Kemenhut Gelar Sosialisasi Pedoman Pemulihan Ekosistem di Taman Nasional Tesso Nilo

Rabu, 04 November 2026

Plt. Direktur Pemulihan Ekosistem dan Bina Areal Preservasi, Ditjen KSDAE, Dr. Badi’ah, S.Si.,M.Si, menyerahkan buku pedoman pemulihan ekosistem TNTN kepada Kepala Balai TNTN, Heru Sukmantoro, S.Hut, M.M, saat kegiatan sosialisasi, Rabu (4/11/2026). IST

PEKANBARU (Sunting.co.id) - Dalam rangka memperkuat sinergi lintas sektor dan merangkul partisipasi aktif masyarakat, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia menyelenggarakan Sosialisasi Pedoman Pemulihan Ekosistem Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 661 Tahun 2026. Rabu (4/11/2026)  di Hotel Pangeran, Pekanbaru.

Kegiatan ini dihadiri oleh Plt. Gubernur Riau selaku Ketua Tim Percepatan Pemulihan TNTN (TP2TNTN), jajaran forum koordinasi pimpinan daerah (Forkopimda), Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), perwakilan masyarakat desa penyangga dan para mitra.

Kegiatan sosialisasi ini diselenggarakan sebagai langkah strategis untuk memberikan pemahaman yang benar dalam melaksanakan kegiatan pemulihan ekosistem di TN Tesso Nilo pasca-penertiban kawasan hutan oleh Satgas PKH. Kehadiran pedoman ini memberikan standar operasional berbasis sains (science-based restoration) guna memulihkan integritas ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang terdegradasi sebagai habitat Gajah Sumatera dan mengembalikan sistem hidrologi yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat secara sistematis, terukur, adaptif dan melibatkan multi pihak.

TN Tesso Nilo dengan luas penetapan 81.793 hektar telah mengalami degradasi menjadi kebun sawit sekitar 83,2% atau seluas 68.043 hektar. Kondisi tersebut menyisakan tutupan hutan alami sebesar 13.750 hektar atau sekitar 16,8% saja, sebagai  sumber genetik (seed/seedling bank).

“Kerusakan ekosistem ini berdampak langsung pada kelestarian Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan keseimbangan hidrologi kawasan. Perambahan yang marak telah memecah habitat gajah menjadi kantong-kantong kecil serta memutus koridor gajah sumatera. Pemulihan ekosistem TN Tesso Nilo ini dirancang untuk memulihkan habitat Gajah Sumatra dan koridornya dan memperkaya jenis-jenis pakan dan naungan untuk Gajah Sumatera. Untuk mengoptimalkan habitat satwa kunci ini, diterapkan rekayasa habitat terpadu seperti pembangunan saltlick atau sumber mineral buatan di zona lembah yang berfungsi sebagai jangkar spasial guna menahan pergerakan gajah agar tetap beraktivitas di dalam kawasan dengan aman dan jauh dari permukiman warga”, ujar Dr. Badi’ah, S.Si.,M.Si., Plt. Direktur Pemulihan Ekosistem dan Bina Areal Preservasi, Ditjen KSDAE saat membuka kegiatan tersebut.

Selain untuk perlindungan satwa, pemulihan kawasan ini sangat krusial bagi rehabilitasi sistem hidrologi Riau. Kawasan TN Tesso Nilo memegang peran vital sebagai daerah tangkapan air (catchment area) bagi tiga sungai utama, yaitu Sungai Nilo, Sungai Air Sawan, dan Sungai Air Hitam.

Alih fungsi hutan menjadi kebun sawit monokultur telah menghilangkan daya resap air dan memicu pemadatan tanah, sehingga mengakibatkan wilayah sekitarnya rentan mengalami banjir saat musim hujan akibat besarnya limpasan permukaan, serta mengalami kekeringan ekstrem pada musim kemarau.

Melalui penanaman vegetasi riparian di sepanjang sempadan sungai dan penutupan kanopi hutan secara bertahap, fungsi retensi air tanah diharapkan dapat pulih kembali sehingga mampu menstabilkan iklim mikro dan menjaga tata air regional secara berkelanjutan.

Pelaksanaan pemulihan ekosistem TNTN ini didukung oleh strategi pembiayaan multi-sumber yang kolaboratif dan berkelanjutan, mengintegrasikan anggaran APBN, program Rehabilitasi DAS, skema Result-Based Contribution (RBC) FOLU Net Sink 2030, dukungan sektor swasta melalui Remedy Framework, kerjasama penguatan fungsi, serta philantropi baik nasional maupun internasional. Seluruh proses pelaksanaan juga mengedepankan pelibatan masyarakat desa penyangga.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Kepala Balai TNTN Heru Sukmantoro, S.Hut, M.M dan Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia, Donni Gunaryadi. Heru mengupas upaya pemulihan TNTN dengan segala tantangan yang dihadapi selama upaya itu dilakukan. Sementara Donni menyampaikan kondisi habitat gajah Sumatera, khususnya di TNTN.

Plt Gubernur Riau selaku Ketua Tim Percepatan Pemulihan Taman Nasional Tesso Nilo (TP2TNTN) diwakili Sekretadis Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Riau Nurhaeni , S.Si, M.T, menyebutkan, pemulihan TNTN sangat penting untuk masyarakat dan alam.

‘’Pentingnya pemulihan Tesso Nilo untuk menjaga sistem kehidupan masyarakat sekitarnya serta mengembalikan ekosistem gajah. Pedoman yang disosialisasikan ini salah satunya berisi tentang strategi pemulihan serta pentingnya keterlibatan masyarakat,’’ kata Nurhaeni yang akrab disapa Reni.

Melalui sinergi lintas sektor dan komitmen bersama ini, pemulihan TN Tesso Nilo diharapkan menghadirkan solusi jangka panjang untuk memulihkan 'jantung' ekologi Riau. Hutan yang sehat bukan hanya rumah bagi Gajah Sumatera, tetapi juga 'spons raksasa' pelindung desa-desa kita dari ancaman banjir bandang di musim hujan dan kekeringan ekstrem di musim kemarau.(*)