Puisi Kunni Masrohanti

Jumat, 02 Oktober 2026

DOK. SUNTING

Puisi-Puisi Kunni Masrohanti

PENIMBUN PELIPUR DI KAKI CIREMAI

Saban waktu adalah terik
Angin mengencang, embun tak basah, tanah-tanah kering, retak
Air mesti disimbah, sekian ingin menyerah, mereka terdiam, kalah
Engkau tak kenal telah
Senyummu selalu basah, tipis
Menjadi garis apa yang sudah menjadi tidak
Menjadi gerimis di jantung-jantung kecil yang  belum mengenal apa itu lalu, 
tadi itu ini sudah akan dan bagaimana kelak
kecuali
Mah abdi lapar

Apa yang baru kusepuh mengapa menjadi karat
Ranghyang Kuku, aku bukan ibumu, Pwahaci Rahbabu 
yang melahirkan musuh satu kelambu, yang menggunungkan dendam
sepanjang perjalanan hingga takhta Galuh 
dengan keringat darah harus kau taklukkan
Aku bukan ibumu, mengapa dihukum malu
Mungkinkah aku Dewi Sanaha, 
saudara seibu yang yang seharusnya menjadi bisa, 
menjadi penghibur seluruh lara

Kau yang terus bertanya salahmu apa,
tanganmu membesi, terus menggali tanah-tanah kering
Saban waktu, meski  ingin jelas-jelas koyak di sekali sela
Terus lagi tak henti terus gali hingga keringat mengembun api
Dan kau timbun pelipur di kedalaman waktu
Agar janji menguat sampai ke ujung musim
Tak jadi hantu tak jadi malu

Di lereng Ciremai tanah Cigugur ini
Pelipur yang kau tanam tumbuh subur, 
menjadi jawab setiap tanya yang kau sebut galur

Kuningan, Juli 2026

SANGHYANG ROPOH; 
ANTARA RIMBA DAN BATU-BATU KECIL YANG MEMBAWAKU PULANG

Disaksikan hari yang perlahan membuka mata, 
Kau  tawarkan tiba-tiba yang purna
Tiba-tiba kilat, tiba-tiba beku, tiba-tiba begitu, tiba-tiba, 
tiba-tiba cermin
Mengaca aku pada wajahmu yang langit,
pandang yang terbuka setelah rimba batas
Kau di sini Sanghyang Ropoh
Bukan  putri, bukan dewa, bukan tokoh, bukan sanjungan, 
bukan bukan
Merenung aku di dadamu
Berbisik pada subuh yang bisu
Sedang semburat ufuk sibuk membuat mata mabuk, Surili  mengangguk 
setengah kantuk

Sedikit lagi langkah kita sampai pada puncak yang bukan
Sebab pulang adalah tujuan

Sanghyang Ropoh
Detik entah yang ke berapa, tiba itu akan sampai,
disaksikan palahlar, jamuju, sonokeling dan saniten
Batu-batu kecil ini mengingatkan agar aku pergi sebelum jauh
Dia yang membawaku pulang ketika lupa adalah bunga di benakku,
antara rimba dan batu-batu kecil di cadas mau

Kuningan, 2026

KAWIN CAI

Coba lihat mana yang kita siram menjadi apa
Dari air di tanahmu dan tanah kita, 
yang jernih atau yang keruh,
yang wangi atau beraroma rusuh
Ia tumbuh menjadi bunga di jantung kita
Wanginya sampai ke ujung paling pulang
Ia menjadi syukur pada musim-musim pertemuan,
dan diksi-diksi bermunajat
Satu
Rindu

Di Kuningan, banyak cai kita kawinkan
Dari rapal yang tak biasa menjadi doa
Satu tempat banyak siraman
Banyak tangan satu sasaran
Satu akar muasal
Karuhun agung di puncak gunung, 
di lembah, di laut, di rimba-rimba berkabut,
di semua sudut
Satu
Pulang

Kuningan 2026

KAU LISUNGKAN JUA JANJI TIBA DI BAWAH PURNAMA

Geulis,
Janji yang kau terima saat purnama telah tiba
Sinjang kau rapikan, gincu kau ratakan
Selarik senyum di kaca kecil, kau tatap kuat
Cemas yang gagap
Ia maha irama yang mendegubkan jantungnya  tanpa jeda
Kau purnama dipapag mantra

Karuhun membawamu pulang ke akar semesta
Hitung watku opat belasan, bintang menjadi arah pulang, 
musim mana jadi pegangan
Lalu kau pilih halu, lisungkan rindu pada hati pilihan ibu
Di bawah purnama menjadi gerencong
Gemerincinglah suara lisung di dadamu
‘’trok, tung..dung..prek’’
Dia datang
Orang-orang tiba
Laman penuh, riang tawa tabuh menabuh
Halu lisung penanda temu
Mapag Purnama menjadi restu

Kuningan, 2026

RIUH SUARA TUJUH BELAS RENTENG

Sesekali bersuara, tapi riuh
Saat riuh, yang lain runtuh
Runtuh dalam seonggok nasi kuning, ayam sepotong 
dan aroma kemenyan yang sombong
Tak bisa satu, tak jadi jika tujuh
Tak hidup meski separuh
Belasmu waras, serenteng datangkan punca tanpa geleng
Aih, pesan paling sungguh di renteng paling jauh
Jauh ke belakang waktu, jatuh kesombongan
Sampurasun karuhun
Ku dengar pelan-pelan dari belas ke belas
Tanpa batas
Talatahmu mengundang sumpah dalam riuh renteng yang sunyi
Tapi saksi jalan sejarah di belakangmu hingga  ke depanku paling nanti

Sesekali riuh
Tujuh belas renteng, di ketukmu kisah tak pernah sudah
Sedang aku baru belajar untuk menjadi pernah

Kuningan, Juli 2026

 

KUNNI MASROHANTI adalah seniman, jurnalis dan aktivis yang lahir di Desa Bandar Sungai, Siak Sri Indrapura 11 April 1974. Ia menulis buku puisi Sunting (buku puisi tunggal Goeboek Indonesia, (2011), Perempuan Bulan (buku puisi tunggal, Frame publising, 2016), Calung Penyukat (buku puisi tunggal, Imaji, 2019), Kotau (buku puisi tunggal, Tarebooks, 2020), Dan Perempuan yang Kau Telan Airmatanya (buku puisi tunggal, Salmah Publishing, 2021), Harmoniasi Masyarakat dan Alam Rimbang Baling (buku budaya dan tradisi, 2018), Cipang Warisan Leluhur yang (hilang) Nyata (buku budaya, tradisi, 2019), Sekelumit Sejarah Kerajaan Gunung Sahilan (buku sejarah, 2019), Tesso Nilo Berkarya Tanpa Batas (Konservasi, 2020) dan puluhan buku antologi puisi bersama. Puisinya yang berjudul Salam Angin dan Gadis Melayu  juga diterjemahkan dalam bahasa Korea dalam kumpulan puisi penyair Korea-Indonesia (Monsoon Vol.2, 2017). Meraih berbagai penghargaan antara lain; Anugerah Kebudayaan dari Pemerintah Provinsi Riau (2021) kategori Tokoh Budaya, Anugerah Kesastraan dari Balai Bahasa Provinsi Riau (2020) kategori Sastrawan Pilihan, Anugerah Sagang oleh Yayasan Sagang Riau (2019) kategori Seniman Budayawan, Anugerah 20 buku terbaik dari Yayasan Hari Puisi Indonesia (2020) berjudul Kotau, Anugerah buku puisi terbaik (2019) berjudul Calung Penyukat dari Yayasan Hari Puisi Indonesia (HPI) di Jakarta kategori buku terpuji, Anugerah Pemangku Seni Tradisional dari Gubernur Riau (2014), Anugerah Sagang kategori buku puisi terbaik berjudul Sunting (2011). Anugerah Baiduri dari PRBF Fondation (2014) kategori Sastrawati Pilihan, juara I Pekan Seni Mahasiswa (Peksiminas) (1999) di Surabaya, pemeran terbaik festival teater Dewan Kesenian Riau (DKR) (1998)/teater tradisi, pemeran terbaik festival DKR (1999)/teater bangsawan, pemeran terbaik festival teater DKR (2000)/teater tradisi, Sutradara terbaik festival teater DKR (2000) dll. Ia penyair, penulis naskah dan sutradara teater, menggagas program Literasi Konservasi bersama Komunitas Seni Budaya Rumah Sunting yang didirikannya tahun 2012 dan  menggagas program Pulang ke Kampung Tradisi bersama Penyair Perempuan Indonesia (PPI) yang didirikannya bersama rekan-rekannya tahun 2018 dan diketuainya sampai sekarang. ***