Cinepelan Hadirkan Tiga Film Pendek, Kunni Kupas Dari Sisi Perempuan, Ekologi dan Budaya

Sabtu, 22 November 2025

Para pembincang dan peserta nonton bareng film dokumenter bersama Cinepelan diakhiri foto bersama, Jumat (21/11/2025) di Non Blok Ekosistem, Pekanbaru. FOTO IST

PEKANBARU (Sunting.co.id) - Komunitas Cinepelan bersama Nonblok Ekosistem menggelar nonton bareng tiga film pendek yang semuanya berkaitan dengan perempuan, Jumat (21/11/2025). Dengan mengusung tema ‘Mendengar Lebih Dekat’, Cinepelan mengajak pembincang seniman, penyair, aktivis dan jurnalis Kunni Masrohanti dan alumni UGM, Cici Rifmayanti untuk mengupas bersama film tersebut. 

Tiga film pendek tersebut yakni berjudul, The Other Daughter (2024) yang disutradarai Fala Fatika, Laila (2024) disutradarai Wulan Dari dan Garden Amidst The Flame (2022) disutradarai Natasha Tontey. Masing-masing film disutradarai permpuan, berkisah tentang kehidupan perempuan dengan latar belakang yang berbeda-beda. 

Juru Film Cinepelan, Galih Pramuditho, mengatakan, masing-masing orang memiliki tafsir saat menonton film. Tapi kadang film membawa seseorang berfikir atau merasakan sesuatu yang selama ini tidak terfikirkan sama sekali olehnya. 

‘’Judulnya mendengar lebih dekat. Jadi, ya kita sama-sama mendengar dan melihat dekat bagaimana kehidupan perempuan dalam tiga film ini. Tafsir pentonton terhadap suatu film pasti beda-beda. Tapi kerap kali film menyampaikan sesuatu yang bahkan tidak terlintas dalam benak kita,’’ kata Galih.

Kunni, selaku aktivis lingkungan, seniman, budayawan dan juga seorang jurnalis, tidak hanya memandang film tersebut dari sudut pandang perempuan, tapi juga ekologi dan budaya. Bahkan dua film di antaranya disebut Kunni sebagai film etnografi yakni film Laila dan Garden Amidst The Flame. Kedua fim ini dibuat dengan kajian sosial, budaya dan alam yang mendalam tentang masyarakat yang tinggal di Minahasa dan Kutai Timur.  

Pada film Laila, Kunni menyebutkan, sutradara selain ingin menunjukkan budaya nikah dini bagi perempuan di Kutai Timur yang kasusnya masih banyak terjadi saat ini, juga menunjukkan sikap protes bahwa perempuan juga harus bebas memilih jalan hidupnya sendiri, seperti kisah yang diperankan Laila dalam fim tersebut.  

Dari sisi ekologi, kata Kunni, sutradara juga ingin menunjukkan kekayaan alam laut atau pesisir dengan ikannya yang banyak yang tidak dirasakan dampaknya oleh masyarakat, bahkan masyarakat masih berada di bawah garis kemiskinan sehingga berpengaruh kepada cara fikir mereka. Suasana ini ditunukkan dengan sampan, suasana kampung tepi sungai dan rumah-rumah panggung kayu yang menjorok ke sungai. 

Di sisi lain juga menunjukkan bahwa perempuan, Laila, hadir dengan persoalan dirinya sendiri selain persoalan di luar dirinya yakni dipaksa menikah usia dini, seperti mengalami datang bulan  pertama, kurangnya edukasi seksual dan lain sebagainya.

Begitu juga pada film Garden Amidst The Flame yang seluruh filmnya melibatkan perempuan, aktornya anak-anak muda perempuan tentang pewarisan tradisi perang. Film ini menggabungkan suasana modern dan juga tradisi masa lalu. Ada upaya pewarisan nilai-nilai luhur budaya dengan latar belakang lingkungan, hutan dan batu-batu di perkampungan Minahasa. Melihat film ini, kata Kunni, seperti mengikuti sebuah wisata budaya secara virtual. 

‘’Film Laila dan Garden Amidst The Flame, merupakan film etnografi. Sutaradara ingin menunjukkan budaya lokal, kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di tengah masyarakat baik di Kutai Timur dan Minahasa, selain protes atas ketidakadilan seperti yang dirasakan Laila. Tahun 2024, pemerintah setempat menemukan hampir 120 kasus pernikahan dini. Bahkan hingga pertengahan tahun ini sudah ada 48 kasus pernikahan dini. Ini yang ingin diangkat sutaradara. Ada protes yang kuat atas ketidakbebasaan bagi perempuan memilih jalan hidupnya. Selain itu ada juga isu ekologis yang sangat kental ingin disampaikan. Pada film Garden Amidst The Flame, sutradara ingin mewariskan kearifan lokal melalui karya film juga mengeksplore kekayaan alam dan budaya Minahasa,’’ kata Kunni. 

Khusus film The Other Daughter, Kunni juga menyinggung ada hal-hal yang sangat menyakitkan bahkan menimbulkan ketidak seimbangan yang terjadi pada perempuan, khususnya anak dan juga istri, yakni tidak berfungsinya peran seorang ayah atau seorang suami. Film dokumenter ini tidak hanya menunjukkan luka warisan dari nenek kepada ibu dan dari ibu kepada anak, tapi juga menunjukkan kekuatan seorang perempuan, sekaligus kelemahan-kelemahannya. ‘

’Banyak sekali pelajaran dari film The Outher Daughter. Ini sekarang yang sering terjadi pada anak-anak masa kini. Ketika peran ayah hilang, peran ibu tidak seimbang, anak kehilangan tempat pulang, tempat peluk, tempat mengadu, sehingga anak lebih senang menyakiti diri sendiri, benci pada diri sendiri. Sang aktor Vala juga menunjukkan prilaku encuety, depresi, bahkan self harm. Sementara sang ibu, kehadiran anak adalah luka, meski cintanya selalu tidak bersyarat. Semua jadi pelajaran, bahwa ada sesuatu yang terjadi di luar kemampuan kita. Itulah takdir. Film ini banyak mengajarkan agar kita tetap optimis dengan apapun yang ditakdirkan pada diri kita,’’ kata Kunni. 

Sementara itu, Cici juga menyampaikan peran orang tua, mak dan ayah sangat penting di dalam film Laila maupun The Other Daughter. Kedua film itu, dengan kisah yang miris karena peran orangtua tidak berjalan dengan baik dan seimbang sehingga anak menjadi korban dan harus sendirian menyelesaikan persoalan pada dirinya.

‘’Peran orang tua sangat penting. Inilah yang Saya tangkap dalam film Laila dan The Other Daughter. Karena tidak adanya peran itu, anak yang hancur. Laila harus ikuta tantenya dan dipaksa nikah muda. Vala dengan segala kesakitannya bahkan sampai benci dengan ibunya, juga karena peran ayah yang tidak ada dan ibu tidak hadir tepat waktu saat diperlukan,’’ kata Cici pula. 

Nonton bareng tiga film dokumenter ini juga diwarnai dengan sharing pengalaman dan pendapat antara pembincang dan peserta bahkan penaja acara.(*)