
Rombongan Penyair Perempuan Indonesia (PPI) saat berkunjung ke pengelolaan limbah kohe di kaki Gunung Ciremai, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kuningan, Minggu (2/8/2026). FOTO IST
KUNINGAN (Sunting.co.id) – Tidak hanya kelestarian budaya, PPI juga peduli dengan kelestarian alam dan lingkungan. Untuk itu, pada kegiatan Pulang ke Kampung Tradisi (PKT) ke-6 dengan tema Milampah Tapak Kuningan tahun ini, PPI juga berkunjung ke perkampungan di bawah kaki Gunung Ciremai, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur untuk menggali kearifan lokal dan kekayaan alamnya, Minggu (2/8/2026).
Kegiatan diawali dengan diskusi ringan dan santai di Kedai Cadas Poleng, persis di jalur pendakian via Palutungan. Di sana ada tokoh masyarakat Endun Abdullah dan Penyuluh Kehutanan Balai TNGC Yoesry Hilmy, S.Hut. Keduanya membeberkan kondisi Gunung Ciremai dan praktik kebudayaan yang masih berlangsung hingga saaat ini.
‘’Berbagai kegiatan kebudayaan masih dilaksanakan masyarakat di Gunung Ciremai ini. Misalnya, Seren Tahun oleh masyarakat Cigugur, Sedekah Bumi Desa Cibuntu dan Kawincai Desa Kramatmulya,’’ ungkap Kang Ndun.
Kang Ndun juga mengatakan, Gunung Ciremai saat ini mengalami banyak kerusakan. Ancaman terjadi di mana-mana. Tidak hanya kebakaran hutannya, tapi juga limbah kohe (kotoran hewan), sadap pinus dan lainnya.
‘'Empat desa airnya sudah tercemar oleh kotoran hewan. Upaya untuk meminimalisir pencemaran itu, sudah dilakukan beberapa hal oleh masyarakat sendiri dengan mengolah kohe menjadi pupuk. Hutan Gunung Ciremai juga terbakar, belum lagi penyadapan pinus di dalam kawasan, Banyak sekali ancaman,’’ ungkap Kang Ndun lagi.
Sementara itu, Yoesry Hilmy, menyebutkan, ancaman demi ancaman yang bisa merusak kelestarian alam Gunung Ciremai, berarti juga merusak keberlangsungan kabudayaan atau kearifan lokal masyarakat setempat.
Dari sisi yang lain, Gunung Ciremai tetap masih berdiri dengan fungsinya sebagai kawasan konservasi. Di sisi yang lain, ia menjadi salah satu tempat dilaksanakannya berbagai kegiatan kebudayaan masyarakat lokalnya.
‘’Kalau soal kebudayaan masyarakat di dalam kawasan Gunung Ciremai, masih tetap dijalankan hingga saat ini, salah satunya. Nyucruk Jalur. Satu sisi, Gunung Ciremai sebagai kawasan konservasi, ia merupakan menara air. Di sisi lain, ia sebagai tempat dilaksanakannya berbagai praktik kebudayaan masyarakat lokal yang tujuannya juga untuk pelestarian,’’ kata Yoesry yang akrab disapa Kang Ucrit.
Sebagai gunung tunggal, Gunung Ciremai memiliki kekayaan flora dan fauna. Tanaman dan hewan endemik juga banyak ditemukan di gunung ini. Antara lain, macam tutul jawa (key species), Surili (Key Specises), elang jawa (key species), kodok merah, kukang, pohon palahlar, pohon jamuju pohon sonokeling dan saninten. Pohon ini banyak yang dicuri seperti pohon sonokeling.
‘’Konservasi tidak bisa dilaksanakan oleh Balai TNGC sendiri. Justru, masyarakat sudah menjalankan cara-cara konservasi dengan kearifan lokal yang mereka warisi sejak turun temurun. Kebersamaan inilah yang sangat kita perlukan. Kehadiran ibu-ibu penyair ini juga bagian dari konservasi alam dan budaya Kuningan. Caranya, dengan mencatat dan mewariskan nilai-nilai konservasi alam dan budaya itu kepada generasi berikitnya dengan jalan puisi. Terimakasih banyak PPI sudah hadir di Kuningan,’’ kata Kang Ucrit lagi.
Datangi Pengelola Limbah Kohe
Usai diskusi di basecamp Palutungan, rombongan PPI melanjutkan perjalanan ke Lamping Kidang, kawasan wisata berbentuk perkemahan. Lokasinya masih di sekitaran basecamp Palutungan juga. Di sini, para penyair dibawa untuk melihat dan menikmati keindahan panorama Gunung Ciremai dengan lembah yang eksotik dengan latar belakang Gunung Puteri atau bagian kecil dari Gunung Ciremai. Lamping Kidang juga merupakan nama koperasi di bawah binaan Balai TNGC yang memiliki dua usaha, yakni lokasi perkemahan dan usaha limbah kohe.
Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi tempat pengelolaan limbah kohe yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi perkemahan. Di sini ada Pak Jajang atau yang akrab disapa Kang Jajang dan rekan-rekan. Kang Jajang adalah koordinator usaha pengelolaan limbah kohe.
‘’Awalnya usaha pengelolaan limbah kohe dulu baru usaha perkemahan. Pengelolaan kohe ini sangat penting mengingat kohe sudah menjadi ancaman bagi kejernihan air di kawasan ini. Lalu, pihak koperasi Lamping Kidang kami beri kesempatan untuk membuka usaha baru, yakni lokasi perkemahan itu. Kalau kohenya tidak jalan, perkemahannya kami tutup. Ya, perkemahan ini bonus karena masyarakat dengan tekun mengelola limbah kohe,’’ kata Kang Ucrit saat tiba di lokasi penglolaan limbah kohe tersebut.
Kang Jajang dan kawan-kawan sudah mengelola limbah kohe menjadi pupuk organik ini sudah hampir belasan tahun. Sudah lama. Kerja keras mengelola kohe menjadi pupuk memang tidak mudah, tapi juga menghasilkan keuntungan. Satu karung pupuk hasil olahan kohe dijual dengan harga Rp10 ribu. Sudah kering dan tidak ada bau sama sekali. Tidak heran jika dalam sebulan, koperasi yang memiliki dua usaha ini bisa menghasilkan jutaan rupiah.
‘’Kami menyadari Gunung Ciremai sebagai sumber air bagi masyarakat di sekitarnya, bahkan sampai ke kabupaten lain, tapi sudah terjadi pencemaran. Maka kami berusaha hadir untuk mengelola kohe, kami jadikan budaya sehari-hari. Ya, agar air jernih, ternak banyak, dan kohe bisa jadi keuntungan berikutnya. Mohon doa agar usaha kami lancar,’’ kata Kang Jajang.
Kehadiran para penyair perempuan ke kampung-kampung di bawah kaki Gunung Ciremai ini hanya salah satu dari rangkaian kegiatan PKT tahun ini, Sehari sebelumnya, meraka menggali tradisi di Pasar Renteng Cibogo, kunjungan ke kampung adat Majalaya, bincang sastra dan pergelaran seni.
Ketua PPI Kunni Masrohanti, mengatakan, Pulang ke Kampung Tradisi ini bukan pulang bisa, apalagi jalan-jalan biasa. Tapi pulang untuk membawa ingatan banyak orang, membawa pengalaman, apa yang dirasa dan dilihat ke dalam karya sastra yaitu puisi,
‘’Pulang ke Kampung Tradisi tahun ini merupakan yang ke-6. Semua keluarga PPI yang ikut pulang harus merekam, mencatat lalu menulis apa yang didapatkannya selama pulang ke dalam puisi. Semua puisi akan dibukukan untuk menjadi ingatan kembali bagi anak cucu kelak. Karena ini pulang ke enam, maka akan lahir buku ke enam. Jadi ini bukan pulang biasa, pulang milampahi tapak Kuningan,’’ jelas Kunni.
Perjalanan pulang kampung tahun-tahun sebelumnya, PPI telah melahirkan lima buku puisi, yakni, Temanten (hasil PKT 1), Umbul Pasiraman (PKT 2), Ajari Aku Baduy (PKT 3), Nyulam Kata Tanah di Lada (PKT 4), Susur Sisir Tengger (PKT 5). Sebelumnya, atau di awal perjalanan PPI di luar PKT, PPI telah melahirkan buku Palung Tradisi.
‘’PKT juga sebagai upaya PPI dalam mendokumentasikan dan melestarikan objek kebudayaan dengan cara puisi, termasuk juga pelestarian bahasa daerah serta bentang alam yang tidak bisa dipisahkan dengan keletastarian budaya. Semoga apa yang dilakukan PPI, khususnya dengan lahirnya buku puisi menjadi kontribusi yang bermanfaat bagi bangsa ini,’’ kata Kunni lagi.
Ketua Panitia, Rini Intama, menjelaskan, sebelum PKT dilaksanakan, panitia telah melakukan survey dengan mengkaji dan mendatangi lokasi-lokasi yang akan dikunjungi. Selain itu juga menemui tokoh-tokoh masyarakat, tokoh budaya, seniman dan beberapa pimpinan komunitas sastra dan Taman Baca Masyarakat (TBM) di Kuningan.
‘’Sebelum kami semua hadir di Kuningan, kami sudah melakukan survey terlebih dulu. Jadi bukan hanya kekayaan budaya saja yang kami pelajari tapi juga kekayaan alam dengan segala kondisinya. Ya, semoga apa yang direncanakan bisa dilaksanakan dengan baik sampai akhir,’’ harap rini. (*)