Kepala Bahasa Riau: 48 Buku Cerita Anak Dwibahasa dari Riau Tahun 2025 Lahir dari Kegelisahan

Kamis, 06 November 2025

Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Dr. Umi Kulsum, S.S, M.Hum (jilbab kuning muda) di antara penulis dan tamu undangan foto bersama sebelum kegiatan Diseminasi Buku Cerita Anak Dwibahasa, Kamis (6/10/2025) di Pekanbaru. FOTO IST

PEKANBARU (Sunting.co.id) - Balai Bahasa Provinsi Riau menggelar Diseminasi Buku Cerita Anak Dwibahasa, Kamis (6/10/2025) di Kota Pekanbaru. Ada 48 buku cerita dwibahasa tahun 2025 dari Riau yang diluncurkan dan berasal dari tiga lokus, yakni Pekanbaru, Dumai dan Pelalawan. Buku ini lahir dari pelatihan yang diikuti oleh 30 peserta. Dari 30 peserta tersebut, hanya 15 buku yang diambil setelah melalui proses kurasi.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau,  Dr. Umi Kulsum S.S, M.Hum, mengatakan, program lahirnya buku-buku dwibahasa ini bermula dari kegelisahan yang panjang tentang penggunaan bahasa lokal atau Bahasa Melayu Riau saat ini, khususnya di kalangan remaja. 

‘’Berdasarkan indeks kebahasaan, hanya 40 persen remaja di Riau yang menggunakan Bahasa Melayu. Selebihnya menggunakan Bahasa Indonesia atau mungkin bahasa asing. Ini cukup memprihatinkan dan ini menjadi salah satu dasar mengapa program buku cerita anak dwibahasa ini lahir,’’ kata Umi.

Umi juga menjelaskan, program ini juga sebagai upaya pendokumentasian berbagai kearifan lokal, sejarah, flora, fauna dan pahlawan atau tokoh-tokoh penting di daerah melalui cerita. Diakui Umi, tingkat rendahnya literasi di Riau, salah satunya juga disebabkan kurangnya buku bacaan atau buku cerita. Ini menjadi sebab yang lebih menguatkan lagi mengapa program ini harus dilaksanakan.

‘’Banyak kearifan lokal, tradisi lisan, sejarah, pahlawan atau tokoh-tokoh penting, flora, fauna dan banyak lainnya di daerah yang belum terdokumentasi. Buku cerita anak dwibahasa ini sebagai upaya pendokumentasian. Dari pelatihan yang kita laksanakan, peserta cukup antusias. Tapi kita hanya bisa mengambil 15 buku terpilih setelah melalui proses kurasi. Tingkat rendahnya lliterasi di Riau salah satunya juga disebabkan minimnya buku bacaan. Upaya pendokumentasian dan peningkatan literasi ini juga menjadi sebab atau latar belakang mengapa program ini lahir,’’ sambung Umi.

Upaya penyediaan buku cerita anak dwibahasa ini diharapkan bisa bermanfaat secara lebih luas bagi masyarakat serta sebagai upaya menyambut lahirnya generasi-generasi emas berikutnya. Apalagi, kata Umi, di dalam buku ini mengandung banyak hal, seperti pengetahuan, budaya, seni, sosiologi, matematika dan sebagainya.
Kegiatan diseminasi ini dimulai sejak pagi, diikuti para penulis dan pimpinan komunitas sastra di Riau. Diawali dengan simbolisasi peluncuran buku Cerita Anak Dwibahasa dari Riau, Gelar Wicara proses kreatif buku-buku tersebut serta tanya jawab dari seluruh peserta. 

Gelar Wicara yang mengusung tema ‘’Buku Cerita Anak Dwibahasa sebagai Sarana Pembentukan Karakter di Bumi Lancang Kuning’’ ini menghadirkan tiga narasumber. Selain Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, juga ada ada Dr. Dian Sundaryuni Kurnia, M.Hum dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Jawa Barat serta Syaiful Anwar dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau.(*)