemusik (berhalangan hadir). Ada anak-anak dari almarhum Kasmono, seniman teater (Kampar Kiri). Mereka yakni, Zizi, Geo dan Altaf Ada Ardiansyah Nur Bin Ardesnur, Qiara Nur Hafiza Binti almarhum Ardesnur, Nopal dan Ripal Bin almarhum Burhan (Kampar), serta Vina dan Radit yang juga berhalangan hadir.
''Mereka juga anak-anak kita. Sekali lagi terimakasih para donatur yang berhati mulia. Semoga anak-anak ini menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, rajin belajar dan menuntut ilmu, mengabdi bagi bangsa dan negara serta cinta tanah kelahirannya,'' kata Kunni yang akrab disapa Mak Kunni saat menyampaikan sambutan dengan suara parau, terbata-bata dan sesekali terdengar suara isaknya.
Suasana seketika menjadi hening. Tidak ada yang berbiacara. Semua menundukkan kepala. Tenang, Hanya suara Mak Kunni yang terdengar. Panggung yang semula riuh oleh puisi dan cerita itu, menjadi hening.
'Adapun donatur yang turut berbagi santunan ini yakni, Boy Even Sembiring, Eko Yunanda, Dewi Fianna Sari, Umi Kulsum S.S, M.Hum dan Balai Bahasa Provinsi Riau, Bambang Kariyawan, Supriyadi, Indra SE MBA, Nofrita Delly dan Walhi Riau. Santunan diserahkan oleh Kepala Balai Bahasa Riau didampingi Kunni Masrohanti. Rangkaian kegiatan diakahiri dengan foto dan Berbuka Bersama. (*)