JAKARTA (Sunting.co.id) - Susur Sisir Tengger (SST) adalah buku antologi puisi Karya Penyair Perempuan Indonesia (PPI). Buku ke-6 karya PPI yang bercerita tentang budaya dan tradisi masyarakat adat Suku Tengger di Malang ini ditulis dengan berbasis riset. Ada 25 penyair dengan 105 puisi di dalamnya. Mayoritas bercerita tentang perempuan Tengger dengan segala kekayaan kearifan lokalnya.
SST diluncurkan Sabtu (25/11) di Ruang Serba Guna Lantai 4, Perpustakaan Nasional di Jakarta saat PPI menggelar Festival PPI tahun 2025. Selain diluncurkan, buku tersebut juga didiskusikan oleh para narasumber. Hadir dalam kegiatan ini, penyair yang tergabung dalam PPI dari berbagai provinsi di Indonesia, seniman, budayawan, mahasiwa, pelajar dan umum.
Seperti biasa, buku karya-karya PPI bukan lahir begitu saja. Tapi dari perjalanan panjang melalui riset selama berbulan-bulan. Diawali dengan pembahasan secara umum tentang lokasi dan hal-hal yang akan ditulis melalui ruang zoom. Dilanjutkan dengan turun langsung selama beberapa hari ke lokasi, interview, observasi, berbaur langsung dengan masyarakat dan menggali berbagai sumber inspirasi, lalu menulisnya menjadi puisi. PPI membungkus perjalanan ke lokasi yang dituju tersebut dengan nama Pulang ke Kampung Tradisi (PKT) yang sudah menjadi agenda tahunan selama lima tahun terakhir. SST lahir dari PKT ke-5.
Ketua PPI, Kunni Masrohanti, menyebutkan, lahirnya buku SST diharapkan tidak hanya menjadi bagian dalam upaya menggemuruhkan dunia literasi di Indonesia saat ini. Tapi kehadiran buku tersebut diharapkan benar-benar bisa menjadi dokumentasi penting yang mencatat kebudayaan dan tradisi masyarakat Suku Tengger yang semakin hari semakin meredup karena kemajuan teknologi, khususnya terkait perempuan adat Suku Tengger, tepatnya di Desa Ngadas.
Kunni meyakini, bicara budaya dan tradisi akan selalu berbicara tentang alam dan hal-hal yang dinamis dan berubah. Kehidupan masyarakat adat, tentang adat dan segala tatanannya tidak bisa dijauhkan dengan takdir alam. Alam selalu berubah. Budaya dan tradisi juga akan berubah. Perubahan itu bukan harus dilawan, melainkan direspon agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tidak hilang.
‘’Bicara tentang budaya dan tradisi, tidak bisa lepas dari bicara alam dan lingkungan. Alam membentang menjadi guru. Alam tempat kembali segala tuju. Saat kami melakukan riset dalam perjalanan PKT sebagai sumber inspirasi menulis puisi, sudah banyak budaya dan tradisi yang berubah. Kadang setengah ada, bahkan hilang. Atau ada tapi hanya pada orang-orang tua. Ini terjadi di mana-mana. Alam berubah, lalu manusia dengan budayanya berubah. Ya, budaya adalah perubahan. Apakah perubahan itu kita sesali, tidak. Tapi harus kita respon agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tidak hilang. Nilainya, respon dengan cara apa, banyak cara. Kalau sekarang dunianya digital, medsos, ya respon dengan itu sambil kita terus mewariskan kepada generasi muda dengan cara yang bisa mereka terima agar tidak hilang. Puisi hanya sebuah jalan mencatat nilai-nilai itu, mendokumentasikannya agar tidak hilang. Ini juga proses pewarisan. Tapi puisi juga bisa menjadi wajah lain seperti lagu dan sebagainya,’’ kata Kunni panjang lebar.
Melalui Proses
Puisi-puisi dalam SST adalah puisi pilihan yang sudah dikurasi oleh dua penyair Indonesia: Ratna Ayu Budhiarti penyair asal Garut dan Rini Intama penyair asal Banten yang juga merupakan pengurus inti PPI. Ada lebih dari 200 puisi yang mereka terima. Setelah melalui proses kurasi dan mencari puisi terbaik, maka hanya 105 puisi yang dinyatakan lolos dan bisa masuk dalam buku SST.
Rini Intama yang bukan baru pertama kali berperan sebagai kurator buku-buku terbitan PPI, menyatakan, bahwa, puisi-puisi dalam SST hasil PKT Malang kali ini makin matang dan berisi. Artinya, secara kualitas kepenulisannya semakin bagus. Puisi-puisi yang ditulis oleh penyairnya juga beragam dan syarat makna.
‘’Ada banyak kemajuan yang ditemukan di buku Susur Sisir Tengger kali ini. Jauh lebih baik tulisannya dari buku-buku sebelumnya. Para penulis sudah belajar bagaimana membawa pembaca melampaui batas pandangan wisatawan. Karena tidak hanya menulis perjalanan atau upacara adat lainnya, tetapi diajak menyelami makna di balik semua yang ditemukan selama berlangsungnya PKT,’’ kata penulis Kidung Cisadane ini.
Sementara itu, Ratna Ayu lebih banyak melihat dan membeberkan apa yang terkandung dalam puisi-puisi penyair dalam SST. Menurutnya, para penyair selalu memiliki cara pandang, cara rasa dan cara tulis yang berbeda. Keberagaman itu menunjukkan betapa kayanya imajinasi yang lahir dari sebuah perjalanan dan kajian yang kemudian dituangkan dalam puisi.
‘’Ada banyak hal yang ditulis dalam buku Susur Sisir Tengger. Dalam puisi-puisi itu ada keresahan, kebahagiaan dan juga rindu pada sesuatu yang kadang entah apa tapi bisa ditangkap nyata. Rindu pulang, rindu kampung halaman, rindu ingatan dan sebagainya. Satu kata dengan banyak rasa dan cerita. Misalnya kabut atau kaweng. Banyak sekali penyair yang menulis tentang dua hal ini, tapi semuanya lahir dengan rasa yang berbeda. Semuanya punya argumen yang jelas sehingga meski pembaca memiliki tafsir yang berbeda, makna dan maksud puisi tersebut bisa tersampaikan dengan baik,’’ kata Ratna penyair yang sudah merambah ke dunia film ini.
Inilah 25 Penyair penulis Susur Sisir Tengger:
1.Alang-Alang Khatulistiwa
2.Ana Ratri3
3.Ayu Yulia
4.Berti Nurul Khajati
5.Chie Setiawati
6.Devie Komala Syahni
7.Eva Septiana
8.Heti Palestina
9.Iin Zakaria
10.Ira Pelita
11.Kunni Masrohanti
12.Mezra E Pellondou
13.Mimin Mintarsih
14.Muhammad Ade Putra
15.Nia Kurnia
16.Nunung Noor El Niel
17.Puput Amiranti
18.Ratna Ayu Budhiarti
19.Resty Nurfaidah
20.Rini Intama
21.Rissa Churria
22.Teti Marlina
23.Tri Wulaning Purnami
24.Vironika Sri Wahyuningsih
25.Yoza Veronika