Balai Bahasa Riau Petakan Sastra Lisan di Rantau Kampar Kiri

Sabtu, 11 Juli 2026

Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Dr. Umi Kulsum, S.S, M.Hum (paling kanan) bersama founder KSB Rumah Sunting Kunni Masrohanti (dua dari kanan) dan tim Rumah Sunting lainnya saat menyaksikan Silat Bungo di Desa Tanjung Beringin, Kamis (9/7/2026). FOTO SU

KAMPARKIRI (Sunting.co.id) – Di tahun 2026 ini, Balai Bahasa Provinsi Riau menjalankan program pemetaan sastra lisan di Rantau Kampar Kiri. Kegiatan dilaksanakan di beberapa titik. Di antaranya di Kenegerian Malako Kociak, Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Kamis (9/7/2026).

Kepala Bahasa Riau, Dr Umi Kulsum, S.S, M.Hum, mengatakan, pemetaan dilaksanakan karena memang sudah merupakan program Balai Bahasa Riau dengan tujuan mengetahui lebih jelas apa saja sastra lisan yang ada di tengah masyarakat, khususnya Rantau Kampar Kiri.

‘’Masih banyak sastra lisan yang belum terdokumentasikan dengan baik. Makanya, Balai Bahasa Riau tahun ini ada kegiataan pemetaan sastra lisan. Ya, karena keterbatasan, pemetaan baru bisa dilaksanakan di Rantau Kampar Kiri. Semoga ke depan semua sastra lisan di Riau ini bisa kami petakan dan dokumentasikan dengan baik,’’ katanya.

Dokumantasikan Sastra Lisan dan Nonton Silat Bungo di Tanjung Beringin

Dalam perjalanan pemetaan sastra lisan di Kampar Kiri ini, Kepala Balai ditemani 6 orang stafnya yang lain. Sastra lisan yang didokumentasikan juga tidak hanya satu. Ada Inang Majopuik Padi, Batimang, Pasomban dan Malalak yang pengambilan videonya dilaksanakan di kebun karena dianggap tabu dan tidak boleh dilagukan di tengah kampung.

Satu malam di Tanjung Beringin, Umi Kulsum dan tim juga berkesempatan menyaksikan Silat Bungo di lapangan kecil di tengah kampung tersebut yang dilanjutkan dengan diskusi kecil terkait Silat Bungo dan sastra lisan di sana.

Perjalanan pemataan di Desa Tanjung Beringin ini juga dibersamai Komunitas Seni Budaya Rumah Sunting selaku penggerak dan inisiator berdirinya Komunitas Seni Budaya Linayungan yang ada di desa tersebut. Sejak Linayungan berdiri, suasana berkesenian dan berkebudayaan termasuk munculnya Silat Bungo kembali, semakin terasa.

‘’Desa Tanjung Beringin ini merupakan desa yang lengkap terkait praktik-praktik kebudayaannya, termasuk sastra lisan. Di sini ada Batimang, Malalak, Inang Jopuik Padi, Cito, Mantra dan juga ritus seperti Turun Mandi, Semah Antau Semah Nagoghi yang sekarang hanya ada di Tanjung Beringin, dan lain sebagainya. Makanya Ketika Balai Bahasa menghubungi, langsung kami rekomendasikan ke Tanjung Beringin,’’ kata Kunni.

Selain di Tanjung Beringin, tim Balai Bahasa juga melakukan pemetaan di Desa Kuntu, Teluk Paman dan Lipatkain, Kecamatan Kampar Kiri.(*)